0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
518 tayangan22 halaman

Analisis Novel Siti Nurbaya Indriani-1

Diunggah oleh

Citra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
518 tayangan22 halaman

Analisis Novel Siti Nurbaya Indriani-1

Diunggah oleh

Citra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
Anda di halaman 1/ 22

ANALISIS NOVEL SITI NURBAYA

KARYA MARAH RUSLI

DISUSUN OLEH:

NAMA : INDRIANI

KELAS : XII IPS

TUGAS : BAHASA INDONESIA

PEMBIMBING : FARIDAH, S.Pd,M.Pd


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan
karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Resensi Novel ini yang berjudul
“Siti Nurbaya” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.Resensi ini dibuat sebagai tugas
Bahasa Indonesia sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Nasional dari Ibu Faridah
S.Pd,.M.Pd. Dalam kesempatan ini tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada ibu Faridah
S.Pd,.M.Pd. selaku guru Bahasa Indonesia yang telah membantu sayadalam menyelesaikan
Resensi Novel ini. Mudah-mudahan Resensi Novel ini dapat bermanfaat, khususnya bagi saya
dan umumnya bagi pembaca. Namun saya menyadari dalam penyusunan ini saya masih banyak
kekurangan, karena dalampenyusunan Resensi ini saya masih dalam tahap pembelajaran. Untuk
itu sayamengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca, guna
menempuhkesempurnaan Resensi Novel ini.

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................................i

KATA PENGANTAR....................................................................................................................ii

DAFTAR ISI...................................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.....................................................................................................................1

B. Rumusan Masalah................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Novel..................................................................................................................2

B. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel...................................................................................3

C. Sinopsis................................................................................................................................4

D. Analisis Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Karya....................................................................5

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan..........................................................................................................................17

B. Saran.....................................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

BIOGRAFI PENULIS

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karya sastra merupakan hasil rekaan yang di ciptakan oleh sastrawan melalui imajinasinya,
walaupun karya sastra yang diciptakan merupakan imajinasi atau khayalan pengarang yang tinggi, tetapi
karyanya tetap bersumber pada kehidupan. Sastrawan merupakan anggota masyarakat yang terikat oleh
status sosial, oleh karena itu karya yang dihasilkan juga menggambarkan kehidupan masyarakat
dilingkungannya. Menurut Aristoteles dalam Nurgiantoro (1998: 7), sastra merupakan merupakan
perpaduan antara mimetik dan kreasi, khayalan dan realitas. Mimetik memberikan pemaknaan bahwa
sastra merupakan peniruan atau pencerminan terhadap realitas kehidupan. Sebagai hasil dari proses
kreatifitas, karya sastra merupakan hasil perenungan dari objek realitas yang dianggat menjadi karya.
Pada intinya sebuah proses kreasi merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakan diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa Pengertian Novel


2. Apa Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Siti Nurbaya yang kita Analisis karya Marah Rusli

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Novel

Kalau berdasarkan KBBI V,novel memiliki definisi sebuah karya prosa yang panjang,yang mengandung
rangkaian cerita seseorang denganorang di sekelilingnya, denganmenonjolkan watak dan sifat setiap
pelaku. Rangkaian cerita ini dibangun melalui masalah atau konflik yang dihadapi tokoh dalam cerita,
Adapun beberapa pendapat para ahli sebagai berikut :

1. Nurgiyantoro

Siapa sih yang tidak kenal dengan novel? Tidak perlu melihat kamus tentang pengertian novel
pun, Anda sudah tahu maksud dari kata novel itu sendiri. Namun tidak ada salahnya jika kita mengetahui
pengertian novel menurut beberapa tokoh. Salah satunya menurut Nurgiyantoro yang mengartikan bahwa
novel adalah karya prosa fiksi yang dikemas tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu pendek.

2. Sayuti

Lebih spesifik, Sayuti mengartikan novel berbeda dengan cerpen. Dimana cerpen lebih
memfokuskan pada intensitasnya. Dari segi sifat, cerpen bersifat implisit dan sekedar menceritakan
sebuah kisah yang pendek. Sedangkan novel lebih memfokuskan pada sifat yang sifatnya holistik dan
memfokuskan pada kemungkinan munculnya complexity. Complekcity adalah kemampuan dalam
menyampaikan konflik secara dalam, menyeluruh.

3. Nurhadi & Dawud

Tidak akan habis mendefinisikan tentang novel. Bahkan semua orang bisa saja mengartikan
sesuai dengan pengalaman dan apa yang mereka rasakan. Salah satunya menurut Nurhadi dan Dawud
yang mendefinisikan novel sebagai bentuk karya sastra yang memuat nilai-nilai budaya, moral,
pendidikan dan sosial. Tentunya semuanya memiliki peran yang tidak kalah penting.

4. Rostamaji

Dari perspektif lain tentang novel muncul dari pendapat Rostamaji, yang mana novel sebagai
karya sastra yang melibatkan dua unsur. Yaitu unsur Intrinsik dan ekstrinsik. Unsur ekstrinsik adalah
unsur yang membicarakan di luar unsur intrinsik. Unsur ekstrinsik meliputi beberapa unsur lainnya, yaitu
latar belakang penulisan novel, biografi pengarang, sejarah. Sedangkan yang dimaksud dengan unsur
intrinsik adalah unsur yang membicarakan tentang novel itu sendiri. Yang meliputi unsur intrinsik adalah
plot, penokohan dan lain sebagainya. Dimana dari kedua unsur tersebut memiliki kekuatan saling
memberikan timbal balik secara literasi

2
B. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

 Unsur Intrinsik

1. Tema

Tema adalah pokok permasalahan yang ada dalam suatu cerita dalam sebuah karangan novel yang
sudah dibuat para pengarang.

2. Penokohan

Penokohan adalah pemberian watak atau karakter pada masing-masing pelaku dalam sebuah
cerita.

3. Alur

Alur adalah rangkaian-rangkaian kejadian yang menjadikan jalannya sebuah cerita dalam sebuah
karangan novel. Alur dibagi menjadi dua yaitu alur maju dan alur mundur.

4. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah penggambaran dan penghidupan cerita agar lebih indah.

5. Latar

Latar adalah penggambaran terjadinya sebuah kejadian dalam suatu cerita yang mencakup waktu,
tempat, dan suasana.

6. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah penempatan diri pengarang dan cara pengarang dalam melihat kejadian
atau peristiwa dalam cerita yang dijelaskan untuk para pembaca.

7. Amanat

Amanat adalah pesan yang diberikan, yang ada dalam sebuah cerita suatu karangan novel.

3
4

 Unsur Ekstrinsik Novel

1. Sejarah dan biografi pengarang

2. Situasi dan kondisi

3. Nilai-nilai dalam cerita seperti nilai moral, nilai sosial, nilai budaya, nilai estetika.

C. Sinopsis

Novel ini menceritakan kisah Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri yang sudah saling dekat sejak
dari sekolah rakyat.

Sitti Nurbaya diceritakan sebagai anak pedagang kaya Bagindo Sulaiman, dan Samsul Bahri
adalah anak Sutan Mahmud seorang Penghulu di Padang. Keduanya harus berpisah karena Samsul
Bahri harus melanjutkan sekolah dokter ke Jakarta.

Novel ini juga menghadirkan sosok Datuk Maringgih yang merupakan seorang kaya yang
kikir di Padang.

Datuk Maringgih melakukan tipu muslihat kepada Bagindo Sulaiman (ayah Sitti Nurbaya)
yang membuat ia jatuh miskin.

Datuk Maringgih awalnya meminjamkan uang kepada Bagindo Sulaiman yang kemudian
uang itu tidak dapat dikembalikan oleh Bagindo Sulaiman.

Datuk Maringgih akhirnya mengadukan hal itu kepada Belanda agar Baginda Sulaiman
dipenjarakan.

Dengan kepiawaiannya, Datuk Maringgih memberikan pilihan kepada Bagindo Sulaiman


supaya tidak dipenjara dengan syarat Sitti Nurbaya dapat diperistri oleh Datuk Maringgih.

Diceritakan bahwa Sitti Nurbaya rela menikah dengan Datuk Maringgih tanpa paksaan dari
Baginda Sulaiman.

Mendengar pernikahan tersebut, Samsul Bahri sangat kecewa. Bahkan, Samsul Bahri nekad
bunuh diri.

Akan tetapi, rencana itu dapat digagalkan oleh seseorang. Disisi lain, Sutan Mahmud (ayah
Samsul Bahri) di Padang telah mendengar bahwa Samsul Bahri telah meninggal karena bunuh diri.

Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya Samsul Bahri memutuskan untuk menjadi opsir Belanda.

Dalam penugasannya, ia dikirim ke Padang untuk memadamkan suatu pemberontakan di


sana. Di medan inilah Samsul Bahri akhirnya bertemu dengan pemberontak yang dikepalai oleh
Datuk Maringgih.
5

Dikisahkan Datuk Maringgih akhirnya menginggal dunia dalam pertempuran ini begitu pula
dengan Samsul Bahri yang meninggal setelah berada di rumah sakit.

Hal mencengangkan lainnya adalah bahwa Sitti Nurbaya telah lama meninggal dunia karena
diracun oleh Datuk Maringgih.

Sampai sekarang di Gunung Padang ada lima kuburan yang berjejer. Kuburan itu adalah kuburan
Bagindo Sulaiman, kuburan Sitti Nurbaya, kuburan Samsul Bahri, kuburan Sitti Maryam (ibu Samsul
Bahri), dan kuburan Sutan Mahmud (ayah Samsul Bahri).

D. Analisis Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Karya

 Unsur Intrinsik

A. Tokoh dan Penokohan

1. Samsul Bahri

Ia sebagai pelaku utama (Tokoh Protagonis) dan merupakan Anak Sultan Mahmud Syah
(penghulu di Padang), wataknya:

· Orangnya pandai

“……Oleh sebab ia seorang anak yang pandai..”

· Tingkah lakuya sopan dan santun

“…Ia bukannya seorang anak yang pandai saja,tingkah lakunya pun baik tertib,sopan
santun,serta halus budinya…”

· Halus budinya.

“…Ia bukannya seorang anak yang pandai saja,tingkah lakunya pun baik tertib,sopan
santun,serta halus budinya…”

· Pemberani

“…Tidaklah ia takut menguji kekuatan dan keberaniannya dengan siapa saja…”

· Dapat dipercaya

“…Lagi pula ia lurus hati dan boleh dipercaya”)

2. Siti Nurbaya

Ia sebagai pelaku utama (Tokoh Protagonis) dan merupakan Anak Baginda Sulaeman
(saudagar kaya di Padang), wataknya:
6

· Baik

“..Ah,jangan sam. Kasihanilah orangtua itu! Karena ia bukan baru sehari dua hari bekerja
pada ayahmu, melainkan telah bertahun-tahun…"

· Tertib dan sopan

“….Anak ini pun seorang gadis,yang dapat dikatakan tidak bercacat,karena bukan
rupanya saja yang cantik tetapi kelakuan dan adatnya, tertib dan sopannya, sertakebaikan
hatinya,tiadalah kurang daripada kecantikan parasnya..”

· Cerdik dan pandai

“…Oleh sebab ia anak seorang yang kaya dan karena ia cerdik dan pandai”

3. Datuk Maringgih

Ia sebagai pelaku utama (Tokoh Antagonis) dan merupakan Laki-laki yang berwatak:

· Kikir

“..,ia amat sangat kikir…”

· Kasar dan Bengis

“..,adat dan kelakuanya kasar dan bengis,..”

4. Sultan Mahmud Syah

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis) dan merupakan Ayahnya Samsul Bahri
yang berwatak:

· Pandai berterima kasih

“…Hamba banyak meminta terima kasih kepada Engku Datuk, sebab percaya pada
hamba;tetapi utang harus ada….”

· Baik

“..tingkah lakunya pun baik;penyayang kepada anak buahnya,serta adil dan lurus dalam
pekerjaanya…”

· Adil

“..tingkah lakunya pun baik;penyayang kepada anak buahnya,serta adil dan lurus dalam
pekerjaanya…”

· Jujur

“..tingkah lakunya pun baik;penyayang kepada anak buahnya,serta adil dan lurus dalam
pekerjaanya…”
7

· Penyayang

“..tingkah lakunya pun baik;penyayang kepada anak buahnya,serta adil dan lurus dalam
pekerjaanya…”

5. Siti Maryam

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis), berwatak: Bijaksana, sopan, ramah, adil,
penyayang.

6. Baginda Sulaeman

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis), berwatak: Bijaksana,sopan, ramah, adil,


penyayang.

7. Zainularifin

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis), Ia temannya Samsul Bahri yang


berwatak:

· Suka tidur

“Sebab aku memang seorang yang suka tidur,..”

· Suka mengolok-olok

“Memang kau tukang olok-olok; patut jadi alan-alan,” jawab Nurbaya sambil tertawa
pula.”

· Jahil

“..,sebab ia dapat pula mengganggu sahabatnya ini.”

8. Bakhtiar

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis), temannya Samsul Bahri yang berwatak:

· Suka makan

“Kalau aku,barang kali ku makan buah itu,” kata Bakhtiar mencampuri perbincangan
ini.”

· Suka mencampuri urusan orang

“Kalau aku,barang kali ku makan buah itu,” kata Bakhtiar mencampuri perbincangan
ini.”
8

9. Alimah

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis), saudaranya Siti Nurbaya, yang bewatak
lemah lembut, santun setiakawan, bijaksana.

10. Pak Ali

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis) wataknya:

· Baik

“Pada air mukanya, nyata kelihatan, bahwa ia seorang yang lurus hati dan baik budi,
walaupun ia tiada remaja lagi.”

· Jujur

11. Pendekar Tiga

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Antagonis)

12. Pendekar Empat

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Antagonis)

13. Pendekar Lima

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Antagonis)

14. Dokter

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis)

15. Putri Rubiah

Ia sebagai pelaku tambahan (Tokoh protagonis) adalah ibu dari Rokiah wataknya:

 Dengki

“..,terbayang tabiatnya yang kurang baik,yaitu dengki dan bengis.”

 Bengis

B. Latar

Latar atau Seting ini terdiri atas tiga bagian yaitu :


9

1. Latar Waktu

· Pukul satu siang

“…..pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda…”

· Setengah dua

“….sudah setengah dua…”

· Pukul setengah tujuh

“….kira kira pukul setengah tujuh, petang berebut senja…”

· Petang

“…petang berebut senja…”

· Senja

“…petang berebut senja…”

· Siang

“…siang hampir akan hilang,…”

· Malam

“….malam akan hampir datang..”

· Dua belas jam

“….yang dua belas jam menjadi….”

· Pukul dua malam

“….karena hari telah pukul dua malam, bertambah pilu….”

· Saptu

“.. hari saptu yang akan datang…”

· Sepuluh tahun

“..sepuluh tahun lamanya aku menanggung…..”

· Siang hari

“….kaum muslimin boleh makan siang hari dipuas-puaskan….”


10

· Lima belas tahun

“…dihukum buang dalam rantai lima belas tahun lamanya…”

· Pukul sepuluh

“..kira kira pukul sepuluh, cuaca yang terang itu ….”

2. Latar Tempat

· Bawah pohon ketapang

“…..dibawah pohon ketapang yang rindang…”

· Muka sekolah Belanda Pasar Ambacang

“….dimuka sekolah Belanda Pasar Ambacang, di Padang …..”

· Padang

“….sekolah Belanda Pasar Ambacang, di Padang, seolah olah …..”

· Pasar Kampung Jawa

“…menuju ke Pasar Kampung Jawa. …”

· Jalan

“.. kecelakaan di tengan jalan. Kasihan..”

· Rumah

“….pulang ke rumah ; barang….”

· Kampung Jawa Dalam

“… pulang ke rumahnya di Kampung Jawa Dalam….”

· Gunung Padang

“…..akan pergi esok hari ke Gunung Padang….”

· Pekarangan Rumah si Sam

“….masuk ke dalam pekarangan rumah si Sam yang letaknya….”

· Bawah pohon kayu

“… Di bawah pohon kayu, kedengaran kumbang….”


11

· Puncak Gunung

“.. dari puncak gunung yang tinggi, perlahan….’

· Tepi Laut

“… di tepi laut kota Padang….”

· Dahan Kayu

“…dan bersuitlah burung di dahan kayu alamat hari akan siang….”

· Kampung belantung

“… dirumah saudara sepupunya Sitti Alimah, di kampung Belantung..”

· Tempat tidur

“…dan memimpinnya ke tempat tidurnya..”

· Kubur

“…selamat mereka di dalam kubur! ….”

· Jakarta

“…ia mau membawa engkau ke Jakarta….”

· Pelabuhan Teluk Bayur

“… Letnan Mas ke Pelabuhan Teluk Bayur, turunlah..”

· Muara

“…berangkat menuju ke Muara….”

· Batang Arau

“……Di Batang Arau kelihatan berpuluhg-puluh sampan…”

· Rumah Orang tua

“…lalu pulang tergesa gesa ke rumah orang tuanya…”

· Bilik

“..masuklah ia ke dalam biliknya..”

· Langgar dan mesjid

“….kedengaranlah orang bang dilanggar dan mesjid…..”


12

· Sumatra Barat

“….yang asalanya dari Sumatra Barat….”

· Tengah lautan

“…karena kapal waktu itu jauh di tengah lautan ….”

· Sawah Lunto

“……lamanya ke Sawah Lunto…”

· Serambi muka

“…lalu pergi duduk di serambi muka, karena kalah…”

· Rumah Baginda Sulaiman

“….pergi ke rumah Baginda Sulaiman….”

· Pekarangan rumah

“…masuklah mereka ke pekarangan rumah ini…”

· Pelimbahan

“….sebagai melemparkan sampah ke pelimbahan…”

· Indonesia

“…. Di Indonesia ini pada sangkaku…”

· Alang Lawas

“…pergi kerumah saudaranya di Awang Lawas ….”

· Padang Panjang

“….berangkatlah ia tiga hari kemudian ke Padang Panjang, ke rumah…”

· Sekolah

“…kalau tiada di sekolah?...”

· Payakumbuh

“…Di Payakumbuh, jawab..”

· Jalan Raya

“…siang malam di jalan raya penuh orang…”


13

· Bogor

“….Tetapi istana yang sebenarnya ada di Bogor, karena hawa..”

· Tanjung Periuk

“..walaupun tak ada ia di Tanjung Periuk, tak mengapa…”

· Kapal

“…di kapal itulah saja kehidupan…”

· Kantor Asisten Residen

“…. pergi ke kantor Asisten Residen, menanyakan…”

3. Latar Suasana

· Sunyi senyap

“…seperti tempat yang sunyi senyap yang ….”

· Ramai

“….Kota yang ramai tadi menjadi….”

C. Alur (Plot)

Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai
berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai
penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi:

Mulai melukiskan keadaan (situation):

Saat ayah siti Nurbaya masih sukses. Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-
kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa,
ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya.

Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal
usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih.)

Peristiwa-peristiwa mulai bergerak (generating circumtanses):

Datuk Maringgih mulai culas. Pada mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman
mendapat kemajuan pesat. Hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk Maringgih. Maka
untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar
semua kios milik Baginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia
jatuh miskin dan tak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah
kesempatan yang dinanti-nantikannya. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah
tak mampu agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap lunas, asalkan
14

Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada Datuk Maringgih untuk di
jadikan sebagai istri mudanya.)

Keadaan mulai memuncak (rising action):

Samsulbahri mengetahui nasib Siti Nurbaya. Siti Nurbaya menangis menghadapi


kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih
yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat
Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun
demi keselamatan dan kebahagiaan ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya.
Samsulbahri yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebih karena
Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya dan
itu menjadi surat terakhir yang dikirim oleh Siti Nurbaya.)

Mencapai titik puncak (klimaks)

Samsulbahri dan Datuk Maringgih saling bunuh. Sepuluh tahun kemudian, dikisahkan
dikota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan
orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim untuk melakukan
pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota
Padang. Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang
lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih jatuh tersungkur, namun sebelum tewas ia
sempat membacok kepala Samsulbahri dengan parangnya.)

Pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement)

Setelah membunuh Datuk Maringgih, Samsulbahri pun akhirnya tewas tanpa


mendapatkan gadis pujaannya Siti Nurbaya. Samsulbahri alias Letnan Mas segera dilarikan ke
rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta dipertemukan dengan
ayahandanya. Tetapi ajal lebih dulu merenggut sebelum Samsulbahri sempat bertemu dengan
orangtuanya dan Siti Nurbaya yang telah mendahuluinya dan ahkirnya ia pun dikuburkan
disamping makam ibunya dan siti nurbaya.)

D. Sudut Pandang (Point of View)

Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita.
Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita
dengan sudut pandang "aku"), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang
campuran.

Sudut Pandang dalam Novel : sudut pandang orang ke-3.

E. Gaya Bahasa

1. Asosiasi

Asosiasi adalah perbandingan dua hal yang hakikatnya berbeda tapi di anggap sama.
Majas ini di tanda dengan : bagai, bagaikan, seumpama, seperti.
15

Contoh: Bagai ayam hilang induknya, bagai melihat anjing yang mencuri tulang

2. Metafora

Metafora adalah majas perbandingan yagn diungkapkan secara singkat dan padat.

Contoh: Sekarang bolehkah kita berkecil hati ?

3. Personifikasi

Personifikasi adalah majas perbandingan yang membandingkan benda-nema tidak


beryawa seolah-olah memiliki sfat-sifat manusia.

Contoh: Menyambut kedatangan cahaya matahari

4. Hiperbola

Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan


maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan daya penagaruh.

Contoh: Perubahan mukanya mukanya yang menjadi kaca hatinya.

5. Pleonasme

Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud
untuk menegaskn arti suatu kata.

Contoh: Di timpa embun pagi.

F. Tema

Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat
berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat
memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.

Tema Novelnya adalah kisah cintayang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia
yaitu Siti Nurbaya dan Samsulbahri.

G. Amanat

Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif
maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang
berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.

Amanat yang terkandung dalam Novel:

· Rela berkorban demi orang tua.

· Cinta yang murni tak akan hilang sampai mati.

· Lintah darat merupakan sumber malapetaka bagi kehidupan keluarga.


16

· Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana

· kebenaran sesungguhnya di atas segala-galanya.

 Unsur Ekstrinsik

Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak
langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur ekstrinsik karya sastra
antara lain sebagai berikut.

1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.

Keadaan Subjektivitas: pengarang berusaha melakukan inovasi baru, dengan menggebrak


Sastra Indonesia Modern dengan melncurkan novel ini dengan gaya bahasa sendiri. Pandangan
hidup penulis adalah pandangan hidup ke depan dan penuh inovasi baru. Dan juga tak terpaut
juga terkekang dengan adat istiadat lama.

2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya.

Psikologi pengarang: merasa terkekang dengan adat istiadat lama, dan melakukan
terobosan dengan mengarang buku novel, “Siti Nurbaya”.

3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.

Keadaan yang terjadi: masih terkekang dalam kehidupan adat istiadat yang masih kuno,
baik dari segi ekonomi, politik dan sosialnya. Lalu pengarang berusaha membuat terobosan baru
dengan karyanya.

4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.

Pandangan yang terjadi: pada saat itu pandangan karya seni cenderung monoton,
dan gaya bahsanya hanya itu saja, jadi Marah Rusli membuat gebrakan dengan
memunculkan gaya bahasa Melayu.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli mengenai
perubahan sikap tokoh Samsul Bahri diperoleh hasil sabagai berikut. Samsul Bahri adalah tokoh utama
dalam novel Siti Nurbaya. Samsul Bahri awalnya adalah pemuda yang patuh, santun, baik dan
penolong. Tetapi setelah berpisah dan kehilangan kekasih dan ibunya ia menjadi orang yang mudah
putus asa, pendendam, pembunuh dan berusaha bunuh diri. Selain itu, ia menghianati bangsa sendiri
dengan menjadi serdadu belanda dan memerangi serta menjajah bangsa Indonesia, khususnya Padang,
kampong halaman sendiri.

Perubahan sikap Samsul Bahri terjadi karena kehilangan orang-orang yang sangat di cintainya.
Rasa cinta yang sangat dalam dan kasih yang tak sampai sehingga membuat ia menjadi dendam dan
putus asa. Tapi dendam yang semakin menghancurkan hidupnya dan hidup dalam penderitaan. Cobaan
demi cobaan terus mendatangi hidupnya. Cobaan yang semakin berat tidak mampu dihadapinya
sehingga lebih memilih mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri. Perubahan sikap yang terjadi pada
Samsul Bahri lebih banyak kearah negatif. Perubahan tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu, faktor
intern dan faktor ekstern. Faktor yang lebih dominan mempengaruhi perubahan sikap Samsul Bahri
adalah faktor intern, karena perubahan itu terjadi di dalam pribadi Samsul Bahri. Pembentukan sikap
Samsul Bahri yang lebih banyak berperan adalah ego karena Samsul Bahri tidak bisa mengontrol
emosi serta tidak bisa menerima kenyataan yang ada.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat di sarankan hal-hal sebagai

berikut:

1. Bagi pembaca, dengan adanya penelitian ini semoga dapat memberikan

sumbangan ilmu bagi perkembangan bahasa dan sastra sehingga dapat di

gunakan sebagai landasan untuk penelitian selanjutnya.

2. Bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

pertimbangan dalam penelitian karya sastra lain.

17
DAFTAR PUSTAKA

http://zukerahma.blogspot.com/2011/12/unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-novel.html?m=1

https://www.kakakpintar.id/analisis-unsur-intrinsik-novel-siti-nurbaya/

https://tirto.id/sinopsis-novel-sitti-nurbaya-karya-marah-rusli-glvi

https://m.merdeka.com/sumut/unsur-ekstrinsik-novel-dan-intrinsiknya-lengkap-dengan-pengertian-dan-
contoh-kln.html

Repo skip pgri sumer web


BIOGRAFI PENULIS

BIOGRAFI INDRIANI
Namanya adalah Indriani, lahir di Maros, 20 November 2003. Ia adalah anak ketiga dari enam
bersaudara, buah dari pasangan Nasaruddin dan Suryani. Indri adalah panggilan akrabnya, ia
terlahir dari keluarga sederhana. Sejak kecil, dia selalu dinasehati untuk selalu rajin belajar,
berperilaku baik kepada semua orang. Ketika berumur 7 tahun Ia bersekolah di SDN 34 Pakere,
kemudian setelah lulus Ia melanjutkan ke SMPN 23 Simbang. Selepas lulu SMP pada tahun 2019,
Ia melanjutkan pendidikannya di SMA Nasional Maros, dan saat ini ia masih duduk di bangku
SMA kelas XII dengan jurusan IPS.

Anda mungkin juga menyukai