2
Most read
9
Most read
11
Most read
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI
“PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERHADAP SUHU TUBUH”
Dosen Pengampu: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes
Disusun Oleh :
Nama: Sofyan Dwi Nugroho
NIM : 16708251021
Prodi : Pendidikana IPA Kelas B
PRODI PENDIDIKAN SAINS
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERHADAP SUHU TUBUH
A. Tujuan
A.1. Tujuan Kegiatan
Mahasiswa dapat melakukan pengukuran suhu tubuh dan mengamati pengaruh suhu
lingkungan terhadap suhu tubuh manusia.
A.2. Kompetensi Khusus
Mahasiswa dapat melakukan pengukuran suhu tubuh dan mengamati pengaruh suhu
lingkungan terhadap suhu tubuh manusia.
B. Tinjauan Teori
Hipothalamus merupakan organ pengatur suhu tubuh yang dimiliki oleh organisme
berdarah panas (homeoterm). Sel-sel saraf hypothalamus peka terhadap perubahan suhu
badan internal terutama suhu darah. Hipothalamus ibarat thermostat yang berada di bawah
otak. Ada dua macam hypothalamus yaitu hypothalamus anterior dan hypothalamus
posterior. Hipothalamus anterior berguna untuk mengatur pembuangan panas, sedangkan
hypothalamus posterior berguna untuk mengatur penyimpanan panas. Manusia memiliki
suhu optimal sebesar 37,1°C. Pengaturan atau proses regulasi suhu badan bertujuan untuk
menjaga keseimbangan panas yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh dan
lingkungan sekitar dengan banyaknya panas yang dikeluarkan oleh tubuh. Proses
pembebasan panas tubuh dapat melalui kulit, mulut, saluran pernapasan, feses dan urin.
Mekanisme regulasi panas disebut neuro-endokrin karena melibatkan system saraf,
hormon dan berlangsung sangat cepat. Regulasi panas badan menggunakan system
feedback ( umpan balik negative), apabila panas badan melebihi suhu optimal maka
hypothalamus berusaha menurunkan ke suhu optimal dan sebaliknya.
Suhu lingkungan tinggi atau suhu badan yang meningkat 1 - 2° C akan
mempengaruhi sel-sel saraf hipothalam untuk mengintruksikan lewat neuroendokrin ke
safar perifer untuk meningkatkan sirkulasi darah perkier yang ada di bawah kulit dan
meningkatkan keringat sehingga panas bada banyak yang keluar. Suhu darah yang telah
turun akan mempengaruhi hipotalamus dan mengintruksikan agar aktivitas sel-sel saraf
diturunkan sehingga suhu badan tetap dalam kondisi optimal.
Bila tubuh terasa panas, ada kecenderungan tubuh meningkatkan kehilangan panas
ke lingkungan; bila tubuh merasa dingin maka kecenderungannya menurunkan kehilangan
panas. Jumlah panas yang hilang ke lingkungan melalui rdiasi dan konduksi –konveksi
ditentukan oleh perbedaan suhu antara kulit dan lingkungan eksternal. Bagian pusat tubuh
merupakan ruang yang memiliki suhu yang dijaga tetap sekitar 37° C ( Soewolo dkk, 205:
287)
Apabila es menempel langsung pada kulit maka pembuluh darah kulit berkontraksi
sampai 15°C yang akan menyebabkan dilatasi sebagai efek langsung pendinginan setempat
terhadap pembuluh darah tersebut. Mekanisme kontraksi dingin membuat hambatan impuls
saraf datang ke pembuluh tersebut pada suhu mendekati 0°C sehingga pembuluh darah
mencapai vasodilatasi maksimum.Hal ini dapat mencegah pembekuan bagian tubuh yang
terkena terutama tangan dan telinga (Syaifuddin, 2009: 324).
Pengaturan suhu tubuh manusia merupakan contoh suatu sistem homeo-stasis
kompleks yang fasilitasi oleh mekanisme umpan balik. Sel-sel saraf yang mengatur
termoregulasi, dan juga sel-sel saraf yang mengontrol banyak aspek lain dari homeostasis
terpusat di hipotalamus. Hipotalamus memiliki termofosfat yang merespon pada perubahan
suhu di atas dan di bawah kisaran suhu normal dengan cara mengaktifkan mekanisme yang
memperbanyak hilangnya panas atau perolehan panas (lihat gambar 1).
Sel-sel saraf yang mengindera suhu tubuh terletak pada kulit, hipotalamus itu sendiri,
dan beberapa bagian lain sistem saraf. Beberapa diantaranya adalah reseptor panas yang
memberi sinyal kepada termofosfat hipotalamus ketika suhu kulit atau darah meningkat
dan reseptor dingin yang mensinyal termofosfat ketika suhu turun. Termofosfat itu
merespon terhadap suhu tubuh di bawah kisaran normal dan menghambat mekanisme
kehilangan panas serta mengaktifkan mekanisme penghematan panas seperti
vasokonstriksi pembuluh superfisial dan berdirinya bulu atau rambut, sementara
merangsang mekanisme yang membangkitkan panas (termogenesis melalui menggigil dan
tanpa menggigil). Sebagai respon terhadap suhu tubuh yang meningkat, termofosfat
mematikan (menginaktifkan) mekanisme penghematan panas dan meningkatkan
pendinginan tubuh melalui vasodilatasi, berkeringat, atau painting. (Campbell dkk, 2000:
106).
Gambar 1. Fungsi Termofosfat Hipotalamus Dan Mekanisme Umpan-Balik Pada
Termoregulasi Pada Manusia
Sumber: (Campbell et al. 2000)
Read more: http://www.zonabiokita.web.id/2017/6/pengaruh-suhu-lingkungan-
terhadap-suhu.html#ixzz4k8xJBDpz
Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal, manusia secara homeostatis
mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi kelangsungan metabolisme
yang stabil. Bahkan peningkatan suhu tubuh sedikit saja sudah dapat menimbulkan
gangguan fungsi saraf dan denaturasi protein yang ireversibel. Suhu tubuh normal secara
tradisional dianggap berada pada 37°C (98,6°F). Namun sebenarnya tidak ada suhu tubuh
“normal” karena suhu bervariasi dari organ ke organ. Dari sudut pandang termoregulatorik,
tubuh dapat dianggap sebagai suatu inti di tengah (central core) dengan lapisan
pembungkus di sebelah luar (outer shell). Suhu di inti bagian dalam yang terdiri dari organ-
organ abdomen dan toraks, sistem saraf pusat, serta otot rangka, umumnya relative konstan
sekitar 37,8o
C (100o
F). Suhu inti internal inilah yang dianggap sebagai suhu tubuh dan
menjadi subjek pengaturan ketat untuk mempertahankan kestabilannya. Suhu kulit dapat
berfluktuasi antara 20o
C (68o
F) dan 40o
C (104o
F) tanpa mengalami kerusakan. Ini karena
suhu kulit sengaja diubah-ubah sebagai tindakan kontrol untuk membantu
mempertahankan agar suhu di tengah tetap konstan (Sherwood, 2001)
Suhu tubuh dipengaruhi oleh exercise, hormon, system saraf, asupan makanan,
gender, iklim dan status malnutrisi. Pada proses termoregulasi, aliran darah berubah-ubah
mengalami vasodilatasi pembuluh darah kulit yaitu peningkatan aliran darah panas ke kulit
yang akan meningkatkan kehilangan panas. Sebaliknya vasokontriksi pembuluh darah kulit
mengurangi aliran darah ke kulit untuk menjaga suhu pusat tubuh konstan.
Darah diinsulasi dari lingkungan eksternal yang akan menurunkan kehilangan panas.
Respon-respon vasomotor kulit dikoordinasi oleh hipotalamus melalui jalur sistem
parasimpatik. Aktivitas simpatetik yang ditingkatkan ke pembuluh kutaneus menghasilkan
penghematan panas vasokonstriksi untuk merespon suhu dingin, sedangkan penurunan
aktivitas simpatetik menghasilkan kehilangan panas vasodilatasi pembuluh darah
kulitsebagai respon terhadap suhu panas (Soewolo dkk, 2005: 287-288)
Mekanisme tubuh terhadap kompres air hangat dapat menurunkan suhu tubuh
sebagai berikut:
a. kompres hangat pada daerah tubuh memberikan sinyal ke hipothalamus melalui
sumsum tulang belakang.
b. ketika reseptor yang peka terhadap panas dihipotalamus dirangsang, maka sistem
effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer.
c. perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla
oblongata dari tangkai otak, di bawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga
terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan
energi/panas melalui kulit meningkat ( berkeringat ), diharapkan akan terjadi
penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali.
Apabila kita memberikan rangsangan dingin pada kulit, maka pada jaringan yang
terkena rangsangan tersebut akan mengalami penurunan temperature (cooling), hal ini akan
diikuti dengan :
a. penurunan tingkat metabolisme
b. terjadi vasokonstriksi arteriole yang timbul akibat pengurangan terbentuknya metabolit
berupa CO2 dan asam laktat serta pengaruh dingin terhadap pembuluh darah,
c. Vasokonstriksi juga terjadi pada pembuluh darah kulit berlangsung secara reflektoris
karena kulit sabagai komponen thermoregulator (pengatur panas) bereaksi terhadap
adanya rangsangan dingin.
d. Vasokonstriksi yang terjadi akan menurunkan kecenderungan terbentuknya cairan
edema dan penurunan produksi cairan limfe, karena permeabilitas dinding pembuluh
darah menurun.
e. Dingin akan menginduksi pembuluh darah vena, sehingga terjadi vakonstriksi
pembuluh darah vena dan ini akan menaikkan tekanan venosa.
C. Alat dan Bahan
Untuk pengukuran suhu tubuh poikiloterm praktikan menggunakan alat dan bahan sebagai
berikut
a) Termometer badan,
b) Alat kompres air
c) Air es
d) Air panas
e) Pengukur waktu
D. Cara Kerja
Dalam pengukuran suhu tubuh homeoterm dalam hal ini praktikan digunakan termometer
badan yang skalanya 35-43°C. Ada berbagai tempat yang biasa digunakan untuk pengukuran
suhu tubuh antara lain: aksial (ketiak), sublingual (oral), dan anal (anus).
a) Sebelum menggunakan termometer harus menunjukkan skala terendah, hal ini dilakukan
dengan cara mengibas-ngibaskan termometer tersebut. Untuk melakukan hal ini perlu hati-
hati karena sering secara tidak sengaja menyentuh tubuh teman atau benda keras lainnya
yang dapat mengakibatkan pecahnya termometer.
b) Menaruh termometer tersebut pada ketiak praktikan selama kurang lebih 3 menit,
kemudian mengamati skalanya dan mencatat suhunya. Setelah itu pada leher menempelkan
kompres air dingin selama lima menit, kemudian mengukur suhu tubuh seperti langkah a)
dan mengamati setiap 1 menit. Mengulangi dengan mengganti kompres air hangat.
Mencatat apakah ada perbedaan suhu tubuh praktikan pada sebelum dan sesudah
perlakuan.
E. Hasil Pengamatan
Kode
Nama
Suhu
Normal
Suhu pada Waktu ke-
Saat Dipaparkan Air
Dingin
Setelah Dipaparkan Air
Dingin
Saat Dipaparkan Air
Panas
Setelah Dipaparkan Air
Panas
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
WA
36,2 35,
1
35
,2
36
,4
36
,4
36
,3
36
,3
36,
4
36,
2
36
,2
36
,2
36
,4
36
,4
36
,6
36
,6
36
,6
36
,6
36
,6
36
,6
36,
2
36
,2
AN
35,7 36 35
,9
36 36
,2
36
,2
36
,2
36,
2
36,
1
35
,4
36 35
,8
36
,1
36
,3
36
,3
36
,3
36
,3
36
,4
36
,4
36,
4
36
,4
LW
35,0 35,
4
35
,3
35
,1
35
,1
35
,2
35
,3
35,
3
36 36 36 35
,5
35
,5
35
,9
35
,9
35
,9
35
,9
35
,9
36
,3
36,
2
36
,2
YNK
35,6 35,
3
35
,3
35
,3
35
,2
35
,2
35
,3
35,
3
35,
3
35
,3
35
,3
35
,8
36 36
,4
36
,5
36
,9
35
,3
35
,3
35
,3
35,
3
35
,3
CSW
35,7 35,
7
35
,4
35
,3
35
,3
35
,3
35
,7
35,
7
35,
7
35
,7
35
,7
35
,7
35
,7
36 36
,3
36
,3
35
,7
35
,7
35
,7
35,
7
35
,7
ERW
35,6 35 35
,5
35
,7
35
,7
35
,7
35 35,
4
35,
6
35
,6
35
,8
36 36 36 36 36 35 35
,4
35
,6
35,
6
35
,8
LMP
35,6 34 34 34 34 34 35
,7
35,
6
35,
6
35
,6
35
,6
35
,3
35
,6
35
,6
35
,7
35
,7
35
,7
35
,6
35
,6
35,
6
35
,6
EKO
36,5 35,
9
35
,8
35
,8
35
,8
35
,8
36
,3
36,
3
36,
7
36
,7
36
,7
35
,9
35
,5
35
,9
35
,4
35
,4
36
,3
36
,3
36
,7
36,
7
36
,7
CAG
36,4 35,
8
35
,5
35
,5
35
,6
35
,7
36
,4
36,
4
36,
4
36
,4
36
,4
36
,3
36
,4
36
,7
36
,7
36
,7
36
,4
36
,4
36
,4
36,
4
36
,4
PRM
35,5 35,
9
35
,9
36
,4
36
,4
36
,4
35
,3
35,
5
35,
5
35
,5
35
,5
35 34
,7
35
,4
35
,8
35
,8
35
,3
35
,5
35
,5
35,
5
35
,5
FER
35,7 36,
5
36
,8
36
,8
36
,8
36
,8
36
,2
36,
4
36,
5
36
,7
36
,7
36
,1
36
,1
36
,3
36
,3
36
,5
36
,4
36
,4
36
,4
36,
4
36
,4
EKA
36,5 35,
5
35
,5
35
,6
35
,9
35
,4
36 36,
5
36,
8
36
,8
36
,9
35
,5
36
,0
36
,2
36
,3
36
,5
36
,4
36
,4
36
,4
36,
3
36
,3
JUM
35,9 35,
3
35
,8
35
,9
35
,9
36
,3
36
,3
36,
2
36,
2
36
,2
36
,2
35
,4
35
,4
35
,7
35
,6
35
,6
36
,1
36
,1
36
,1
36,
1
36
SDN
36,1 35,
9
36
,5
36
,3
36
,4
36
,5
36
,3
36,
3
36,
5
36
,2
36
,5
36
,7
36
,7
36
,6
36
,6
36
,6
36
,6
36
,6
36
,7
36,
6
36
,7
GWS
35,9 35,
9
35
,8
36
,3
36
,2
36
,3
35
,4
35,
8
35,
7
35
,8
35
,7
36 35
,9
36
,1
36
,1
36
,0
35
,6
35
,5
36 35,
6
36
UKS
35,7 36 36
,1
36
,6
35
,7
36
,0
36
,1
36 35,
9
36 36
,1
36 35
,7
35
,6
35
,7
36 36 35
,7
35
,6
35,
7
35
,7
Rerata 35,85 35,
56
35
,6
35
,8
35
,7
35
,8
35
,8
35, 36, 36
,0
36
,0
35
,8
35
,8
36
,0
36
,1
36
,1
35
,9
33
,7
36
,0
36, 36
,0
4 1 9 2 6 96 04 1 8 3 5 8 1 8 8 1 8 02 6
F. Analisis Data
Berdasarkan hasil pengukuran suhu tubuh di atas, berikut ini rerata pada tiap kondisi yang
sebelumnya dicatat.
Suhu
Normal
Menit ke-
Diberi Air Es Diberi Air Panas
Selama Perlakuan
35,85
1 35,58 35,84
2 35,64 35,86
3 35,81 36,08
4 35,79 36,11
5 35,82 36,18
Rerata 35,73 35,99
Setelah Perlakuan
1 35,86 35,98
2 35,96 35,99
3 36,04 36,08
4 36,00 36,02
5 36,08 36,06
Rerata 36,01 36,02
Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan rerata suhu tubuh probandus saat dikenai
perlakuan dan setelah dikenai perlakuan.
Keterangan:
1. Warna biru menunjukkan suhu normal.
2. Mulai menit ke-6 menunjukkan perlakuan sudah dihentikan.
G. Pembahasan
Pada praktikum ini, dilakukan uji pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh
masing-masing probandus. Pengukuran suhu tubuh normal dilakukan pada tahap awal
praktikum. Selanjutnya, pengkuran suhu dilakukan tiap lima menit saat probandus dikenai
perlakuan pemberian air es dan perlakuan pemberian air panas pada bagian tengkuk.
Pengukuran juga dilakukan tiap lima menit setelah treatment selesai dilakukan.
Data hasil pengamatan menunjukkan adanya perubahan suhu pada masing-masing
kondisi. Secara umum, suhu tubuh rerata probandus adalah 35,85°C. Berdasarkan jenis
kelamin, ditemukan suhu tubuh normal probandus laki-laki lebih tinggi dibanding suhu rerata
probandus wanita. Suhu tubuh probandus laki-laki adalah 36,3°C sedangkan suhu tubuh
probandus wanita adalah 35,7°C. Hasil ini sesuai dengan teori yang memaparkan bahwa suhu
tubuh pria secara umum lebih tinggi daripada suhu tubuh wanita. Meski demikian, simpulan
pada data ini hanya berupa dugaan karena jumlah probandus laki-laki yang terlalu sedikit,
yakni hanya 2 orang dibanding probandus wanita yang jumlahnya 14 orang.
Adapun, pada kondisi setelah diberi perlakuan air es, rerata suhu tubuh probandus
mengalami penurunan menjadi 35,76°C atau menurun sebesar 0,09°C. Berikutnya setelah
treatment, suhu tubuh rerata tercatat 35,99°C atau meningkat 0,23°C dari suhu saat
perlakukan dan 0,14 dibanding suhu tubuh normal. Perubahan suhu dari menit ke menit
sendiri cenderung tidak begitu besar.
Pada treatment pemberian air panas, rerata suhu tubuh mengalami peningkatan
dibanding suhu awal, yakni menjadi 35,84°C. Setelah perlakuan selesai, suhu menunjukkan
penurunan menjadi 35,98°C. Perubahan suhu juga tidak terjadi secara signifikan dari menit ke
menit.
Berdasarkan temuan ini, terlihat bagaimana suhu tubuh terpengaruh lingkungannya
yang berupa air es maupun air panas pada awal perlakuan. Namun seiring berjalannya waktu
tampak tubuh memberikan respon berkebalikan (feedback negative). Dilihat pada rerata
perubahan suhu per menit, tampak bagaimana mulanya suhu turun kemudian meningkat
seiring berjalannya waktu terutama saat pemberian air es dihentikan pada menit ke-6. Pola
serupa terlihat pada perlakuan suhu panas. Rerata suhu awal mengalami peningkatan namun
seiring berjalannya waktu mengalami penurunan yang menunjukkan respon spesifik yang
diberikan tubuh.
Keterangan:
1. Warna biru menunjukkan suhu normal.
2. Mulai menit ke-6 menunjukkan perlakuan sudah dihentikan.
Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan, fenomena ini bisa dijelaskan menurut teori
regulasi suhu pada manusia sebagai hewan homeoterm. Organisme berdarah panas
(homeoterm) memiliki organ pengatur suhu tubuh yaitu hipothalamus agar suhu tubuh tetap
pada kondisi optimal. Pengaturan suhu badan (thermoregulasi) bertujuan agar panas yang
dihasilkan dari berbagai proses metabolisme dan yang diperoleh dari lingkungan sekitar harus
seimbang dengan banyaknya panas yang dikeluarkan dari tubuh. Regulasi panas badan
menggunakan sistem feedback (umpan balik negatif) artinya apabila panas badan melebihi
suhu optimal, maka hipothalamus akan berusaha menurunkan ke optimal dan sebaliknya
(Djukri dan Heru Nurcahyo, 2017: 17).
Berdasarkan prinsip tersebut, bisa dijelaskan mengapa perubahan yang terjadi pada suhu
tubuh probandus hanya menunjukkan sedikit perbedaan nilai yang kemudian direspon
berkebalikan. Pada saat tubuh dikenai air es maupun air panas, terjadi respon dari sel-sel saraf
hipothalamus yang selanjutnya akan menginstruksikan feedback negatif untuk
mempertimbangkan kondisi keseimbangan. Mekanisme ini hanya dimiliki organisme
homeoterm dan telah memberikan banyak manfaat. Salah satunya ialah dengan penjagaan
kondisi tubuh untuk metabolisme yang optimal tanpa sepenuhnya tergantung pada lingkungan
di sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A., Reece, J.B., & Mitchell, L.G. 2000. Biologi, edisi kelima-jilid2.
(Terjemahan Wasmen Manalu). Jakarta: Erlangga. (Buku asli diterbitkan tahun1999).
Djukri & Heru Nurcahyo. 2009.Petunjuk praktikum biologi.Yogyakarta: Prodi PSn
PPsUNY.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC
Soewolo, dkk. 1999. Fisiologi manusia. Malang: Universitas Negeri Malang
Syaifuddin. 2009. Fisiologi tubuh manusia untuk mahasiswa keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
http://www.academia.edu/7216188/Pengaruh_Suhu_Lingkungan_terhadap_Suhu_Tubuh
4. laporan praktikum biologi pengaruh suhu lingkungan ke suhu tubuh
4. laporan praktikum biologi pengaruh suhu lingkungan ke suhu tubuh

More Related Content

DOCX
11. laporan praktikum biologi preparat ulas vagina mencit
PPT
9.pengendalian mikroorganisme
DOCX
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN ABSORBSI DAN TRANSPIRASI
PPTX
Praktikum ketiga kelompok 4
PDF
GERAK REFLEKS PADA SPINAL KATAK SAWAH (Fejervarya cancrivora)
PDF
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR GENETIKA DAN PEMULIAAN TANAMAN PERSILANGAN MONO...
DOC
Laporan Mikrobiologi - Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
DOC
Laporan praktikum uji protein (dg uji biuret)
11. laporan praktikum biologi preparat ulas vagina mencit
9.pengendalian mikroorganisme
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN ABSORBSI DAN TRANSPIRASI
Praktikum ketiga kelompok 4
GERAK REFLEKS PADA SPINAL KATAK SAWAH (Fejervarya cancrivora)
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR GENETIKA DAN PEMULIAAN TANAMAN PERSILANGAN MONO...
Laporan Mikrobiologi - Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
Laporan praktikum uji protein (dg uji biuret)

What's hot (20)

PDF
Laporan praktikum media
PPT
Bukti–Bukti Evolusi
PDF
Laporan Praktikum 3 Amphibia
DOCX
LAPORAN PRAKTIKUM PENGENALAN ALAT-ALAT MIKROBIOLOGI
DOCX
Laporan praktikum estimasi populasi hewan
PDF
Genetika populasi
PPTX
Cawan petri, jarum ose, spkulum
DOCX
Laporan Fisiologi Tumbuhan VIII Pengaruh Hormon Auksin Terhadap Pemanjangan J...
DOC
Laporan Mikrobiologi - Pengamatan Morfologi Fungi
DOCX
Uji Xantoprotein
PPT
PPT ORGANEL SEL
DOCX
Laporan sterilisasi, pembuatan media, dan teknik inokulasi
DOCX
Laporan ekologi hewan fisiologi ikan
DOCX
Laporan genetika bab awal
PPTX
Interaksi mikroba 2011
DOC
119891062 pengenalan-alat-alat-laboratorium-kimia-beserta-fungsinya
PDF
Laporan 1 alat ek um
DOCX
Teknik isolasi mikroba
PDF
Laporan siklus hidup lalat buah " DROSOPHILA MELANOGASTER
Laporan praktikum media
Bukti–Bukti Evolusi
Laporan Praktikum 3 Amphibia
LAPORAN PRAKTIKUM PENGENALAN ALAT-ALAT MIKROBIOLOGI
Laporan praktikum estimasi populasi hewan
Genetika populasi
Cawan petri, jarum ose, spkulum
Laporan Fisiologi Tumbuhan VIII Pengaruh Hormon Auksin Terhadap Pemanjangan J...
Laporan Mikrobiologi - Pengamatan Morfologi Fungi
Uji Xantoprotein
PPT ORGANEL SEL
Laporan sterilisasi, pembuatan media, dan teknik inokulasi
Laporan ekologi hewan fisiologi ikan
Laporan genetika bab awal
Interaksi mikroba 2011
119891062 pengenalan-alat-alat-laboratorium-kimia-beserta-fungsinya
Laporan 1 alat ek um
Teknik isolasi mikroba
Laporan siklus hidup lalat buah " DROSOPHILA MELANOGASTER
Ad

Similar to 4. laporan praktikum biologi pengaruh suhu lingkungan ke suhu tubuh (20)

DOCX
Judullllll 2
PPT
suhu tubuh.ppt
PPTX
Keperawatan dasar KEBUTUHAN SUHU TUBUH MANUSIA.pptx
PPTX
asuhan keperawatan kebuthan kenyaman. suhu tubuh
PPTX
TERMOREGULASI TUBUH MANUSIA S1 KEP .pptx
PPTX
Pembahasan Termoreseptor Integumen
DOCX
DOCX
PPT
Termoregulasi
PPTX
Termoregulasi baru
PPTX
Termoregulasi pada manusia kontrola.pptx
PPTX
TERMO.pptx
DOC
sistem termoregulasi
PPT
Suhu tubuh
PPT
Suhu tubuh
DOCX
DOCX
PPTX
Pengaturan suhu tubuh materi 2023/24.pptx
DOCX
Patofisiologi demam
PPT
termoregulasi-baru-1-termoregulasi-baru-1.ppt
Judullllll 2
suhu tubuh.ppt
Keperawatan dasar KEBUTUHAN SUHU TUBUH MANUSIA.pptx
asuhan keperawatan kebuthan kenyaman. suhu tubuh
TERMOREGULASI TUBUH MANUSIA S1 KEP .pptx
Pembahasan Termoreseptor Integumen
Termoregulasi
Termoregulasi baru
Termoregulasi pada manusia kontrola.pptx
TERMO.pptx
sistem termoregulasi
Suhu tubuh
Suhu tubuh
Pengaturan suhu tubuh materi 2023/24.pptx
Patofisiologi demam
termoregulasi-baru-1-termoregulasi-baru-1.ppt
Ad

More from Sofyan Dwi Nugroho (9)

DOCX
10. laporan praktikum biologi preparat squash ujung akar bawang merah
DOCX
9. laporan praktikum biologi struktur akar, batang, dan daun
DOCX
8. laporan praktikum biologi respirasi kecambah
DOC
7. laporan praktikum biologi analisis vegetasi di hutan wanagama
DOCX
6. laporan praktikum biologi uji golongan darah dengan system ABO
DOCX
5. laporan praktikum biologi perambatan bunyi melalui tulang tengkorak
DOCX
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
DOCX
1. laporan praktikum biologi tekanan darah
DOCX
2. laporan praktikum biologi pengaruh tekanan osmotik terhadap membran eritrosit
10. laporan praktikum biologi preparat squash ujung akar bawang merah
9. laporan praktikum biologi struktur akar, batang, dan daun
8. laporan praktikum biologi respirasi kecambah
7. laporan praktikum biologi analisis vegetasi di hutan wanagama
6. laporan praktikum biologi uji golongan darah dengan system ABO
5. laporan praktikum biologi perambatan bunyi melalui tulang tengkorak
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
1. laporan praktikum biologi tekanan darah
2. laporan praktikum biologi pengaruh tekanan osmotik terhadap membran eritrosit

Recently uploaded (20)

PDF
Materi Pendidikan Agama Islam - Kelas 11 SMA - Berpikir Kritis dan Mengembang...
PDF
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
PDF
Stop Bullying NO Bully in school SMA .pdf
DOCX
Modul Ajar Pembelajaran Mendalam Fisika Kelas XII SMA Terbaru 2025
PDF
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika Terapan_22 Agus 2025.pdf
DOCX
Modul Ajar Deep Learning Informatika Kelas 10 SMA Terbaru 2025
PPTX
PPT MODUL 3 PENYELARASAN VISI MISI DENGAN OEMBELAJARAN MENDALAM
PDF
Buku Teks KSSM Sains Sukan Tingkatan Empat
PPTX
1 - Hubungan Pancasila UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bhinneka Tun...
PPT
Inkuiri Kolaboratif bagi guru di Satuan Pendidikan .ppt
DOCX
Download Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta ( KBC ) Bahasa Arab Kelas 10 Ter...
PPTX
Power Point Materi Tanda Baca Kelas III SD
DOCX
Modul Ajar Deep Learning PKWU Pengelolaan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
PDF
MRT Tangguh, Indonesia Maju: Mewujudkan Transportasi Publik yang Aman, Nyaman...
DOCX
Modul Ajar Pembelajaran Mendalam Ekonomi Kelas X SMA Terbaru 2025
PDF
Asal-usul Postmodernitas & materi singkat.pdf
PPTX
Bahan Ajar PAI 8 BAB 2 iman kepada kitab Allah.pptx
PDF
Faktor-Faktor Pergeseran dari Pemasaran Konvensional ke Pemasaran Modern
PPTX
893548301-Panduan-Kokurikuler-Tahun_2025.pptx
PDF
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
Materi Pendidikan Agama Islam - Kelas 11 SMA - Berpikir Kritis dan Mengembang...
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
Stop Bullying NO Bully in school SMA .pdf
Modul Ajar Pembelajaran Mendalam Fisika Kelas XII SMA Terbaru 2025
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika Terapan_22 Agus 2025.pdf
Modul Ajar Deep Learning Informatika Kelas 10 SMA Terbaru 2025
PPT MODUL 3 PENYELARASAN VISI MISI DENGAN OEMBELAJARAN MENDALAM
Buku Teks KSSM Sains Sukan Tingkatan Empat
1 - Hubungan Pancasila UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bhinneka Tun...
Inkuiri Kolaboratif bagi guru di Satuan Pendidikan .ppt
Download Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta ( KBC ) Bahasa Arab Kelas 10 Ter...
Power Point Materi Tanda Baca Kelas III SD
Modul Ajar Deep Learning PKWU Pengelolaan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
MRT Tangguh, Indonesia Maju: Mewujudkan Transportasi Publik yang Aman, Nyaman...
Modul Ajar Pembelajaran Mendalam Ekonomi Kelas X SMA Terbaru 2025
Asal-usul Postmodernitas & materi singkat.pdf
Bahan Ajar PAI 8 BAB 2 iman kepada kitab Allah.pptx
Faktor-Faktor Pergeseran dari Pemasaran Konvensional ke Pemasaran Modern
893548301-Panduan-Kokurikuler-Tahun_2025.pptx
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka

4. laporan praktikum biologi pengaruh suhu lingkungan ke suhu tubuh

  • 1. LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI “PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERHADAP SUHU TUBUH” Dosen Pengampu: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes Disusun Oleh : Nama: Sofyan Dwi Nugroho NIM : 16708251021 Prodi : Pendidikana IPA Kelas B PRODI PENDIDIKAN SAINS PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2017
  • 2. PENGARUH SUHU LINGKUNGAN TERHADAP SUHU TUBUH A. Tujuan A.1. Tujuan Kegiatan Mahasiswa dapat melakukan pengukuran suhu tubuh dan mengamati pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh manusia. A.2. Kompetensi Khusus Mahasiswa dapat melakukan pengukuran suhu tubuh dan mengamati pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh manusia. B. Tinjauan Teori Hipothalamus merupakan organ pengatur suhu tubuh yang dimiliki oleh organisme berdarah panas (homeoterm). Sel-sel saraf hypothalamus peka terhadap perubahan suhu badan internal terutama suhu darah. Hipothalamus ibarat thermostat yang berada di bawah otak. Ada dua macam hypothalamus yaitu hypothalamus anterior dan hypothalamus posterior. Hipothalamus anterior berguna untuk mengatur pembuangan panas, sedangkan hypothalamus posterior berguna untuk mengatur penyimpanan panas. Manusia memiliki suhu optimal sebesar 37,1°C. Pengaturan atau proses regulasi suhu badan bertujuan untuk menjaga keseimbangan panas yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh dan lingkungan sekitar dengan banyaknya panas yang dikeluarkan oleh tubuh. Proses pembebasan panas tubuh dapat melalui kulit, mulut, saluran pernapasan, feses dan urin. Mekanisme regulasi panas disebut neuro-endokrin karena melibatkan system saraf, hormon dan berlangsung sangat cepat. Regulasi panas badan menggunakan system feedback ( umpan balik negative), apabila panas badan melebihi suhu optimal maka hypothalamus berusaha menurunkan ke suhu optimal dan sebaliknya. Suhu lingkungan tinggi atau suhu badan yang meningkat 1 - 2° C akan mempengaruhi sel-sel saraf hipothalam untuk mengintruksikan lewat neuroendokrin ke safar perifer untuk meningkatkan sirkulasi darah perkier yang ada di bawah kulit dan meningkatkan keringat sehingga panas bada banyak yang keluar. Suhu darah yang telah turun akan mempengaruhi hipotalamus dan mengintruksikan agar aktivitas sel-sel saraf diturunkan sehingga suhu badan tetap dalam kondisi optimal.
  • 3. Bila tubuh terasa panas, ada kecenderungan tubuh meningkatkan kehilangan panas ke lingkungan; bila tubuh merasa dingin maka kecenderungannya menurunkan kehilangan panas. Jumlah panas yang hilang ke lingkungan melalui rdiasi dan konduksi –konveksi ditentukan oleh perbedaan suhu antara kulit dan lingkungan eksternal. Bagian pusat tubuh merupakan ruang yang memiliki suhu yang dijaga tetap sekitar 37° C ( Soewolo dkk, 205: 287) Apabila es menempel langsung pada kulit maka pembuluh darah kulit berkontraksi sampai 15°C yang akan menyebabkan dilatasi sebagai efek langsung pendinginan setempat terhadap pembuluh darah tersebut. Mekanisme kontraksi dingin membuat hambatan impuls saraf datang ke pembuluh tersebut pada suhu mendekati 0°C sehingga pembuluh darah mencapai vasodilatasi maksimum.Hal ini dapat mencegah pembekuan bagian tubuh yang terkena terutama tangan dan telinga (Syaifuddin, 2009: 324). Pengaturan suhu tubuh manusia merupakan contoh suatu sistem homeo-stasis kompleks yang fasilitasi oleh mekanisme umpan balik. Sel-sel saraf yang mengatur termoregulasi, dan juga sel-sel saraf yang mengontrol banyak aspek lain dari homeostasis terpusat di hipotalamus. Hipotalamus memiliki termofosfat yang merespon pada perubahan suhu di atas dan di bawah kisaran suhu normal dengan cara mengaktifkan mekanisme yang memperbanyak hilangnya panas atau perolehan panas (lihat gambar 1). Sel-sel saraf yang mengindera suhu tubuh terletak pada kulit, hipotalamus itu sendiri, dan beberapa bagian lain sistem saraf. Beberapa diantaranya adalah reseptor panas yang memberi sinyal kepada termofosfat hipotalamus ketika suhu kulit atau darah meningkat dan reseptor dingin yang mensinyal termofosfat ketika suhu turun. Termofosfat itu merespon terhadap suhu tubuh di bawah kisaran normal dan menghambat mekanisme kehilangan panas serta mengaktifkan mekanisme penghematan panas seperti vasokonstriksi pembuluh superfisial dan berdirinya bulu atau rambut, sementara merangsang mekanisme yang membangkitkan panas (termogenesis melalui menggigil dan tanpa menggigil). Sebagai respon terhadap suhu tubuh yang meningkat, termofosfat mematikan (menginaktifkan) mekanisme penghematan panas dan meningkatkan pendinginan tubuh melalui vasodilatasi, berkeringat, atau painting. (Campbell dkk, 2000: 106).
  • 4. Gambar 1. Fungsi Termofosfat Hipotalamus Dan Mekanisme Umpan-Balik Pada Termoregulasi Pada Manusia Sumber: (Campbell et al. 2000) Read more: http://www.zonabiokita.web.id/2017/6/pengaruh-suhu-lingkungan- terhadap-suhu.html#ixzz4k8xJBDpz Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal, manusia secara homeostatis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi kelangsungan metabolisme yang stabil. Bahkan peningkatan suhu tubuh sedikit saja sudah dapat menimbulkan
  • 5. gangguan fungsi saraf dan denaturasi protein yang ireversibel. Suhu tubuh normal secara tradisional dianggap berada pada 37°C (98,6°F). Namun sebenarnya tidak ada suhu tubuh “normal” karena suhu bervariasi dari organ ke organ. Dari sudut pandang termoregulatorik, tubuh dapat dianggap sebagai suatu inti di tengah (central core) dengan lapisan pembungkus di sebelah luar (outer shell). Suhu di inti bagian dalam yang terdiri dari organ- organ abdomen dan toraks, sistem saraf pusat, serta otot rangka, umumnya relative konstan sekitar 37,8o C (100o F). Suhu inti internal inilah yang dianggap sebagai suhu tubuh dan menjadi subjek pengaturan ketat untuk mempertahankan kestabilannya. Suhu kulit dapat berfluktuasi antara 20o C (68o F) dan 40o C (104o F) tanpa mengalami kerusakan. Ini karena suhu kulit sengaja diubah-ubah sebagai tindakan kontrol untuk membantu mempertahankan agar suhu di tengah tetap konstan (Sherwood, 2001) Suhu tubuh dipengaruhi oleh exercise, hormon, system saraf, asupan makanan, gender, iklim dan status malnutrisi. Pada proses termoregulasi, aliran darah berubah-ubah mengalami vasodilatasi pembuluh darah kulit yaitu peningkatan aliran darah panas ke kulit yang akan meningkatkan kehilangan panas. Sebaliknya vasokontriksi pembuluh darah kulit mengurangi aliran darah ke kulit untuk menjaga suhu pusat tubuh konstan. Darah diinsulasi dari lingkungan eksternal yang akan menurunkan kehilangan panas. Respon-respon vasomotor kulit dikoordinasi oleh hipotalamus melalui jalur sistem parasimpatik. Aktivitas simpatetik yang ditingkatkan ke pembuluh kutaneus menghasilkan penghematan panas vasokonstriksi untuk merespon suhu dingin, sedangkan penurunan aktivitas simpatetik menghasilkan kehilangan panas vasodilatasi pembuluh darah kulitsebagai respon terhadap suhu panas (Soewolo dkk, 2005: 287-288) Mekanisme tubuh terhadap kompres air hangat dapat menurunkan suhu tubuh sebagai berikut: a. kompres hangat pada daerah tubuh memberikan sinyal ke hipothalamus melalui sumsum tulang belakang. b. ketika reseptor yang peka terhadap panas dihipotalamus dirangsang, maka sistem effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. c. perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, di bawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan
  • 6. energi/panas melalui kulit meningkat ( berkeringat ), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali. Apabila kita memberikan rangsangan dingin pada kulit, maka pada jaringan yang terkena rangsangan tersebut akan mengalami penurunan temperature (cooling), hal ini akan diikuti dengan : a. penurunan tingkat metabolisme b. terjadi vasokonstriksi arteriole yang timbul akibat pengurangan terbentuknya metabolit berupa CO2 dan asam laktat serta pengaruh dingin terhadap pembuluh darah, c. Vasokonstriksi juga terjadi pada pembuluh darah kulit berlangsung secara reflektoris karena kulit sabagai komponen thermoregulator (pengatur panas) bereaksi terhadap adanya rangsangan dingin. d. Vasokonstriksi yang terjadi akan menurunkan kecenderungan terbentuknya cairan edema dan penurunan produksi cairan limfe, karena permeabilitas dinding pembuluh darah menurun. e. Dingin akan menginduksi pembuluh darah vena, sehingga terjadi vakonstriksi pembuluh darah vena dan ini akan menaikkan tekanan venosa. C. Alat dan Bahan Untuk pengukuran suhu tubuh poikiloterm praktikan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut a) Termometer badan, b) Alat kompres air c) Air es d) Air panas e) Pengukur waktu D. Cara Kerja Dalam pengukuran suhu tubuh homeoterm dalam hal ini praktikan digunakan termometer badan yang skalanya 35-43°C. Ada berbagai tempat yang biasa digunakan untuk pengukuran suhu tubuh antara lain: aksial (ketiak), sublingual (oral), dan anal (anus).
  • 7. a) Sebelum menggunakan termometer harus menunjukkan skala terendah, hal ini dilakukan dengan cara mengibas-ngibaskan termometer tersebut. Untuk melakukan hal ini perlu hati- hati karena sering secara tidak sengaja menyentuh tubuh teman atau benda keras lainnya yang dapat mengakibatkan pecahnya termometer. b) Menaruh termometer tersebut pada ketiak praktikan selama kurang lebih 3 menit, kemudian mengamati skalanya dan mencatat suhunya. Setelah itu pada leher menempelkan kompres air dingin selama lima menit, kemudian mengukur suhu tubuh seperti langkah a) dan mengamati setiap 1 menit. Mengulangi dengan mengganti kompres air hangat. Mencatat apakah ada perbedaan suhu tubuh praktikan pada sebelum dan sesudah perlakuan. E. Hasil Pengamatan Kode Nama Suhu Normal Suhu pada Waktu ke- Saat Dipaparkan Air Dingin Setelah Dipaparkan Air Dingin Saat Dipaparkan Air Panas Setelah Dipaparkan Air Panas 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 WA 36,2 35, 1 35 ,2 36 ,4 36 ,4 36 ,3 36 ,3 36, 4 36, 2 36 ,2 36 ,2 36 ,4 36 ,4 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36, 2 36 ,2 AN 35,7 36 35 ,9 36 36 ,2 36 ,2 36 ,2 36, 2 36, 1 35 ,4 36 35 ,8 36 ,1 36 ,3 36 ,3 36 ,3 36 ,3 36 ,4 36 ,4 36, 4 36 ,4 LW 35,0 35, 4 35 ,3 35 ,1 35 ,1 35 ,2 35 ,3 35, 3 36 36 36 35 ,5 35 ,5 35 ,9 35 ,9 35 ,9 35 ,9 35 ,9 36 ,3 36, 2 36 ,2 YNK 35,6 35, 3 35 ,3 35 ,3 35 ,2 35 ,2 35 ,3 35, 3 35, 3 35 ,3 35 ,3 35 ,8 36 36 ,4 36 ,5 36 ,9 35 ,3 35 ,3 35 ,3 35, 3 35 ,3 CSW 35,7 35, 7 35 ,4 35 ,3 35 ,3 35 ,3 35 ,7 35, 7 35, 7 35 ,7 35 ,7 35 ,7 35 ,7 36 36 ,3 36 ,3 35 ,7 35 ,7 35 ,7 35, 7 35 ,7 ERW 35,6 35 35 ,5 35 ,7 35 ,7 35 ,7 35 35, 4 35, 6 35 ,6 35 ,8 36 36 36 36 36 35 35 ,4 35 ,6 35, 6 35 ,8 LMP 35,6 34 34 34 34 34 35 ,7 35, 6 35, 6 35 ,6 35 ,6 35 ,3 35 ,6 35 ,6 35 ,7 35 ,7 35 ,7 35 ,6 35 ,6 35, 6 35 ,6 EKO 36,5 35, 9 35 ,8 35 ,8 35 ,8 35 ,8 36 ,3 36, 3 36, 7 36 ,7 36 ,7 35 ,9 35 ,5 35 ,9 35 ,4 35 ,4 36 ,3 36 ,3 36 ,7 36, 7 36 ,7 CAG 36,4 35, 8 35 ,5 35 ,5 35 ,6 35 ,7 36 ,4 36, 4 36, 4 36 ,4 36 ,4 36 ,3 36 ,4 36 ,7 36 ,7 36 ,7 36 ,4 36 ,4 36 ,4 36, 4 36 ,4 PRM 35,5 35, 9 35 ,9 36 ,4 36 ,4 36 ,4 35 ,3 35, 5 35, 5 35 ,5 35 ,5 35 34 ,7 35 ,4 35 ,8 35 ,8 35 ,3 35 ,5 35 ,5 35, 5 35 ,5 FER 35,7 36, 5 36 ,8 36 ,8 36 ,8 36 ,8 36 ,2 36, 4 36, 5 36 ,7 36 ,7 36 ,1 36 ,1 36 ,3 36 ,3 36 ,5 36 ,4 36 ,4 36 ,4 36, 4 36 ,4 EKA 36,5 35, 5 35 ,5 35 ,6 35 ,9 35 ,4 36 36, 5 36, 8 36 ,8 36 ,9 35 ,5 36 ,0 36 ,2 36 ,3 36 ,5 36 ,4 36 ,4 36 ,4 36, 3 36 ,3 JUM 35,9 35, 3 35 ,8 35 ,9 35 ,9 36 ,3 36 ,3 36, 2 36, 2 36 ,2 36 ,2 35 ,4 35 ,4 35 ,7 35 ,6 35 ,6 36 ,1 36 ,1 36 ,1 36, 1 36 SDN 36,1 35, 9 36 ,5 36 ,3 36 ,4 36 ,5 36 ,3 36, 3 36, 5 36 ,2 36 ,5 36 ,7 36 ,7 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36 ,6 36 ,7 36, 6 36 ,7 GWS 35,9 35, 9 35 ,8 36 ,3 36 ,2 36 ,3 35 ,4 35, 8 35, 7 35 ,8 35 ,7 36 35 ,9 36 ,1 36 ,1 36 ,0 35 ,6 35 ,5 36 35, 6 36 UKS 35,7 36 36 ,1 36 ,6 35 ,7 36 ,0 36 ,1 36 35, 9 36 36 ,1 36 35 ,7 35 ,6 35 ,7 36 36 35 ,7 35 ,6 35, 7 35 ,7 Rerata 35,85 35, 56 35 ,6 35 ,8 35 ,7 35 ,8 35 ,8 35, 36, 36 ,0 36 ,0 35 ,8 35 ,8 36 ,0 36 ,1 36 ,1 35 ,9 33 ,7 36 ,0 36, 36 ,0
  • 8. 4 1 9 2 6 96 04 1 8 3 5 8 1 8 8 1 8 02 6 F. Analisis Data Berdasarkan hasil pengukuran suhu tubuh di atas, berikut ini rerata pada tiap kondisi yang sebelumnya dicatat. Suhu Normal Menit ke- Diberi Air Es Diberi Air Panas Selama Perlakuan 35,85 1 35,58 35,84 2 35,64 35,86 3 35,81 36,08 4 35,79 36,11 5 35,82 36,18 Rerata 35,73 35,99 Setelah Perlakuan 1 35,86 35,98 2 35,96 35,99 3 36,04 36,08 4 36,00 36,02 5 36,08 36,06 Rerata 36,01 36,02 Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan rerata suhu tubuh probandus saat dikenai perlakuan dan setelah dikenai perlakuan. Keterangan: 1. Warna biru menunjukkan suhu normal. 2. Mulai menit ke-6 menunjukkan perlakuan sudah dihentikan.
  • 9. G. Pembahasan Pada praktikum ini, dilakukan uji pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh masing-masing probandus. Pengukuran suhu tubuh normal dilakukan pada tahap awal praktikum. Selanjutnya, pengkuran suhu dilakukan tiap lima menit saat probandus dikenai perlakuan pemberian air es dan perlakuan pemberian air panas pada bagian tengkuk. Pengukuran juga dilakukan tiap lima menit setelah treatment selesai dilakukan. Data hasil pengamatan menunjukkan adanya perubahan suhu pada masing-masing kondisi. Secara umum, suhu tubuh rerata probandus adalah 35,85°C. Berdasarkan jenis kelamin, ditemukan suhu tubuh normal probandus laki-laki lebih tinggi dibanding suhu rerata probandus wanita. Suhu tubuh probandus laki-laki adalah 36,3°C sedangkan suhu tubuh probandus wanita adalah 35,7°C. Hasil ini sesuai dengan teori yang memaparkan bahwa suhu tubuh pria secara umum lebih tinggi daripada suhu tubuh wanita. Meski demikian, simpulan pada data ini hanya berupa dugaan karena jumlah probandus laki-laki yang terlalu sedikit, yakni hanya 2 orang dibanding probandus wanita yang jumlahnya 14 orang. Adapun, pada kondisi setelah diberi perlakuan air es, rerata suhu tubuh probandus mengalami penurunan menjadi 35,76°C atau menurun sebesar 0,09°C. Berikutnya setelah treatment, suhu tubuh rerata tercatat 35,99°C atau meningkat 0,23°C dari suhu saat perlakukan dan 0,14 dibanding suhu tubuh normal. Perubahan suhu dari menit ke menit sendiri cenderung tidak begitu besar. Pada treatment pemberian air panas, rerata suhu tubuh mengalami peningkatan dibanding suhu awal, yakni menjadi 35,84°C. Setelah perlakuan selesai, suhu menunjukkan penurunan menjadi 35,98°C. Perubahan suhu juga tidak terjadi secara signifikan dari menit ke menit. Berdasarkan temuan ini, terlihat bagaimana suhu tubuh terpengaruh lingkungannya yang berupa air es maupun air panas pada awal perlakuan. Namun seiring berjalannya waktu tampak tubuh memberikan respon berkebalikan (feedback negative). Dilihat pada rerata perubahan suhu per menit, tampak bagaimana mulanya suhu turun kemudian meningkat seiring berjalannya waktu terutama saat pemberian air es dihentikan pada menit ke-6. Pola serupa terlihat pada perlakuan suhu panas. Rerata suhu awal mengalami peningkatan namun
  • 10. seiring berjalannya waktu mengalami penurunan yang menunjukkan respon spesifik yang diberikan tubuh. Keterangan: 1. Warna biru menunjukkan suhu normal. 2. Mulai menit ke-6 menunjukkan perlakuan sudah dihentikan. Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan, fenomena ini bisa dijelaskan menurut teori regulasi suhu pada manusia sebagai hewan homeoterm. Organisme berdarah panas (homeoterm) memiliki organ pengatur suhu tubuh yaitu hipothalamus agar suhu tubuh tetap pada kondisi optimal. Pengaturan suhu badan (thermoregulasi) bertujuan agar panas yang dihasilkan dari berbagai proses metabolisme dan yang diperoleh dari lingkungan sekitar harus seimbang dengan banyaknya panas yang dikeluarkan dari tubuh. Regulasi panas badan menggunakan sistem feedback (umpan balik negatif) artinya apabila panas badan melebihi suhu optimal, maka hipothalamus akan berusaha menurunkan ke optimal dan sebaliknya (Djukri dan Heru Nurcahyo, 2017: 17). Berdasarkan prinsip tersebut, bisa dijelaskan mengapa perubahan yang terjadi pada suhu tubuh probandus hanya menunjukkan sedikit perbedaan nilai yang kemudian direspon berkebalikan. Pada saat tubuh dikenai air es maupun air panas, terjadi respon dari sel-sel saraf hipothalamus yang selanjutnya akan menginstruksikan feedback negatif untuk mempertimbangkan kondisi keseimbangan. Mekanisme ini hanya dimiliki organisme homeoterm dan telah memberikan banyak manfaat. Salah satunya ialah dengan penjagaan
  • 11. kondisi tubuh untuk metabolisme yang optimal tanpa sepenuhnya tergantung pada lingkungan di sekitarnya. DAFTAR PUSTAKA Campbell, Neil A., Reece, J.B., & Mitchell, L.G. 2000. Biologi, edisi kelima-jilid2. (Terjemahan Wasmen Manalu). Jakarta: Erlangga. (Buku asli diterbitkan tahun1999). Djukri & Heru Nurcahyo. 2009.Petunjuk praktikum biologi.Yogyakarta: Prodi PSn PPsUNY. Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC Soewolo, dkk. 1999. Fisiologi manusia. Malang: Universitas Negeri Malang Syaifuddin. 2009. Fisiologi tubuh manusia untuk mahasiswa keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. http://www.academia.edu/7216188/Pengaruh_Suhu_Lingkungan_terhadap_Suhu_Tubuh