Membangun Sikap Khauf dan Rajâ’
(Disampaikan dalam Pengajian Rutin Ahad Malam, “Baitul Hikmah”, dengan Tema: Tazkiyatun
Nafs, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, 17 November 2013)

Iftitâh
Tak bisa dipungkiri, bahwa perjalanan hidup seseorang selalu diliputi oleh dua
hal yang silih-berganti: “kegembiraan dan kesedihan”. Gembira karena mendapatkan
sesuatu yang diharapkan, dan sedih di saat tidak atau belum mendapatkan sesuatu yang
diinginkan. Semua orang memiliki sejumlah harapan. Tetapi, tidak semua yang
diharapkan pada akhirnya diperolehnya, dan bahkan – dalam banyak hal – mengalami
sejumlah kegagalan.
Berkaitan dengan perjalanan hidup setiap orang, para ulama menyatakan bahwa
terdapat dua hal dalam sisi spiritualitas seorang muslim yang harus dijaga
keseimbangannya. Kedua hal tersebut adalah: “ketakutan dan kekhawatiran atas siksa
atau azab Allah sebagai akibat dari perbuatan dosanya, yang dikenal dengan istilah
Khauf, dan pengharapannya atas kemurahan, pengampunan dan kasih sayang Allah yang
disebut dengan Rajâ’.
Makna Khauf dan Raja’
Konsep Khauf1 dan Raja’ dalam dunia spiritualitas dianggap sebagai salah satu
bagian dari al-ahwâl2 (kondisi-kondisi; mufradnya: “al-hâl”) yang harus dilalui atau
1 Ada kata lain yang dipakai oleh para sufi untuk menyebut perasaan takut, disamping khauf,
yaitu: khasyyah. Khasyyah ialah rasa takut yang dilatarbelakangi pengetahuan terhadap kebesaran Dzat yang
ditakutinya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam QS Fâthir/35: 28,

ٌ ُ َ ٌ ِ َ َ ّ ّ
‫( نما يخشى الله من عباده العلماء إ ِن الله عزيز غفور‬sesungguhnya yang takut kepada Allah di antar hambaُۗ َ َ ُ ْ ِ ِ َ ِ ْ ِ َ ّ
َ ْ َ َ ّ
hamba-Nya, hanyalah para ulama); yang dimaksud dengan orang yang memiliki sikap khasyyah adalah orang
yang mengerti akan keagungan Allah dan kesempurnaan kekuasaan-Nya.
2 Ahwâl adalah bentuk jama’ dari ‘hâl’ yang biasanya diartikan sebagai ‘keadaan mental’ atau
‘mental states’ yang dialami para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. Ibnu ‘Arabi menyebutkan hâl
sebagai sifat yang dimiliki seorang sâlik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti ‘isyq
dan fanâ. Eksistensinya bergantung pada sebuah kondisi, ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi
ada. Hâl adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dan dipahami, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang
mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata. Ahwâl sering diperoleh secara

1

ِ
dialami orang yang menapak jalan menuju Allah. Keseimbangan secara proporsional ini
diperlukan agar seseorang tidak tenggelam dalam satu kutub esktrem, Khauf atau Raja’
saja.
Secara etimologi, khauf berasal dari bahasa arab yang berarti ketakutan. Khauf
adalah kata benda yang memiliki arti ketakutan atau kekhawatiran. Khawatir sendiri
merupakan kata sifat yang bermakna takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang
belum diketahui dengan pasti. Sedangkan takut adalah kata sifat yang memiliki beberapa
makna seperti, merasa gentar menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan
bencana. Jadi khauf berarti perasaan gelisah atau cemas terhadap suatu hal yang belum
diketahui dengan pasti. Adapun secara terminologi, khauf : “sikap mental merasa takut
kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya, takut atau khawatir kalau-kalau
Allah tidak senang padanya”. Khauf timbul karena pengenalan dan cinta kepada Allah
yang mendalam sehingga ia merasa khawatir kalau Allah melupakannya atau takut
kepada siksa Allah.
Ibn Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa takut kepada Allah SWT itu hukumnya
wajib. Karena takut kepada Allah itu dapat mengantarkan hamba untuk selalu beribadah
kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan. Siapa yang tidak takut
kepada-Nya, berarti ia seorang pendosa, pelaku maksiat. Karena tidak takut kepada
Allah, koruptor semakin merajalela, semakin serakah, dan tidak lagi memiliki rasa malu.
Khauf dapat diumpamakan seperti kondisi yang dirasakan oleh seorang yang
sedang dikejar-kejar musuh, sehingga dia tidak berani bergerak dan bersuara di tempat
persembunyiannya. Demikianlah kira-kira rasa khauf yang dirasakan seorang muslim
saat mengingat dosa-dosanya yang demikian banyak sehingga seakan-akan azab api
neraka sudah ada di depan matanya dan hampir pasti membakarnya. Saat mengingat
bahwa dia pernah memakan makanan yang haram (mencuri atau korupsi) maka dia
menyadari bahwa makanan yang telah menjadi darah dan daging dalam tubuhnya tidak
akan bersih kecuali dibakar dengan api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hâl adalah anugerah.
Beberapa ulama mengatakan bahwa hâl adalah sesuatu yang tidak diam dan tidak mengikat atau dinamis.
Al-Ghazali yang memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan
menetap dalam suatu maqâm (posisi spiritual. Maqâm (jama’: maqâmât) berarti tempat orang berdiri atau
pangkal mulia. Istilah tersebut kemudian digunakan dalam arti jalan panjang yang harus ditempuh oleh
seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqâmât dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah stages
yang berarti tangga) ia akan memeroleh suatu perasaan tertentu, dan itulah hâl.

2
« ،‫يا كعب بن عجرة الصل َة برهان، والصوم جنّة حصينَة‬
ٌ ِ َ ٌ ُ ُ ْ ّ َ ٌ َ ْ ُ ُ ّ
َ َ ْ ُ َ ْ َ ْ َ َ

َ‫والصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار، يا كعب‬
ْ َ َ َ ّ ُ َ ْ ُ ِ ْ ُ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ ُ َ َ ّ َ

ُ ّ ِ َ َ
‫بن عجرة، إِنه ل َ يربو لحم نبت من سحت إ ِل ّ كانت النار‬
ٍ ْ ُ ْ ِ َ ََ ٌ ْ َ ُْ َ ُ ّ َ َ ْ ُ َ ْ

ِ ِ َْ
‫.» أ َولى به‬
“Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, shalat merupakan tanda keimanan, puasa ialah perisai yang kokoh, serta
sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah,
siapa pun hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka neraka lebih pantas
baginya.” (Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Ka’ab bin ‘Ujrah, Sunan at-Tirmidzi, II/512,
hadits nomor 614; Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, V/344, hadits nomor 22960; AlHakim, Al-Mustadrak, IV/141, hadits nomor 7162, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabîr,
XIII/456, hadits nomor 15562 dan Al-Mu’jam Al-Ausath, II/139, hadits nomor 2730’
Al-Isybili, Al-Ahkâm asy-Syar’iyyah, III/346 dan Al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, VII/507,
hadits nomor 5378)."

3
Rajâ’ berasal dari kata rajâ -- yarjû – rajâ-an, yang berarti mengharap dan
pengharapan. Kata rajâ’ dalam al-Quran disebutkan -- misalnya -- dalam QS al-Baqarah,
2: 218 dan QS al-Ahzâb/33: 21,

ِ
‫إِن الذين آمنوا والذين هاجروا وجاهدوا في سبيل اللّه‬
ِ َِ
ِ
ُ َ َ َ
ُ َ َ َ ِ ّ َ
َُ َ ِ ّ ّ

ٌ ِ َ ٌ ُ َ ُ َ ِ ّ َ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ َِ ُ
‫أولئك يرجون رحمة الله واللّه غفور رحيم‬
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,
mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

‫لقد كان لكم في رسول الله أ ُسوَة حسنَة لمن كان‬
َ َ
َ ّ ٌ َ َ ٌ ْ
ِ ّ ِ ُ َ
ِ ْ ُ َ َ َ ْ َ َ
‫يرجو الله واليوم الخر وذكر الله كثيرا‬
ً َِ َ ّ َ َ َ َ َ ِ
َ ْ َْ َ َ ّ
ُ ْ َ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
Dalam kedua ayat tersebut, rajâ’ (pengharapan) atas rahmat Allah dinyatakan
oleh para mufassir begitu kuat pengaruhnya bagi setiap orang yang beriman.
Pengharapan itu menjadikan mereka rela hijrah, meninggalkan segala kesenangan dan
harta yang mereka telah miliki. Mereka tidak berkebaratan mengadu nyawa dengan
berjihad berperang melawan musuh-musuh mereka.
Rajâ’ merupakan sikap optimis total. Ibarat seorang pedagang yang rela
memertaruhkan seluruh modal usahanya karena meyakini keuntungan besar yang bakal
segera diraihnya. Ibarat seorang ‘pecinta’ yang rela memertaruhkan segala miliknya demi
menggapai cinta kekasihnya. Dia meyakini bahwa cintanya itulah bahagianya. Tanpanya,
hidup ini tiada arti baginya. Rajâ’ atau pengharapan yang demikian besar menjadikan
seseorang hidup dalam sebuah dunia tanpa kesedihan. Sebesar apa pun bahaya dan
ancaman yang datang tidak mampu menghapus ‘senyum’ optimisme dari wajahnya.

4
Gambaran Seseorang yang Berada dalam Khauf dan Rajâ’
Kondisi Khauf dan Rajâ’ sebagaimana disebut di atas tercermin dalam hadits
Nabi s.a.w., sebagai berikut:

« ‫لوْ يعلم المؤمن ما عند ا من العقوبة ، ما طمع بجنتِه‬
ِ َّ ِ َ ِ َ َ ِ َْ ُ ُ ْ َ ِ ِ َ ِْ َ ُ ِ ْ ُ ْ ُ َْ َ َ

َ‫أَحد ، ولو يعلم الكافر ما عند ا منَ الرحمة ، ما قنط‬
ََ َ ِ َ ْ ّ
ِ ِ َ ِْ َ ُ ِ َ ْ ُ َْ َ ْ ََ ٌ َ

ٌ َ ِ َِّ ْ ِ
‫.» من جنته أ َحد‬
"Seandainya seorang mukmin mengetahui siksa yang ada di si Allah, niscaya tidak ada seorang
mukmin pun yang menginginkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat
Allah, maka niscaya tidak ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surgaNya. (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Shahîh Muslim, VIII/97, hadits nomor
7155; At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, V/549, hadits nomor 3542; Ibnu Hibban, Shahîh
ibn Hibbân, II/56, hadits nomor 345; Al-Bazzar, Musnad al-Bazzâr, XV/83, hadits nomor
8331, Ath-Thabran, Al-Mu’jam al-Kabîr, XIX/229, hadits nomor 562 dan Al-Mu’jam alAusath, III/157, hadits nomor 2879; Al-Isybili, Al-Ahkâm asy-Syar’iyyah, III/270; AlBaihaqi, Syu’ab al-Îmân, II/315, hadits nomor 969)
Ketika seseorang berada dalam kondisi khauf, maka yang selalu terbayang
baginya adalah siksa dan azab Allah yang sangat pedih. Bagaimana tidak? Bukankah
hidup ini penuh dengan godaan dosa. Di setiap langkah, laku, dan ucapan, selalu saja
ada salah dan khilaf. Nikmat Allah berupa mata untuk melihat hanya pantas
memandang hal-hal baik. Manakala mata tersebut digunakan memandang hal yang

5
haram maka yang paling pantas untuknya adalah mengembalikan mata itu kepada Allah.
Telinga, tangan, kaki, dan segala organ tubuh yang Allah karuniakan kepada manusia
hanya diperuntukkan untuk melaksanakan ketaatan. Manakala digunakan untuk maksiat,
maka seseorang tidak berhak lagi atas segala karunia itu. Dan Allah ‘sangat’ berhak
untuk menyiksa siapapun yang menyalahgunakan nikmat dan karunia-Nya. Dalam
kondisi ini, tidak seorang pun yang boleh merasa aman dari siksa tersebut. Sebaliknya,
dalam kondisi rajâ’, seseorang dapat memastikan bahwa dia pasti mendapat rahmat,
kasih sayang, dan ampunan Allah. Bagaimana tidak? Padahal orang kafir pun,
sebagaimana hadits di atas, berhak untuk berharap masuk surga. Bahkan Allah melarang
siapa pun untuk berputus asa dari rahmat-Nya.
Allah berfirman dalam QS Yûsuf, 12: 87,

َ ُ ِ َ ْ ُ ْ َ ْ ّ ِ ّ ِ ْ َ ْ ِ ُ ْ َ ُ ّ
‫إِنه ل يايئس من روح الله إ ِل القوم الكافرون‬
“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang-orang kafir”.

Khâtimah
Ketika seseorang terlena dalam optimisme yang tinggi (rajâ’), dia tidak merasa
khawatir akan dosa-dosa yang telah, sedang, atau akan diperbuatnya. Baginya, ampunan
Allah demikian luas sehingga dia dapat bertaubat kapan saja. Dia akan merencanakan
taubat setelah puas melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, dalam keadaan khauf yang
berlebihan, hidup seseorang akan kacau dan tidak terkendali. Rasa bersalah dari dosa
besar yang telah dilakukannya menutupi harapannya untuk kembali ke jalan yang benar.
Dia merasa dan meyakini bahwa apapun kebaikan yang diperbuatnya tidak akan
sebanding dengan dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya. Akibatnya, dia tidak
segera bertaubat, namun terus menenggalamkan diri dalam kemaksiatan.
Yang layak bagi seorang muslim dan mukmin adalah menerima dan
mengembangkan konsep “keseimbangan spiritualitas”. Artinya, dia harus
menggabungkan antara Khauf dan Rajâ’ secara proporsional (dalam porsi yang benar
dan tepat). Dalam kondisi Khauf, dia meyakini betul akan siksa jika dia melanggar
aturan-aturan agama. Namun pada saat terlanjur dan tergelincir dalam dosa dan maksiat,
dia – dengan sikap Rajâ’-nya -- segera bertaubat dan yakin bahwa taubatnya akan
diterima. Optimisme atas kasih sayang dan ampunan Allah inilah yang bisa membuatnya
tersenyum di setiap saat. Namun takutnya kepada siksa atas dosa akan membuatnya
‘meneteskan air mata’ di tengah malam saat dia lakukan dzikrullâh, utamanya dalam
Qiyâm al-Lail.
Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb.
6
-muslim&catid=100:fiqh&Itemid=352)

7

More Related Content

PPTX
حقيقة الإيمان (Hakikat Iman)
PPTX
9.8.2012 hadis riwayah
PPTX
النكرة والمعرفة
PDF
HIJRAH: Berubah, Berpindah, Change, Inovasi
PPT
Kelompok 12 nabi musa
PPTX
PPT - MAD THABI'I DAN MAD FAR'I
PPT
(Silaturahmi) صِلَة الرَّحِم
حقيقة الإيمان (Hakikat Iman)
9.8.2012 hadis riwayah
النكرة والمعرفة
HIJRAH: Berubah, Berpindah, Change, Inovasi
Kelompok 12 nabi musa
PPT - MAD THABI'I DAN MAD FAR'I
(Silaturahmi) صِلَة الرَّحِم

What's hot (20)

PPTX
Keluarga sakinah mawaddah warahmah
PDF
Asmaul husna (ppt pai sma kelas x 2013)
PPTX
Materi power point belajar tajwid
PPTX
Berlomba dalam Kebaikan
PDF
KENABIAN DAN KERASULAN
PDF
Kultum : Khitbah dan Ta'aruf
PPTX
point mad.pptx
PPS
Sejarah, pola istinbath mazhab hanafi maliki
PPTX
Menjaga lidah
PPTX
Ustadz Felix Siauw - Beyond The Inspiration
PPTX
Makhorijul Huruf dan Sifatul Huruf
PPTX
Power point kd 3.6 jujur
PPTX
Makhorijul huruf
PPTX
Al-Qur'an dan Hadits sebagai pedoman manusia
PPTX
Tafsir ayat shalawat
PPTX
Menutup Aurat yang Benar - Sesuai Syariah .PPT
PPTX
Pergaulan remaja yang islami
PPTX
Pembagian Hadits Secara Umum Berdasarkan Kualitas dan Kuantitas Rawi
PPSX
AQIDAH ISLAM
PDF
Berkumpul disurga bersama keluarga
Keluarga sakinah mawaddah warahmah
Asmaul husna (ppt pai sma kelas x 2013)
Materi power point belajar tajwid
Berlomba dalam Kebaikan
KENABIAN DAN KERASULAN
Kultum : Khitbah dan Ta'aruf
point mad.pptx
Sejarah, pola istinbath mazhab hanafi maliki
Menjaga lidah
Ustadz Felix Siauw - Beyond The Inspiration
Makhorijul Huruf dan Sifatul Huruf
Power point kd 3.6 jujur
Makhorijul huruf
Al-Qur'an dan Hadits sebagai pedoman manusia
Tafsir ayat shalawat
Menutup Aurat yang Benar - Sesuai Syariah .PPT
Pergaulan remaja yang islami
Pembagian Hadits Secara Umum Berdasarkan Kualitas dan Kuantitas Rawi
AQIDAH ISLAM
Berkumpul disurga bersama keluarga
Ad

Viewers also liked (20)

PPTX
Ppt taubat dan raja
DOCX
Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada allah
PPTX
1.3 muqtadhal iman bil qur'an
PPTX
PPTX
1.5 syuruthul intifa' bil qur'an
PPTX
5 Karakter Kader Pilihan
PPTX
HADIS SEM 2 : HALAL DAN HARAM
PPTX
Urgensi Ilmu dalam Islam
PPTX
Keberanian dalam Islam
PPTX
Syirik
PPTX
GHIRAH DALAM AGAMA (غَيْرَةٌ فِي الدِّينِ)
PPTX
6.8 qabulul ibadah
PPTX
3.5 tauhidullah
PPTX
3.13 ma'iyyatullah
PPTX
3.10 mahabbatullah
PPTX
Tauhid vs Syirik
PPTX
Keseimbangan dalam Hidup Muslim (Tawazun)
PPTX
3.11 maratibul hubb
PPTX
Makna Hijrah dan Fungsinya dalam Dunia Modern
Ppt taubat dan raja
Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada allah
1.3 muqtadhal iman bil qur'an
1.5 syuruthul intifa' bil qur'an
5 Karakter Kader Pilihan
HADIS SEM 2 : HALAL DAN HARAM
Urgensi Ilmu dalam Islam
Keberanian dalam Islam
Syirik
GHIRAH DALAM AGAMA (غَيْرَةٌ فِي الدِّينِ)
6.8 qabulul ibadah
3.5 tauhidullah
3.13 ma'iyyatullah
3.10 mahabbatullah
Tauhid vs Syirik
Keseimbangan dalam Hidup Muslim (Tawazun)
3.11 maratibul hubb
Makna Hijrah dan Fungsinya dalam Dunia Modern
Ad

Similar to Membangun sikap khauf dan raja' (20)

PPTX
PPT pendidikan_AKHLAK_KEPADA_ALLAH_SWT.pptx
PPTX
KHAUF ( Takut Pada Allah )
PPTX
Khauf dan Raja'.pptx
PDF
ppt-cinta-khauf-roja-tawakkal-ikm-kelas-10-bab-7.pdf
PPTX
PPTX
Atthoriq Ilham Nur Wahid.pptx
PDF
Teks khutbah idul fitri, 1 syawwal 1436 h 01
PDF
PAI Kelas 10 SMA - Mahabbah, Khauf, Raja', dan Tawakkal Kepada Allah Swt
PDF
Menggapai ridho dan rahmat allah
PPTX
Nata'ijul Ibadah (Hasil dari Ibadah).pptx
PDF
Dosa yang harus (segera) dimohonkan ampunan
PDF
Kelompok 1 Pai 95.pdf
DOCX
Pengalaman batin, khouf, mahabbah, fana, ma;rifat
PPTX
ppt-cinta-khauf-roja-tawakkal-ikm-kelas-10-bab-7.pptx
PPTX
materi 10 pai 1.pptx
PDF
Ahwal - Akhlak Tasawwuf
PPTX
ppt akidah akhlak rizky.pptx
PPTX
membiasakan perilaku terpuji
PPTX
6.9 nata'ijul ibadah
PPT pendidikan_AKHLAK_KEPADA_ALLAH_SWT.pptx
KHAUF ( Takut Pada Allah )
Khauf dan Raja'.pptx
ppt-cinta-khauf-roja-tawakkal-ikm-kelas-10-bab-7.pdf
Atthoriq Ilham Nur Wahid.pptx
Teks khutbah idul fitri, 1 syawwal 1436 h 01
PAI Kelas 10 SMA - Mahabbah, Khauf, Raja', dan Tawakkal Kepada Allah Swt
Menggapai ridho dan rahmat allah
Nata'ijul Ibadah (Hasil dari Ibadah).pptx
Dosa yang harus (segera) dimohonkan ampunan
Kelompok 1 Pai 95.pdf
Pengalaman batin, khouf, mahabbah, fana, ma;rifat
ppt-cinta-khauf-roja-tawakkal-ikm-kelas-10-bab-7.pptx
materi 10 pai 1.pptx
Ahwal - Akhlak Tasawwuf
ppt akidah akhlak rizky.pptx
membiasakan perilaku terpuji
6.9 nata'ijul ibadah

More from Muhsin Hariyanto (20)

PDF
Khutbah idul fitri 1436 h
PDF
Pembahasan ringkas di seputar fidyah
PDF
Jangan pernah enggan memahami al quran-01
PDF
Istighfar, kunci rizki yang terlupakan
PDF
Etika dalam berdoa
PDF
Memahami ikhtilaf mengenai takbir shalat hari raya
PDF
Manajemen syahwat
PDF
Manajemen syahwat
PDF
10 hal penyebab doa tak terkabul
PDF
Khitan bagi wanita (01)
PPT
Strategi dakwah
PDF
Sukses karena kerja keras
PDF
Opini dul
PDF
Inspirasi dari kandang ayam
PDF
Tentang diri saya
PDF
Berbahagialah dengan cara membuang energi negatif dan menabung energi positif
PDF
Ketika kita gagal
PDF
Jadilah diri sendiri!
PDF
Gatotkaca winisuda
PDF
Ketika kresna menghormat gatotkaca
Khutbah idul fitri 1436 h
Pembahasan ringkas di seputar fidyah
Jangan pernah enggan memahami al quran-01
Istighfar, kunci rizki yang terlupakan
Etika dalam berdoa
Memahami ikhtilaf mengenai takbir shalat hari raya
Manajemen syahwat
Manajemen syahwat
10 hal penyebab doa tak terkabul
Khitan bagi wanita (01)
Strategi dakwah
Sukses karena kerja keras
Opini dul
Inspirasi dari kandang ayam
Tentang diri saya
Berbahagialah dengan cara membuang energi negatif dan menabung energi positif
Ketika kita gagal
Jadilah diri sendiri!
Gatotkaca winisuda
Ketika kresna menghormat gatotkaca

Membangun sikap khauf dan raja'

  • 1. Membangun Sikap Khauf dan Rajâ’ (Disampaikan dalam Pengajian Rutin Ahad Malam, “Baitul Hikmah”, dengan Tema: Tazkiyatun Nafs, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, 17 November 2013) Iftitâh Tak bisa dipungkiri, bahwa perjalanan hidup seseorang selalu diliputi oleh dua hal yang silih-berganti: “kegembiraan dan kesedihan”. Gembira karena mendapatkan sesuatu yang diharapkan, dan sedih di saat tidak atau belum mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Semua orang memiliki sejumlah harapan. Tetapi, tidak semua yang diharapkan pada akhirnya diperolehnya, dan bahkan – dalam banyak hal – mengalami sejumlah kegagalan. Berkaitan dengan perjalanan hidup setiap orang, para ulama menyatakan bahwa terdapat dua hal dalam sisi spiritualitas seorang muslim yang harus dijaga keseimbangannya. Kedua hal tersebut adalah: “ketakutan dan kekhawatiran atas siksa atau azab Allah sebagai akibat dari perbuatan dosanya, yang dikenal dengan istilah Khauf, dan pengharapannya atas kemurahan, pengampunan dan kasih sayang Allah yang disebut dengan Rajâ’. Makna Khauf dan Raja’ Konsep Khauf1 dan Raja’ dalam dunia spiritualitas dianggap sebagai salah satu bagian dari al-ahwâl2 (kondisi-kondisi; mufradnya: “al-hâl”) yang harus dilalui atau 1 Ada kata lain yang dipakai oleh para sufi untuk menyebut perasaan takut, disamping khauf, yaitu: khasyyah. Khasyyah ialah rasa takut yang dilatarbelakangi pengetahuan terhadap kebesaran Dzat yang ditakutinya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam QS Fâthir/35: 28, ٌ ُ َ ٌ ِ َ َ ّ ّ ‫( نما يخشى الله من عباده العلماء إ ِن الله عزيز غفور‬sesungguhnya yang takut kepada Allah di antar hambaُۗ َ َ ُ ْ ِ ِ َ ِ ْ ِ َ ّ َ ْ َ َ ّ hamba-Nya, hanyalah para ulama); yang dimaksud dengan orang yang memiliki sikap khasyyah adalah orang yang mengerti akan keagungan Allah dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. 2 Ahwâl adalah bentuk jama’ dari ‘hâl’ yang biasanya diartikan sebagai ‘keadaan mental’ atau ‘mental states’ yang dialami para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. Ibnu ‘Arabi menyebutkan hâl sebagai sifat yang dimiliki seorang sâlik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti ‘isyq dan fanâ. Eksistensinya bergantung pada sebuah kondisi, ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hâl adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dan dipahami, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata. Ahwâl sering diperoleh secara 1 ِ
  • 2. dialami orang yang menapak jalan menuju Allah. Keseimbangan secara proporsional ini diperlukan agar seseorang tidak tenggelam dalam satu kutub esktrem, Khauf atau Raja’ saja. Secara etimologi, khauf berasal dari bahasa arab yang berarti ketakutan. Khauf adalah kata benda yang memiliki arti ketakutan atau kekhawatiran. Khawatir sendiri merupakan kata sifat yang bermakna takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Sedangkan takut adalah kata sifat yang memiliki beberapa makna seperti, merasa gentar menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Jadi khauf berarti perasaan gelisah atau cemas terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Adapun secara terminologi, khauf : “sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya, takut atau khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya”. Khauf timbul karena pengenalan dan cinta kepada Allah yang mendalam sehingga ia merasa khawatir kalau Allah melupakannya atau takut kepada siksa Allah. Ibn Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa takut kepada Allah SWT itu hukumnya wajib. Karena takut kepada Allah itu dapat mengantarkan hamba untuk selalu beribadah kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan. Siapa yang tidak takut kepada-Nya, berarti ia seorang pendosa, pelaku maksiat. Karena tidak takut kepada Allah, koruptor semakin merajalela, semakin serakah, dan tidak lagi memiliki rasa malu. Khauf dapat diumpamakan seperti kondisi yang dirasakan oleh seorang yang sedang dikejar-kejar musuh, sehingga dia tidak berani bergerak dan bersuara di tempat persembunyiannya. Demikianlah kira-kira rasa khauf yang dirasakan seorang muslim saat mengingat dosa-dosanya yang demikian banyak sehingga seakan-akan azab api neraka sudah ada di depan matanya dan hampir pasti membakarnya. Saat mengingat bahwa dia pernah memakan makanan yang haram (mencuri atau korupsi) maka dia menyadari bahwa makanan yang telah menjadi darah dan daging dalam tubuhnya tidak akan bersih kecuali dibakar dengan api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.: spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hâl adalah anugerah. Beberapa ulama mengatakan bahwa hâl adalah sesuatu yang tidak diam dan tidak mengikat atau dinamis. Al-Ghazali yang memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan menetap dalam suatu maqâm (posisi spiritual. Maqâm (jama’: maqâmât) berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah tersebut kemudian digunakan dalam arti jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqâmât dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga) ia akan memeroleh suatu perasaan tertentu, dan itulah hâl. 2
  • 3. « ،‫يا كعب بن عجرة الصل َة برهان، والصوم جنّة حصينَة‬ ٌ ِ َ ٌ ُ ُ ْ ّ َ ٌ َ ْ ُ ُ ّ َ َ ْ ُ َ ْ َ ْ َ َ َ‫والصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار، يا كعب‬ ْ َ َ َ ّ ُ َ ْ ُ ِ ْ ُ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ ُ َ َ ّ َ ُ ّ ِ َ َ ‫بن عجرة، إِنه ل َ يربو لحم نبت من سحت إ ِل ّ كانت النار‬ ٍ ْ ُ ْ ِ َ ََ ٌ ْ َ ُْ َ ُ ّ َ َ ْ ُ َ ْ ِ ِ َْ ‫.» أ َولى به‬ “Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, shalat merupakan tanda keimanan, puasa ialah perisai yang kokoh, serta sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, siapa pun hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka neraka lebih pantas baginya.” (Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Ka’ab bin ‘Ujrah, Sunan at-Tirmidzi, II/512, hadits nomor 614; Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, V/344, hadits nomor 22960; AlHakim, Al-Mustadrak, IV/141, hadits nomor 7162, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabîr, XIII/456, hadits nomor 15562 dan Al-Mu’jam Al-Ausath, II/139, hadits nomor 2730’ Al-Isybili, Al-Ahkâm asy-Syar’iyyah, III/346 dan Al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, VII/507, hadits nomor 5378)." 3
  • 4. Rajâ’ berasal dari kata rajâ -- yarjû – rajâ-an, yang berarti mengharap dan pengharapan. Kata rajâ’ dalam al-Quran disebutkan -- misalnya -- dalam QS al-Baqarah, 2: 218 dan QS al-Ahzâb/33: 21, ِ ‫إِن الذين آمنوا والذين هاجروا وجاهدوا في سبيل اللّه‬ ِ َِ ِ ُ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ّ َ َُ َ ِ ّ ّ ٌ ِ َ ٌ ُ َ ُ َ ِ ّ َ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ َِ ُ ‫أولئك يرجون رحمة الله واللّه غفور رحيم‬ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ‫لقد كان لكم في رسول الله أ ُسوَة حسنَة لمن كان‬ َ َ َ ّ ٌ َ َ ٌ ْ ِ ّ ِ ُ َ ِ ْ ُ َ َ َ ْ َ َ ‫يرجو الله واليوم الخر وذكر الله كثيرا‬ ً َِ َ ّ َ َ َ َ َ ِ َ ْ َْ َ َ ّ ُ ْ َ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” Dalam kedua ayat tersebut, rajâ’ (pengharapan) atas rahmat Allah dinyatakan oleh para mufassir begitu kuat pengaruhnya bagi setiap orang yang beriman. Pengharapan itu menjadikan mereka rela hijrah, meninggalkan segala kesenangan dan harta yang mereka telah miliki. Mereka tidak berkebaratan mengadu nyawa dengan berjihad berperang melawan musuh-musuh mereka. Rajâ’ merupakan sikap optimis total. Ibarat seorang pedagang yang rela memertaruhkan seluruh modal usahanya karena meyakini keuntungan besar yang bakal segera diraihnya. Ibarat seorang ‘pecinta’ yang rela memertaruhkan segala miliknya demi menggapai cinta kekasihnya. Dia meyakini bahwa cintanya itulah bahagianya. Tanpanya, hidup ini tiada arti baginya. Rajâ’ atau pengharapan yang demikian besar menjadikan seseorang hidup dalam sebuah dunia tanpa kesedihan. Sebesar apa pun bahaya dan ancaman yang datang tidak mampu menghapus ‘senyum’ optimisme dari wajahnya. 4
  • 5. Gambaran Seseorang yang Berada dalam Khauf dan Rajâ’ Kondisi Khauf dan Rajâ’ sebagaimana disebut di atas tercermin dalam hadits Nabi s.a.w., sebagai berikut: « ‫لوْ يعلم المؤمن ما عند ا من العقوبة ، ما طمع بجنتِه‬ ِ َّ ِ َ ِ َ َ ِ َْ ُ ُ ْ َ ِ ِ َ ِْ َ ُ ِ ْ ُ ْ ُ َْ َ َ َ‫أَحد ، ولو يعلم الكافر ما عند ا منَ الرحمة ، ما قنط‬ ََ َ ِ َ ْ ّ ِ ِ َ ِْ َ ُ ِ َ ْ ُ َْ َ ْ ََ ٌ َ ٌ َ ِ َِّ ْ ِ ‫.» من جنته أ َحد‬ "Seandainya seorang mukmin mengetahui siksa yang ada di si Allah, niscaya tidak ada seorang mukmin pun yang menginginkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat Allah, maka niscaya tidak ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surgaNya. (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Shahîh Muslim, VIII/97, hadits nomor 7155; At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, V/549, hadits nomor 3542; Ibnu Hibban, Shahîh ibn Hibbân, II/56, hadits nomor 345; Al-Bazzar, Musnad al-Bazzâr, XV/83, hadits nomor 8331, Ath-Thabran, Al-Mu’jam al-Kabîr, XIX/229, hadits nomor 562 dan Al-Mu’jam alAusath, III/157, hadits nomor 2879; Al-Isybili, Al-Ahkâm asy-Syar’iyyah, III/270; AlBaihaqi, Syu’ab al-Îmân, II/315, hadits nomor 969) Ketika seseorang berada dalam kondisi khauf, maka yang selalu terbayang baginya adalah siksa dan azab Allah yang sangat pedih. Bagaimana tidak? Bukankah hidup ini penuh dengan godaan dosa. Di setiap langkah, laku, dan ucapan, selalu saja ada salah dan khilaf. Nikmat Allah berupa mata untuk melihat hanya pantas memandang hal-hal baik. Manakala mata tersebut digunakan memandang hal yang 5
  • 6. haram maka yang paling pantas untuknya adalah mengembalikan mata itu kepada Allah. Telinga, tangan, kaki, dan segala organ tubuh yang Allah karuniakan kepada manusia hanya diperuntukkan untuk melaksanakan ketaatan. Manakala digunakan untuk maksiat, maka seseorang tidak berhak lagi atas segala karunia itu. Dan Allah ‘sangat’ berhak untuk menyiksa siapapun yang menyalahgunakan nikmat dan karunia-Nya. Dalam kondisi ini, tidak seorang pun yang boleh merasa aman dari siksa tersebut. Sebaliknya, dalam kondisi rajâ’, seseorang dapat memastikan bahwa dia pasti mendapat rahmat, kasih sayang, dan ampunan Allah. Bagaimana tidak? Padahal orang kafir pun, sebagaimana hadits di atas, berhak untuk berharap masuk surga. Bahkan Allah melarang siapa pun untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman dalam QS Yûsuf, 12: 87, َ ُ ِ َ ْ ُ ْ َ ْ ّ ِ ّ ِ ْ َ ْ ِ ُ ْ َ ُ ّ ‫إِنه ل يايئس من روح الله إ ِل القوم الكافرون‬ “Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang-orang kafir”. Khâtimah Ketika seseorang terlena dalam optimisme yang tinggi (rajâ’), dia tidak merasa khawatir akan dosa-dosa yang telah, sedang, atau akan diperbuatnya. Baginya, ampunan Allah demikian luas sehingga dia dapat bertaubat kapan saja. Dia akan merencanakan taubat setelah puas melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, dalam keadaan khauf yang berlebihan, hidup seseorang akan kacau dan tidak terkendali. Rasa bersalah dari dosa besar yang telah dilakukannya menutupi harapannya untuk kembali ke jalan yang benar. Dia merasa dan meyakini bahwa apapun kebaikan yang diperbuatnya tidak akan sebanding dengan dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya. Akibatnya, dia tidak segera bertaubat, namun terus menenggalamkan diri dalam kemaksiatan. Yang layak bagi seorang muslim dan mukmin adalah menerima dan mengembangkan konsep “keseimbangan spiritualitas”. Artinya, dia harus menggabungkan antara Khauf dan Rajâ’ secara proporsional (dalam porsi yang benar dan tepat). Dalam kondisi Khauf, dia meyakini betul akan siksa jika dia melanggar aturan-aturan agama. Namun pada saat terlanjur dan tergelincir dalam dosa dan maksiat, dia – dengan sikap Rajâ’-nya -- segera bertaubat dan yakin bahwa taubatnya akan diterima. Optimisme atas kasih sayang dan ampunan Allah inilah yang bisa membuatnya tersenyum di setiap saat. Namun takutnya kepada siksa atas dosa akan membuatnya ‘meneteskan air mata’ di tengah malam saat dia lakukan dzikrullâh, utamanya dalam Qiyâm al-Lail. Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb. 6