Nama : Salomo Roy Freddy Pakpahan
NIM : 55118110191
Mata Kuliah : Business Ethics & Good Governance
Ethical Decision Making In Business
Dosen : Prof. Dr. Hapzi Ali, Ir, MM, CMA, MPM.
Definisi Pengambilan Keputusan
Keputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal dari latar
belakang masalah, identifikasi masalah hingga kepada terbentuknya kesimpulan atau
rekomendasi. Rekomendasi itulah yang selanjutnya dipakai dan digunakan sebagai
pedoman basis dalam pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan merupakan fungsi utama seorang pimpinan atau
manajer di dalam organisasi. Keberhasilan pimpinan membuat dan menetapkan suatu
keputusan bergantung dengan data dan informasi yang diberikan padanya. Untuk
pembuatan suatu keputusan haruslah meliputi pengidentifikasian masalah, pencarian
alternatif penyelesaian masalah, evaluasi dari alternatif-alternatif tersebut dan
pemilihaan alternatif keputusan yang terbaik seorang pimpinan atau manajer dalam
pembuatan keputusan perlu memahami dan menguasi teori dan praktek dan data-
data yang objektif sebagai landasan dalam membuat keputusan.
Definisi pengambilan keputusan menurut para ahli diantaranya :
• Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu
dari dua atau lebih alternatif yang ada. (George R. Terry,2000)
• Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut
perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. (Sondang P. Siagian,2001)
• Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu
tindakan sebagai cara pemecahan masalah. (James A. F. Stoner,1993)
Tahap-tahap Pengambilan Keputusan
Guna memudahkan pengambilan keputusan maka perlu dibuat tahap-tahap yang
bisa mendorong terciptanya keputusan yang diinginkan. Adapun tahap- tahap
tersebut adalah :
1. Menganalisis masalah :
Mengenali masalah dari perbedaan hasil aktual dengan hasil yang diharapkan,
definisikan apa masalahnya.
Langkah pertama dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab
secara etis adalah menentukan fakta-fakta dalam situasi tersebut,
membedakan fakta-fakta dari opini belaka, adalah hal yang sangat penting.
Perbedaan persepsi dalam bagaimana seseorang mengalami dan memahami
situasi dapat menyebabkan banyak perbedaan etis. Sebuah penilaian etis yang
dibuat berdasarkan penentuan yang cermat atas fakta-fakta yang ada
merupakan sebuah penilaian etis yang lebih masuk akal daripada penilaian
yang dibuat tanpa fakta. Seseorang yang bertindak sesuai dengan
pertimbangan yang cermat akan fakta telah bertindak dalam cara yang lebih
bertanggung jawab secara etis daripada orang yang bertindak tanpa
pertimbangan yang mendalam.
2. Membuat asumsi :
Secara struktural terletak di dalam / di luar tanggung jawab ? Secara personal
bersedia menerima resiko / tidak ? Tersedia sumber daya atau tidak ?
Masalahnya urgen / tidak ?
Langkah kedua dalam pengambilan keputusan yang etis yang bertanggung
jawab mensyaratkan kemampuan untuk mengenali sebuah keputusan atau
permasalahn sebagai sebuah keputusan etis atau permasalahan etis.
3. Membuat alternatif pemecahan masalah :
Membuat beberapa alternatif pemecahan masalah yang bersifat layak, efektif
dan efisien.
Langkah ketiga melibatkan satu dari elemen vitalnya. Kita diminta untuk
mengidentifikasi dan mempertimbangkan semua pihak yang dipengaruhi oleh
sebuah keputusan, orang-orang ini biasa disebut dengan para pemangku
kepentingan (stakeholder).
4. Mengevaluasi alternatif :
Mengumpulkan data untuk mengevaluasi setiap alternatif, menolak /
menerima alternatif dari sudut kelayakan, efektifitas dan efisiensi setiap
alternative.
Langkah selanjutnya dalam proses pengambilan keputusan adalah
membandingkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif, membuat suatu
spreadsheet mental yang mengevaluasi setiap dampak tiap alternatif yang
telah dipikirkan terhadap masing-masing pemegang kepentingan yang telah
identifikasi. Salah satu cara yang paling mudah adalah menempatkan diri
terhadap posisi orang lain. Sebuah elemen penting dalam evaluasi ini adalah
pertimbangan cara untuk mengurangi, meminimalisasi atau mengganti
kensekuensi kerugian yang mungkin terjadi atau meningkatkan dan
memajukan konsekuensi-konsekuensi yang mendatangkan manfaat. Selain itu
juga perlu mempertimbangkan kewajiban, hak-hak dan prinsip-prinsip, serta
dampak bagi integritas dan karakter pribadi.
5. Memilih dan menerapkan alternatif :
Pilih alternatif yang paling layak, efektif, dan efisien. Lebih baik menerapkan
alternatif yang kurang layak daripada di luar kemampuan, lebih baik
menerapkan alternatif yang kurang efektif daripada tidak bertindak dan lebih
baik menerapkan alternatif yang mahal daripada murah tak bermutu.
Langkah kelima adalah pengambilan keputusan yang diakhiri dengan evaluasi
yang merupakan langkah terakhir dalam proses pengambilan keputusan
sebagai sarana untuk menilai apakah keputusan kita sudah berdampaka baik
atau malah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
6. Mengevaluasi hasil : Selesai, jika sesuai harapan. Ulangi, jika belum sesuai.
Pendekatan etika bisnis dalam pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan semata-mata bukan karena kepentingan pribadi dari seorang
si pengambil keputusannnya. Beberapa hal kriteria dalam pengambilan keputusan
yang etis diantaranya adalah :
1. Pendekatan bermanfaat (utilitarian approach), yang dudukung oleh filsafat abad
kesembilan belas ,pendekatan bermanfaat itu sendiri adalah konsep tentang etika
bahwa prilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar.
2. Pendekatan individualisme adalah konsep tentang etika bahwa suatu tindakan
dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka
panjang seorang indivudu.
3. Konsep tentang etika bahwa keputusan yang dengan sangat baik menjaga hak-hak yang
harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
• hak persetujuan bebas. Individu akan diperlakukan hanya jika individu tersebut
secara sadar dan tidak terpaksa setuju untuk diperlakukan.
• hak atas privasi. Individu dapat memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan
di luar pekerjaanya.
• hak kebebasan hati nurani. Individu dapat menahan diri dari memberikan
perintah yang melanggar moral dan norma agamanya.
• hak untuk bebas berpendapat. Individu dapat secara benar mengkritik etika
atau legalitas tindakan yang dilakukan orang lain.
• hak atas proses hak. Individu berhak untuk berbicara tanpa berat sebelah dan
berhak atas perlakuan yang adil.
• hak atas hidup dan keamanan. Individu berhak untuk hidup tanpa bahaya dan
ancaman terhadap kesehatan dan keamananya.
Pengambilan Keputusan Etis dalam Manajerial
Keadaan sosial dapat mempermudah ataupun mempersulit kita untuk
bertindak sesuai dengan penilaian kita. Dalam dunia bisnis, terkadanga konteks
organisasi mempersulit kita untuk bertindak secara etis bahkan bagi orang yang
berniat paling baik sekalipun, atau mempersulit orang yang tidak jujur untuk bertindak
tidak etis. Tanggung jawab atas keadaan yang dapat mendorong perilaku etis dan
menekan perilaku tidak etis jatuh kepada manajemen bisnis dan tim eksekutif.
Dalam situasi bisnis, para individu harus mempertimbangkan implikasi etis dan
pengambilan keputusan pribadi dan profesional (personal and prosfessionanl decision
making). Beberapa dari peran yang kita emban bersifat sosial : teman, anak,
pasangan, warga negara, tetangga. Beberapa bersifat institusional : manajer,
pengajar, pengacara, akuntan, auditor, analis keuangan, dan sejenisnya.
Pengambilan keputusan dalam konteks ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas
berkaitan dengan tanggung jawab sosial dan keadilan sosial.
Dalam konteks bisnis, para individu mengisi peran sebagai karyawan, manajer,
eksekutif senior, dan anggota dewan. Para manajer, eksekutif, dan anggota dewan
memiliki kemampuan untuk menciptakan dan membentuk konteks organisasi di mana
semua karyawan mengmbil keputusan. Oleh karena itu, mereka memiliki sebuah
tanggung jawab untuk meningkatkan pengaturan organisasi yang mendorong perilaku
etis dan menekan perilaku tidak etis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang etis
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang etis
diantaranya :
1. Tahap perkembangan moral
Tahap ini merupakan suatu tahap penilaian (assessment) dari kapasitas
seseorang untuk menimbang nimbang apakah secara moral benar, makin tinggi
perkembangan moral seorang berarti makin kurang ketergantungannya pada
pengaruh- pengaruh luar sehingga ia akan makin cenderung berperilaku etis.
Sebagai misal, kebanyakan orang dewasa berada dalam tingkat menengah
dari perkembangan moral, mereka sangat dipengaruhi oleh rekan sekerja dan akan
mengikuti aturan dan prosedur suatu organisasi. Individu-individu yang telah maju
ketahap-tahap yang lebih tinggi iu menaruh nilai yang bertambah pada hak-hak orang
lain, tak peduli akan pendapat mayoritas, dan kemungkinan besar menantang praktik-
praktik organisasi yang mereka yakini secara pribadi sebagai sesuatu hal yang keliru.
2. Lingkungan Organisasi
Dalam lingkungan organisasional merujuk pada persepsi karyawan mengenai
pengharapan (ekspetasi) organisasional. Apakah organisasi itu mendorong dan
mendukung perilaku etis dengan meberi ganjaran atau menghalangi perilaku tak-etis
dengan memberikan hukuman/sangsi. Kode etis yang tertulis, perilaku moral yang
tinggi dari para seniornya, pengharapan yang realistis akan kinerja, penilaian kinerja
sebagai dasar promosi bagi individu-individu, dan hukuman bagi individu-individu
yang bertindak tak-etis merupakan suatu contoh nyata dari kondisi atau keadaan
terhadap lingkungan lingkungan organisasional sehingga kemungkinan besar dapat
menumbuh kembangkan pengambilan keputusan yang sangat etis.
3. Tempat kedudukan kendali
Tempat kedudukan kendali tidak lepas dengan struktur organisasi, pada
umumnya individu individu yang memiliki moral kuat dan baik akan sangat jauh lebih
kecil kemungkinannya untuk mengambil keputusan yang tak etis, namun jika mereka
dikendalai oleh suatu lingkungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang
sedikit banyak tidak menyukai pengambilan keputusan etis, ada kemungkinan
individu- individu yang telah mempunyai moral yang kuatpun dapat tercemari oleh
suatu lingkaungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang mengizinkan atau
mendorong praktik-praktik pengambilan keputusan tak-etis.
Pengaruh Etika dalam Pengambilan Keputusan
Etika merupakan pertimbangan etis yang seharusnya suatu kriteria yang
pentingdalam pengambilan keputusan organisasional. Ada lima kriteria dalam
mengambil keputusan yang etis, yaitu:
1. Utilitarian,
Keputusan-keputusan yang diambil semata-mata atas dasar hasil atau
konsekuensi mereka. Tujuannya adalah memberikan kebaikan yang terbesar
untuk jumlah yang terbesar. Pandangan ini cenderung mendominasi
pengambilan keputusan bisnis, seperti efisiensi, prokduktifitas dan laba yang
tinggi.
2. Universalisme (duty),
Ini menekankan pada baik buruk nya perilaku tergantung pada niat (intention)
dari keputusan atau perilaku. Paham ini adalah kebalikan (contrast) dari
utilitarianisme. Berdasarkan prinsip Immanuel Kant (categorical imperative),
paham ini mempunyai dua prinsip. Pertama, seseorang seharusnya memilih
suatu perbuatan. Kedua, orang - orang lain harus diperlakukan sebagai akhir
(tujuan), bukan sekedar alat untuk mencapai tujuan.
3. Penekanan pada hak
Kriteria ini memberikan kesempatan kepada individu untuk mengambil
keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendasr
seperti dikemukakan dalam dokumen - dokumen (contoh Piagam Hak Asasi).
Suatu tekanan pada hak dalam pengambilan keputusan berarti menghormati
dan melindungi hak dasar dari individu.
4. Penekanan pada keadilan,
Ini mensyaratkan individu untuk menegakan dan memperkuat aturan - aturan
yang adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya
yang pantas. Keadilan distributif, perilaku didasarkan pada satu nilai: keadilan.
5. Relativisme (self-interest),
Ini menekankan bahwa baik buruknya perilaku manusia didasarkan pada
kepentingan atau kebutuhan pribadi (self-interest and needs). Dengan
demikian, setiap individu akan mempunyai kriteria moral yang berbeda
dengan individu lainnya, atau akan terjadi perbedaan kriteria moral dari satu
kultur ke kultur lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1) Fernando, A. C. (2012). Business Ethics and Corporate Governance, Second
Edition. India. Pearson.
2) LoRusso, James Dennis. (2017). Spirituality, Corporate Culture, and
American Business: The Neoliberal Ethic and the Spirit of Global Capital
(Critiquing Religion: Discourse, Culture, Power), London. Bloomsbury .
3) Hapzi Ali, 2018. Modul BE & GG, Univeristas Mercu Buana.
4) R.Terry, George dan Leslie W.Rue. Dasar-Dasar Manajemen. (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010)

More Related Content

PDF
23,be & gg,ratih dewi sumantri,prof,dr,ir,hapzi ali, mm,cma,corporate governa...
PDF
12 be & gg fatinah ghiyats hapzi ali ethical decision making in business ...
PDF
12, BE & GG, MARISA DOSMA SITANGGANG, HAPZI ALI, ETHICAL DECISION MAKING IN B...
PDF
12, be & gg, beny adhi, hapzi ali, ethical decision making in business, u...
PDF
10, BE & GG, Gunawan Adam, Hapzi Ali, Ethical Decision Making in Business, Un...
PPTX
Pengambilan keputusan pp
DOCX
Etika dan pengambilan keputusan
PDF
Etika bisnis
23,be & gg,ratih dewi sumantri,prof,dr,ir,hapzi ali, mm,cma,corporate governa...
12 be & gg fatinah ghiyats hapzi ali ethical decision making in business ...
12, BE & GG, MARISA DOSMA SITANGGANG, HAPZI ALI, ETHICAL DECISION MAKING IN B...
12, be & gg, beny adhi, hapzi ali, ethical decision making in business, u...
10, BE & GG, Gunawan Adam, Hapzi Ali, Ethical Decision Making in Business, Un...
Pengambilan keputusan pp
Etika dan pengambilan keputusan
Etika bisnis

What's hot (20)

PDF
Pengambilan keputusan Organisasi
PPTX
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi
PPTX
Alat bantu mengampu mata kuliah : Perilaku Organisasi - 5
PDF
12, be gg, adi novian prihantoro, hapzi ali, ethical decision making in busi...
PPTX
Tugas pertemuan ke 5 dan 6 bayu puja kusuma
RTF
Tugas sim, theresia hanitalia, , yananto mihadi p., s.e., m.si., cma. pengamb...
PDF
2, be gg, ditta ayu anggraini, hapzi ali, e thics and business concept and th...
PDF
12, be, gg, aprilia safitri, hapzi ali, ethical decision making in business, ...
PDF
11,be&gg,dyah ruth wulandari,hapzi ali,etika & bisnis,ethical decisio...
DOCX
Tugas sim, wanda soraya,yananto mihadi p., s.e., m.si., cma,sistem pengabilan...
PDF
2, be & gg, yudiansyah,hapzi ali, concepts and theories of business ethic...
PPTX
Bang pim pertemuan 11 2016 2017
PPTX
PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
PPTX
Pengambilan keputusan dalam organisasi
DOCX
Persepsi dan pengambilan keputusan individu
PPTX
Ulung furtuna 2 ka17_19113049_proses organisasi 9&10
PDF
Manajemen forum
PPTX
Nnnnnnnnnnnnnnnn
PDF
Teori keputusan
PDF
Faktor Individu dalam Organiasasi
Pengambilan keputusan Organisasi
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi
Alat bantu mengampu mata kuliah : Perilaku Organisasi - 5
12, be gg, adi novian prihantoro, hapzi ali, ethical decision making in busi...
Tugas pertemuan ke 5 dan 6 bayu puja kusuma
Tugas sim, theresia hanitalia, , yananto mihadi p., s.e., m.si., cma. pengamb...
2, be gg, ditta ayu anggraini, hapzi ali, e thics and business concept and th...
12, be, gg, aprilia safitri, hapzi ali, ethical decision making in business, ...
11,be&gg,dyah ruth wulandari,hapzi ali,etika & bisnis,ethical decisio...
Tugas sim, wanda soraya,yananto mihadi p., s.e., m.si., cma,sistem pengabilan...
2, be & gg, yudiansyah,hapzi ali, concepts and theories of business ethic...
Bang pim pertemuan 11 2016 2017
PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
Pengambilan keputusan dalam organisasi
Persepsi dan pengambilan keputusan individu
Ulung furtuna 2 ka17_19113049_proses organisasi 9&10
Manajemen forum
Nnnnnnnnnnnnnnnn
Teori keputusan
Faktor Individu dalam Organiasasi
Ad

Similar to 12,be gg, salomo roy freddy,hapzi ali ethical decision making in business, universitas mercu buana 2019 (20)

PDF
12, be & gg, rame priyanto, hapzi ali, ethical decision making in busines...
PDF
12, be & gg, devin winata, hapzi ali, ethical decision making in business...
PDF
12, be & gg, rudi, hapzi ali, ethical decision making in business, universita...
PDF
12, be & gg, cicilia eritawanti widjilestari, hapzi ali,ethical decision ...
PDF
Quiz dan forum be minggu ke 12
PDF
12, BE&GG, Charviano Hardika, Hapzi Ali, Ethics and Business,Ethical Decision...
PPTX
PENDEKATAN_DALAM_PENGAMBILAN_KEPUTUSAN_ETIS[1].pptx
PDF
12, BE & GG, Riana Fitri, Prof. Dr. Ir Hapzi Ali, MM, CMA, Ethical Decision M...
PPTX
Pertemuan ke- 4 Pengambilan Keputusan yang Etis.pptx
PDF
12. hapzi ali, be gg, quiz and forum ethical decision making in business, uni...
PPTX
ETIKA BISNIS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN.pptx
PDF
2, be & gg, salomo roy, hapzi ali, konsep dan teori etika bisnis, univers...
PPTX
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS perbanas institute jakarta
PPT
12673219.ppt
PPTX
Etika bisnis (9th week)
PDF
14, BE & GG, Riana Fitri, Prof. Dr. Ir Hapzi Ali, MM, CMA, Corporate Governan...
DOCX
Etika bisnis haryo
PPTX
Presentasi Kelompok 4 mapel manajemen bisnis.pptx
PPT
Pertemuan 7 _8-pengambilan_keputusan
PPTX
Pengertian-Pengambilan-Keputusan[1].pptx
12, be & gg, rame priyanto, hapzi ali, ethical decision making in busines...
12, be & gg, devin winata, hapzi ali, ethical decision making in business...
12, be & gg, rudi, hapzi ali, ethical decision making in business, universita...
12, be & gg, cicilia eritawanti widjilestari, hapzi ali,ethical decision ...
Quiz dan forum be minggu ke 12
12, BE&GG, Charviano Hardika, Hapzi Ali, Ethics and Business,Ethical Decision...
PENDEKATAN_DALAM_PENGAMBILAN_KEPUTUSAN_ETIS[1].pptx
12, BE & GG, Riana Fitri, Prof. Dr. Ir Hapzi Ali, MM, CMA, Ethical Decision M...
Pertemuan ke- 4 Pengambilan Keputusan yang Etis.pptx
12. hapzi ali, be gg, quiz and forum ethical decision making in business, uni...
ETIKA BISNIS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN.pptx
2, be & gg, salomo roy, hapzi ali, konsep dan teori etika bisnis, univers...
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS perbanas institute jakarta
12673219.ppt
Etika bisnis (9th week)
14, BE & GG, Riana Fitri, Prof. Dr. Ir Hapzi Ali, MM, CMA, Corporate Governan...
Etika bisnis haryo
Presentasi Kelompok 4 mapel manajemen bisnis.pptx
Pertemuan 7 _8-pengambilan_keputusan
Pengertian-Pengambilan-Keputusan[1].pptx
Ad

More from salomoroyfreddy (8)

PDF
15.be gg, salomo roy freddy,hapzi ali theory and practice corporate governanc...
PDF
14.be gg, salomo roy freddy,hapzi ali corporate governance, universitas merc...
PDF
13.be gg, salomo roy freddy,hapzi ali globalization and business ethics, uni...
PDF
9.be gg, salomo roy freddy hapzi ali-corporate ethics rights, priviliges, pro...
PDF
7.be gg, salomo roy freddy hapzi ali-ethical issue in financial management,un...
PDF
5 be gg-salomo roy freddy-hapzi ali-marketing ethics,universitas mercu buana,...
PDF
4 be gg-salomo roy freddy-hapzi ali-environmental ethics,universitas mercu buana
PDF
3 be gg-salomo roy freddy-hapzi ali-ethic of consumer protection-universitas...
15.be gg, salomo roy freddy,hapzi ali theory and practice corporate governanc...
14.be gg, salomo roy freddy,hapzi ali corporate governance, universitas merc...
13.be gg, salomo roy freddy,hapzi ali globalization and business ethics, uni...
9.be gg, salomo roy freddy hapzi ali-corporate ethics rights, priviliges, pro...
7.be gg, salomo roy freddy hapzi ali-ethical issue in financial management,un...
5 be gg-salomo roy freddy-hapzi ali-marketing ethics,universitas mercu buana,...
4 be gg-salomo roy freddy-hapzi ali-environmental ethics,universitas mercu buana
3 be gg-salomo roy freddy-hapzi ali-ethic of consumer protection-universitas...

Recently uploaded (20)

PPTX
LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT KOTAK TISU DARI KERTAS
PDF
brosur-allisya-protection-life-final.pdf
PPTX
Beriman_kepada_Malaikat_PAI_Kelas10.pptx
DOCX
JADWAL MPLS TAHUN 2025-2026 (referensi)
PPTX
Bimbingan teknis Dinas pendidikan provinsi Jawa Barat
PPTX
2023-03-01 Kebijakan Umum DAK Fisik Subbidang SMK.pptx
PDF
Aneka Souvenir Pin & Gantungan Kunci Custom: Pilihan Kreatif yang Semakin Pop...
PPTX
Rangkuman Produk Panin Daichi Life Yang Akan Dijual
PPTX
Sejarah Perkembangan E-Commerce di indonesia.pptx
PPTX
SAK Entitas Privat Detail Mulai 1 Januari 2025
PDF
How to understanding Accounting Principle
PPTX
bab 2 kls 11.pptxjyeruotfjbkjxzgdwaowpoihd
PDF
KAPJ_Selisih Biaya melalui 1 pintu_ Solo Nov 24.pdf
DOCX
MODUL AJAR KELAS 11 kurikulum merdeka.docx
PDF
Custom Aneka Powerbank Promosi: Strategi Branding Efektif Masa Kini
DOCX
776223686-MODUL-AJAR-EKONOMI-UKIN. 2025docx
PPTX
Pertemuan_2_Teknik_Optimasi_Ekonomi_Profesional_Lengkap.pptx
PDF
JOBSHEET-Perawatan-Berkala-Motor-4-Tak YES.pdf
DOCX
MODUL AJAR KELAS 11 kurikulum merdeka .docx
PPTX
Ahli Muda Elektrikal Konstruksi Bangunan Gedung.pptx
LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT KOTAK TISU DARI KERTAS
brosur-allisya-protection-life-final.pdf
Beriman_kepada_Malaikat_PAI_Kelas10.pptx
JADWAL MPLS TAHUN 2025-2026 (referensi)
Bimbingan teknis Dinas pendidikan provinsi Jawa Barat
2023-03-01 Kebijakan Umum DAK Fisik Subbidang SMK.pptx
Aneka Souvenir Pin & Gantungan Kunci Custom: Pilihan Kreatif yang Semakin Pop...
Rangkuman Produk Panin Daichi Life Yang Akan Dijual
Sejarah Perkembangan E-Commerce di indonesia.pptx
SAK Entitas Privat Detail Mulai 1 Januari 2025
How to understanding Accounting Principle
bab 2 kls 11.pptxjyeruotfjbkjxzgdwaowpoihd
KAPJ_Selisih Biaya melalui 1 pintu_ Solo Nov 24.pdf
MODUL AJAR KELAS 11 kurikulum merdeka.docx
Custom Aneka Powerbank Promosi: Strategi Branding Efektif Masa Kini
776223686-MODUL-AJAR-EKONOMI-UKIN. 2025docx
Pertemuan_2_Teknik_Optimasi_Ekonomi_Profesional_Lengkap.pptx
JOBSHEET-Perawatan-Berkala-Motor-4-Tak YES.pdf
MODUL AJAR KELAS 11 kurikulum merdeka .docx
Ahli Muda Elektrikal Konstruksi Bangunan Gedung.pptx

12,be gg, salomo roy freddy,hapzi ali ethical decision making in business, universitas mercu buana 2019

  • 1. Nama : Salomo Roy Freddy Pakpahan NIM : 55118110191 Mata Kuliah : Business Ethics & Good Governance Ethical Decision Making In Business Dosen : Prof. Dr. Hapzi Ali, Ir, MM, CMA, MPM. Definisi Pengambilan Keputusan Keputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal dari latar belakang masalah, identifikasi masalah hingga kepada terbentuknya kesimpulan atau rekomendasi. Rekomendasi itulah yang selanjutnya dipakai dan digunakan sebagai pedoman basis dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan fungsi utama seorang pimpinan atau manajer di dalam organisasi. Keberhasilan pimpinan membuat dan menetapkan suatu keputusan bergantung dengan data dan informasi yang diberikan padanya. Untuk pembuatan suatu keputusan haruslah meliputi pengidentifikasian masalah, pencarian alternatif penyelesaian masalah, evaluasi dari alternatif-alternatif tersebut dan pemilihaan alternatif keputusan yang terbaik seorang pimpinan atau manajer dalam pembuatan keputusan perlu memahami dan menguasi teori dan praktek dan data- data yang objektif sebagai landasan dalam membuat keputusan. Definisi pengambilan keputusan menurut para ahli diantaranya : • Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. (George R. Terry,2000) • Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. (Sondang P. Siagian,2001) • Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. (James A. F. Stoner,1993) Tahap-tahap Pengambilan Keputusan Guna memudahkan pengambilan keputusan maka perlu dibuat tahap-tahap yang bisa mendorong terciptanya keputusan yang diinginkan. Adapun tahap- tahap tersebut adalah : 1. Menganalisis masalah : Mengenali masalah dari perbedaan hasil aktual dengan hasil yang diharapkan, definisikan apa masalahnya. Langkah pertama dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab secara etis adalah menentukan fakta-fakta dalam situasi tersebut, membedakan fakta-fakta dari opini belaka, adalah hal yang sangat penting. Perbedaan persepsi dalam bagaimana seseorang mengalami dan memahami situasi dapat menyebabkan banyak perbedaan etis. Sebuah penilaian etis yang dibuat berdasarkan penentuan yang cermat atas fakta-fakta yang ada merupakan sebuah penilaian etis yang lebih masuk akal daripada penilaian yang dibuat tanpa fakta. Seseorang yang bertindak sesuai dengan
  • 2. pertimbangan yang cermat akan fakta telah bertindak dalam cara yang lebih bertanggung jawab secara etis daripada orang yang bertindak tanpa pertimbangan yang mendalam. 2. Membuat asumsi : Secara struktural terletak di dalam / di luar tanggung jawab ? Secara personal bersedia menerima resiko / tidak ? Tersedia sumber daya atau tidak ? Masalahnya urgen / tidak ? Langkah kedua dalam pengambilan keputusan yang etis yang bertanggung jawab mensyaratkan kemampuan untuk mengenali sebuah keputusan atau permasalahn sebagai sebuah keputusan etis atau permasalahan etis. 3. Membuat alternatif pemecahan masalah : Membuat beberapa alternatif pemecahan masalah yang bersifat layak, efektif dan efisien. Langkah ketiga melibatkan satu dari elemen vitalnya. Kita diminta untuk mengidentifikasi dan mempertimbangkan semua pihak yang dipengaruhi oleh sebuah keputusan, orang-orang ini biasa disebut dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). 4. Mengevaluasi alternatif : Mengumpulkan data untuk mengevaluasi setiap alternatif, menolak / menerima alternatif dari sudut kelayakan, efektifitas dan efisiensi setiap alternative. Langkah selanjutnya dalam proses pengambilan keputusan adalah membandingkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif, membuat suatu spreadsheet mental yang mengevaluasi setiap dampak tiap alternatif yang telah dipikirkan terhadap masing-masing pemegang kepentingan yang telah identifikasi. Salah satu cara yang paling mudah adalah menempatkan diri terhadap posisi orang lain. Sebuah elemen penting dalam evaluasi ini adalah pertimbangan cara untuk mengurangi, meminimalisasi atau mengganti kensekuensi kerugian yang mungkin terjadi atau meningkatkan dan memajukan konsekuensi-konsekuensi yang mendatangkan manfaat. Selain itu juga perlu mempertimbangkan kewajiban, hak-hak dan prinsip-prinsip, serta dampak bagi integritas dan karakter pribadi. 5. Memilih dan menerapkan alternatif : Pilih alternatif yang paling layak, efektif, dan efisien. Lebih baik menerapkan alternatif yang kurang layak daripada di luar kemampuan, lebih baik menerapkan alternatif yang kurang efektif daripada tidak bertindak dan lebih baik menerapkan alternatif yang mahal daripada murah tak bermutu. Langkah kelima adalah pengambilan keputusan yang diakhiri dengan evaluasi yang merupakan langkah terakhir dalam proses pengambilan keputusan sebagai sarana untuk menilai apakah keputusan kita sudah berdampaka baik atau malah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. 6. Mengevaluasi hasil : Selesai, jika sesuai harapan. Ulangi, jika belum sesuai.
  • 3. Pendekatan etika bisnis dalam pengambilan keputusan Pengambilan keputusan semata-mata bukan karena kepentingan pribadi dari seorang si pengambil keputusannnya. Beberapa hal kriteria dalam pengambilan keputusan yang etis diantaranya adalah : 1. Pendekatan bermanfaat (utilitarian approach), yang dudukung oleh filsafat abad kesembilan belas ,pendekatan bermanfaat itu sendiri adalah konsep tentang etika bahwa prilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar. 2. Pendekatan individualisme adalah konsep tentang etika bahwa suatu tindakan dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang seorang indivudu. 3. Konsep tentang etika bahwa keputusan yang dengan sangat baik menjaga hak-hak yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. • hak persetujuan bebas. Individu akan diperlakukan hanya jika individu tersebut secara sadar dan tidak terpaksa setuju untuk diperlakukan. • hak atas privasi. Individu dapat memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan di luar pekerjaanya. • hak kebebasan hati nurani. Individu dapat menahan diri dari memberikan perintah yang melanggar moral dan norma agamanya. • hak untuk bebas berpendapat. Individu dapat secara benar mengkritik etika atau legalitas tindakan yang dilakukan orang lain. • hak atas proses hak. Individu berhak untuk berbicara tanpa berat sebelah dan berhak atas perlakuan yang adil. • hak atas hidup dan keamanan. Individu berhak untuk hidup tanpa bahaya dan ancaman terhadap kesehatan dan keamananya. Pengambilan Keputusan Etis dalam Manajerial Keadaan sosial dapat mempermudah ataupun mempersulit kita untuk bertindak sesuai dengan penilaian kita. Dalam dunia bisnis, terkadanga konteks organisasi mempersulit kita untuk bertindak secara etis bahkan bagi orang yang berniat paling baik sekalipun, atau mempersulit orang yang tidak jujur untuk bertindak tidak etis. Tanggung jawab atas keadaan yang dapat mendorong perilaku etis dan menekan perilaku tidak etis jatuh kepada manajemen bisnis dan tim eksekutif. Dalam situasi bisnis, para individu harus mempertimbangkan implikasi etis dan pengambilan keputusan pribadi dan profesional (personal and prosfessionanl decision making). Beberapa dari peran yang kita emban bersifat sosial : teman, anak, pasangan, warga negara, tetangga. Beberapa bersifat institusional : manajer, pengajar, pengacara, akuntan, auditor, analis keuangan, dan sejenisnya. Pengambilan keputusan dalam konteks ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas berkaitan dengan tanggung jawab sosial dan keadilan sosial. Dalam konteks bisnis, para individu mengisi peran sebagai karyawan, manajer, eksekutif senior, dan anggota dewan. Para manajer, eksekutif, dan anggota dewan memiliki kemampuan untuk menciptakan dan membentuk konteks organisasi di mana semua karyawan mengmbil keputusan. Oleh karena itu, mereka memiliki sebuah tanggung jawab untuk meningkatkan pengaturan organisasi yang mendorong perilaku etis dan menekan perilaku tidak etis. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang etis Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang etis diantaranya :
  • 4. 1. Tahap perkembangan moral Tahap ini merupakan suatu tahap penilaian (assessment) dari kapasitas seseorang untuk menimbang nimbang apakah secara moral benar, makin tinggi perkembangan moral seorang berarti makin kurang ketergantungannya pada pengaruh- pengaruh luar sehingga ia akan makin cenderung berperilaku etis. Sebagai misal, kebanyakan orang dewasa berada dalam tingkat menengah dari perkembangan moral, mereka sangat dipengaruhi oleh rekan sekerja dan akan mengikuti aturan dan prosedur suatu organisasi. Individu-individu yang telah maju ketahap-tahap yang lebih tinggi iu menaruh nilai yang bertambah pada hak-hak orang lain, tak peduli akan pendapat mayoritas, dan kemungkinan besar menantang praktik- praktik organisasi yang mereka yakini secara pribadi sebagai sesuatu hal yang keliru. 2. Lingkungan Organisasi Dalam lingkungan organisasional merujuk pada persepsi karyawan mengenai pengharapan (ekspetasi) organisasional. Apakah organisasi itu mendorong dan mendukung perilaku etis dengan meberi ganjaran atau menghalangi perilaku tak-etis dengan memberikan hukuman/sangsi. Kode etis yang tertulis, perilaku moral yang tinggi dari para seniornya, pengharapan yang realistis akan kinerja, penilaian kinerja sebagai dasar promosi bagi individu-individu, dan hukuman bagi individu-individu yang bertindak tak-etis merupakan suatu contoh nyata dari kondisi atau keadaan terhadap lingkungan lingkungan organisasional sehingga kemungkinan besar dapat menumbuh kembangkan pengambilan keputusan yang sangat etis. 3. Tempat kedudukan kendali Tempat kedudukan kendali tidak lepas dengan struktur organisasi, pada umumnya individu individu yang memiliki moral kuat dan baik akan sangat jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengambil keputusan yang tak etis, namun jika mereka dikendalai oleh suatu lingkungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang sedikit banyak tidak menyukai pengambilan keputusan etis, ada kemungkinan individu- individu yang telah mempunyai moral yang kuatpun dapat tercemari oleh suatu lingkaungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang mengizinkan atau mendorong praktik-praktik pengambilan keputusan tak-etis. Pengaruh Etika dalam Pengambilan Keputusan Etika merupakan pertimbangan etis yang seharusnya suatu kriteria yang pentingdalam pengambilan keputusan organisasional. Ada lima kriteria dalam mengambil keputusan yang etis, yaitu: 1. Utilitarian, Keputusan-keputusan yang diambil semata-mata atas dasar hasil atau konsekuensi mereka. Tujuannya adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar. Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis, seperti efisiensi, prokduktifitas dan laba yang tinggi. 2. Universalisme (duty), Ini menekankan pada baik buruk nya perilaku tergantung pada niat (intention) dari keputusan atau perilaku. Paham ini adalah kebalikan (contrast) dari utilitarianisme. Berdasarkan prinsip Immanuel Kant (categorical imperative), paham ini mempunyai dua prinsip. Pertama, seseorang seharusnya memilih
  • 5. suatu perbuatan. Kedua, orang - orang lain harus diperlakukan sebagai akhir (tujuan), bukan sekedar alat untuk mencapai tujuan. 3. Penekanan pada hak Kriteria ini memberikan kesempatan kepada individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendasr seperti dikemukakan dalam dokumen - dokumen (contoh Piagam Hak Asasi). Suatu tekanan pada hak dalam pengambilan keputusan berarti menghormati dan melindungi hak dasar dari individu. 4. Penekanan pada keadilan, Ini mensyaratkan individu untuk menegakan dan memperkuat aturan - aturan yang adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas. Keadilan distributif, perilaku didasarkan pada satu nilai: keadilan. 5. Relativisme (self-interest), Ini menekankan bahwa baik buruknya perilaku manusia didasarkan pada kepentingan atau kebutuhan pribadi (self-interest and needs). Dengan demikian, setiap individu akan mempunyai kriteria moral yang berbeda dengan individu lainnya, atau akan terjadi perbedaan kriteria moral dari satu kultur ke kultur lainnya. DAFTAR PUSTAKA 1) Fernando, A. C. (2012). Business Ethics and Corporate Governance, Second Edition. India. Pearson. 2) LoRusso, James Dennis. (2017). Spirituality, Corporate Culture, and American Business: The Neoliberal Ethic and the Spirit of Global Capital (Critiquing Religion: Discourse, Culture, Power), London. Bloomsbury . 3) Hapzi Ali, 2018. Modul BE & GG, Univeristas Mercu Buana. 4) R.Terry, George dan Leslie W.Rue. Dasar-Dasar Manajemen. (Jakarta: Bumi Aksara, 2010)