Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Daftar Isi
Tajuk Utama
- Membangun Adaptasi Ketahanan
iklim pedesaan melalui Pember-
dayaan Komunitas dengan PACDR 2
- PACDR: Menggali Pengetahuan
Lokal untuk Membangun Desa
Tangguh Iklim 3
- Menguatkan Ketahanan Iklim Pe-
desaan melalui Pendekatan PACDR 4
Advokasi
- Protes Warga Batalkan Konstate-
ring Lahan Pemakaman Elite di
Sibolangit 5
Pertanian
- Petani Desa Dame Belajar Hadapi
Iklim Lewat Sekolah Lapang Padi 6
Kesehatan Alternatif
- Kenali Manfaat Daun Singkong
untuk Kesehatan! 7
Profil
- Rianta br Sinaga Perempuan Tang-
guh dari Dolok Masihul 8
1
Edisi 61 / Mei - Juli 2025
Untuk Kalangan Terbatas
bitranet
newsletter
Jalan Menuju Ketahanan Iklim Pedesaan
yang Inklusif dan Berkelanjutan
HIV/AIDS Jauhi Penyakitnya,
Bukan Orangnya
Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan
kenyataan hari ini yang semakin nyata dirasakan oleh masyarakat
pedesaan. Kekeringan berkepanjangan, banjir mendadak, hingga
perubahan pola tanam yang tak menentu menjadi tantangan nyata
bagi petani, nelayan, dan komunitas lokal lainnya. Dalam menghadapi
kompleksitas ini, pendekatan partisipatif dalam penilaian risiko iklim
dan bencana menjadi kunci. Salah satunya adalah melalui Participatory
Assessment of Climate and Disaster Risks (PACDR), sebuah metode yang
tidak hanya menilai risiko, tetapi juga membangun kapasitas komunitas
untuk bertahan dan beradaptasi.
PACDR menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses
penilaian risiko. Ini sangat penting, karena masyarakat lokal adalah
pihak yang paling memahami perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Dengan pendekatan ini, komunitas tidak lagi diposisikan sebagai objek
yang “dibantu”, tetapi sebagai subjek yang berdaya, yang terlibat aktif
dalam memetakan ancaman dan potensi adaptasi yang mereka miliki.
Salah satu kekuatan utama dari PACDR adalah kemampuannya
membangun kesadaran kolektif. Melalui diskusi kelompok, pemetaan
partisipatif, dan penilaian sumber daya lokal, warga desa dapat
memahami keterkaitan antara aktivitas mereka, kerentanan yang mereka
hadapi, dan dampak perubahan iklim. Misalnya, dalam beberapa studi
lapangan, masyarakat yang mengikuti PACDR mampu mengidentifikasi
bahwa penebangan pohon di daerah hulu memperparah banjir tahunan
yang merusak sawah mereka. Kesadaran ini kemudian menjadi dasar
bagi aksi bersama untuk konservasi dan reboisasi.
Lebih dari itu, PACDR juga berfungsi sebagai alat advokasi. Hasil dari
proses partisipatif ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana
adaptasi desa, yang kemudian disinergikan dengan perencanaan
pembangunan daerah. Dengan begitu, suara komunitas yang rentan
memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi kebijakan dan alokasi
anggaran publik.
Ketahanan iklim bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga
tentang memperkuat daya lenting sosial dan kultural masyarakat. Dan
PACDR adalah salah satu cara paling menjanjikan untuk mewujudkannya.
(red)
Edisi 61 : Mei - Juli 2025
2
Tajuk Utama
Membangun Adaptasi Ketahanan iklim pedesaan melalui
Pemberdayaan Komunitas dengan PACDR
Perubahan iklim telah menja-
di tantangan nyata bagi masyarakat
pedesaan yang sangat bergantung
pada pertanian dan sumber daya
alam. Dampak seperti gagal panen,
kekeringan, banjir, dan pergeseran
musim tanam menjadikan mereka
kelompok yang paling rentan. Un-
tuk menjawab tantangan ini, pen-
dekatan Participatory Assessment of
Climate and Disaster Risks (PACDR)
hadir sebagai strategi adaptasi ber-
basis komunitas yang mendorong
ketahanan iklim secara partisipatif.
PACDR bertujuan memper-
kuat kapasitas masyarakat dalam
menghadapi dampak perubahan
iklim melalui pelibatan aktif dalam
proses analisis risiko, perencana-
an, dan pengambilan keputusan.
Pendekatan ini mendorong keman-
dirian masyarakat desa sekaligus
menjembatani kolaborasi antara
komunitas, pemerintah, LSM, dan
sektor swasta.
Salah satu keunggulan PACDR
adalah pemberdayaan masyarakat
lokal. Melalui pelatihan dan pen-
dampingan, masyarakat diper-
kenalkan pada praktik pertanian
berkelanjutan, pemilihan varietas
tanaman tahan iklim ekstrem, serta
pengelolaan sumber daya yang bi-
jak. Ini mendorong kesadaran dan
kemandirian masyarakat dalam
memilih solusi adaptasi yang sesuai
konteks lokal.
PACDR juga menekankan pen-
tingnya diversifikasi mata penca-
harian. Ketergantungan pada satu
sektor seperti pertanian dapat
memperbesar risiko ekonomi aki-
bat perubahan iklim. Oleh karena
itu, masyarakat didorong mengem-
bangkan alternatif usaha seperti
pengolahan hasil pertanian, pari-
wisata alam, atau usaha kecil lain-
nya.
Selain itu, pendekatan ini mem-
perkuat kemampuan masyarakat
dalam mengelola risiko bencana,
termasuk pelatihan mitigasi, sistem
peringatan dini, dan rencana tang-
gap darurat. Dengan kapasitas ini,
dampak bencana dapat ditekan dan
proses pemulihan pascabencana
menjadi lebih cepat.
Walau memiliki banyak potensi,
implementasi PACDR menghadapi
tantangan seperti keterbatasan ka-
pasitas teknis, pendanaan terbatas,
dan perlunya dukungan kebijakan
di tingkat daerah. Oleh karena itu,
keberlanjutan program sangat
bergantung pada kemitraan jang-
ka panjang, serta integrasi dalam
rencana pembangunan desa dan
daerah.
PACDR adalah pendekatan
adaptasi iklim yang menjanjikan
karena berbasis pada kekuatan lo-
kal, kolaboratif, dan berorientasi
solusi. Jika didukung oleh kebijakan
yang tepat dan pelibatan multipi-
hak secara konsisten, PACDR da-
pat menjadi fondasi penting dalam
membangun ketahanan iklim pe-
desaan yang tangguh, mandiri, dan
berkelanjutan.(hf)
Penerbit: Yayasan BITRA
Indonesia Medan
Pimpinan Umum: Rusdiana
Pimpinan Redaksi: M. Ikhsan
Dewan Redaksi: Iswan Kaputra,
Aprianta. T. Reporter: Erika
Rosmawati, Berliana, Q. Azam,
Misdi, Sudarmanto, Gregorius.
Fotografer: Budi, Icen
Manajemen Pelaksana: H. Fachri
Sirkulasi: Ade, Budi.
Redaksi: Jl. Bahagia By Pass
No. 11/35 Medan - 20218
Telepon: 061-787 6408
Email: bitraindo@gmail.com
Edisi 61 : Mei - Juli 2025 3
Perubahan iklim bukan se-
kadar isu global ia nyata dan sudah
terasa hingga ke pelosok desa. Ban-
jir yang tak terduga, musim tanam
yang berubah-ubah, hingga seran-
gan hama yang meningkat adalah
beberapa dampak yang kini dialami
masyarakat pedesaan. Dalam meng-
hadapi tantangan ini, pendekatan
Penilaian Partisipatif terhadap Ri-
siko Iklim dan Bencana atau PACDR
(Participatory Assessment of Clima-
te and Disaster Risks) hadir sebagai
cara efektif untuk membangun ke-
tahanan iklim berbasis komunitas.
Alih-alih memaksakan so-
lusi dari luar, PACDR mengajak
masyarakat desa sebagai aktor uta-
ma. Pendekatan ini memadukan
pengetahuan lokal dengan informa-
si ilmiah untuk mengidentifikasi ri-
siko yang dihadapi, potensi yang di-
miliki, dan tindakan nyata yang bisa
dilakukan. Dengan kata lain, warga
tidak hanya jadi penerima bantuan,
tapi juga perencana dan pelaksana
solusi.
Dalam proses PACDR,
masyarakat diajak untuk:
• Menganalisis dampak perubahan
iklim terhadap kehidupan mere-
ka sehari-hari.
• Memetakan sumber daya yang
dimiliki desa (alam, sosial, eko-
nomi).
• Menyusun strategi adaptasi lokal
yang realistis dan berkelanjutan.
• Mengembangkan rencana aksi
kolektif, baik dalam bidang per-
tanian, air bersih, pengelola-
an bencana, hingga kesehatan
masyarakat.
Di beberapa desa dampingan
Yayasan BITRA Indonesia, proses
PACDR telah menghasilkan peta
risiko iklim dan strategi adaptasi
yang konkret. Misalnya, masyarakat
mengubah jadwal tanam berdasar-
kan pengamatan lokal dan informa-
si BMKG, mengupayakan lumbung
pangan desa sebagai cadangan saat
gagal panen, hingga melakukan
konservasi air dan reboisasi di hulu
sungai.
Semuainidilakukanmelaluidis-
kusi kelompok, transek lapangan,
dan forum desa yang inklusif, me-
libatkan petani, perempuan, tokoh
adat, dan pemuda.
PACDR bukan sekadar kegia-
tan penilaian, ia adalah gerakan
membangun desa tangguh iklim
dari bawah ke atas. Pendekatan
ini memperkuat solidaritas warga,
memperkuat tata kelola lokal, dan
membuka peluang untuk mengak-
ses program-program adaptasi pe-
merintah maupun lembaga donor.
Ketika masyarakat tahu apa
yang mereka hadapi dan punya ren-
cana bersama, maka adaptasi tidak
lagi menjadi beban, tapi menjadi
jalan menuju kemandirian dan ke-
berlanjutan.
Dengan pendekatan partisipa-
tif, PACDR juga memastikan bahwa
kelompok rentan, seperti perem-
puan, lansia, dan keluarga miskin,
terlibat dalam setiap proses. Karena
perubahan iklim berdampak tidak
merata, maka keadilan iklim harus
menjadi bagian dari solusi.
PACDR adalah bukti bahwa ke-
tahanan iklim tidak harus rumit
atau mahal. Ia bisa dimulai dari hal
kecil: mendengar, memahami, dan
bergerak bersama. Di tengah peru-
bahan iklim yang semakin nyata,
membangun desa tangguh adalah
investasi masa depan yang tak ter-
nilai.(bd)
PACDR: Menggali Pengetahuan Lokal untuk
Membangun Desa Tangguh Iklim
Tajuk Utama
Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Tajuk Utama
Perubahan iklim telah mengu-
bah wajah kehidupan masyarakat
pedesaan secara signifikan. Peruba-
han pola hujan, suhu ekstrem, hing-
ga meningkatnya frekuensi bencana
seperti banjir dan kekeringan, telah
mengancam keberlanjutan pertani-
an dan mata pencaharian di desa. Di
tengah tantangan ini, pendekatan
Participatory Assessment of Climate
and Disaster Risks (PACDR) hadir
sebagai solusi yang tepat dan rele-
van untuk membangun ketahanan
iklim pedesaan secara inklusif dan
berkelanjutan.
PACDR adalah metode partisi-
patif yang melibatkan masyarakat
desa secara aktif dalam menilai risi-
ko iklim dan bencana di wilayah me-
reka. Dengan menggali pengalaman
lokal, pengetahuan tradisional, ser-
ta mengidentifikasi sumber daya
yang dimiliki, PACDR memungkin-
kan masyarakat memahami secara
lebih dalam risiko yang dihadapi
serta langkah-langkah mitigasi dan
adaptasi yang dapat dilakukan.
Relevansi PACDR dengan ke-
tahanan iklim pedesaan terletak
pada pendekatannya yang berbasis
komunitas dan kontekstual. Keta-
hanan iklim tidak bisa dibangun
secara top-down semata; diperlu-
kan pemahaman dari akar rumput
tentang bagaimana perubahan ik-
lim memengaruhi kehidupan me-
reka sehari-hari. Melalui PACDR,
masyarakat tidak hanya menjadi
objek, tetapi juga aktor utama dal-
am perencanaan dan pelaksanaan
strategi adaptasi.
Salah satu kekuatan PACDR ada-
lah kemampuannya untuk mengi-
dentifikasi kelompok rentan seperti
petani kecil, perempuan, dan lansia
yang sering kali paling terdampak
namun paling sedikit menerima
bantuan. Dengan melibatkan me-
reka dalam proses penilaian dan
pengambilan keputusan, program
Menguatkan Ketahanan Iklim Pedesaan melalui
Pendekatan PACDR
ketahanan iklim menjadi lebih adil
dan tepat sasaran.
Selain itu, hasil PACDR dapat
diintegrasikan dalam rencana pem-
bangunan desa seperti RPJMDes
atau RKPDes, sehingga kebijakan
desa memiliki dasar yang kuat da-
lam menghadapi risiko iklim. Ini
memberi ruang bagi desa untuk
menyusun program perlindungan
dan adaptasi, misalnya melalui
diversifikasi mata pencaharian,
sistem pertanian ramah iklim,
atau pembangunan infrastruktur
penanggulangan bencana.
Dengan demikian, PACDR bu-
kan hanya sekadar metode teknis,
melainkan juga alat pemberdayaan
masyarakat desa untuk mengelola
risiko secara mandiri. Pendekatan
ini sangat relevan dalam mem-
bangun desa yang tangguh terha-
dap perubahan iklim, memperkuat
kemandirian lokal, dan memastikan
pembangunan yang berkelanjutan
bagi generasi mendatang.(aa)
4
Edisi 61 : Mei - Juli 2025 5
Pengadilan Negeri (PN) Lu-
buk Pakam membatalkan proses
konstatering atas lahan seluas 75
hektare milik PT Nirvana Memorial
Nusantara di Kecamatan Sibolan-
git, Kabupaten Deli Serdang, Senin
(21/7/2025). Lahan tersebut ren-
cananya akan dijadikan kawasan
pemakaman elite. Namun, aksi
penolakan dari ratusan warga Desa
Rambung Baru dan Bingkawan
membuat proses hukum ini tak da-
pat dilanjutkan.
Konstatering adalah proses
mencocokkan objek sengketa
dengan kondisi nyata di lapangan
sebelum eksekusi putusan dilaku-
kan. Dalam kasus ini, konstatering
seharusnya menindaklanjuti putu-
san Mahkamah Agung tahun 2022
yang memenangkan PT Nirvana.
Namun, warga menolak karena
menganggap lahan yang diklaim
bukan milik perusahaan.
Juru sita PN Lubuk Pakam, Az-
hari Siregar, mengatakan konstate-
ring batal dilakukan karena adanya
penolakan dari masyarakat. Ia juga
menyebut terdapat kemungkinan
perbedaan lokasi objek gugatan
yang akan dilaporkan ke atasan.
Warga yang melakukan peno-
lakan tergabung dalam Kelompok
Tani Lepar Lau Tengah (KTLLT)
yang terdiri dari masyarakat Desa
Rambung Baru dan Bingkawan. Me-
reka menyatakan telah mengelola
lahan tersebut secara turun-temu-
run, lengkap dengan bukti makam
leluhur dan tanaman seperti duri-
an, duku, pinang, dan coklat yang
sudah berusia puluhan tahun.
Menurut Kepala Desa Rambung
Baru, Firman Tarigan, PT Nirva-
na salah mengklaim lokasi. “Tanah
yang mereka klaim masuk Desa
Rambung Baru, padahal lahan itu
ada di Desa Bingkawan. Ini kekeli-
ruan objek,” ujarnya.
Ratusan warga melakukan
aksi demonstrasi di depan lokasi
yang diklaim PT Nirvana. Mereka
membawa spanduk, menyerukan
penolakan, dan meminta agar lahan
mereka dikembalikan. Polisi yang
berjaga menghalau niat warga yang
sempat ingin menutup jalan lintas
Medan–Sibolangit.
“Hentikan eksekusi tanah kami.
Ini Rambung Baru, bukan Bingka-
wan. Kembalikan tanah kami,” teri-
ak warga.
Kepala Dusun I Desa Rambung
Baru, Jeremiah Ginting, menyebut
penolakan dilakukan karena PT
Nirvana mengklaim lahan tanpa
ganti rugi. “Kami minta keadilan.
Kalau memang gugatan salah objek,
Protes Warga Batalkan Konstatering Lahan
Pemakaman Elite di Sibolangit
kembalikan hak masyarakat,” ujar-
nya.
Warga berharap pengadilan dan
pemerintah segera meninjau ulang
lokasi sengketa agar tidak terjadi
pelanggaran atas hak masyarakat
adat dan petani pengelola lahan.
Dalam aksinya masyarakat
menyebut, tanahnya dirampas un-
tuk pendirian kawasan pemakaman
elit oleh PT Nirvana.
“Hentikan eksekusi tanah kami.
Ini Desa Rambung Baru bukan Bing-
kawan. Kembalikan tanah kami,”
kata masyarakat.
Sementara itu Jeremiah Ginting
Kepala Dusun I Desa Rambung Baru
menyebut, penolakan warga dilaku-
kan atas klaim sepihak yang dilaku-
kan PT Nirvana.
Dia menyebut, warga mera-
sa keberatan, sebab lahan mereka
yang telah dikelola puluhan tahun
diambil tanpa adanya ganti rugi.
“Ya kami harapkan keadilan,
bila ternyata gugatan yang diajukan
salah objek, tanah masyarakat ha-
rus dikembalikan,” ujarnya.
Warga pun sempat hen-
dak menutup jalan lintas Medan
menuju Sibolangit, namun petugas
kepolisian kemudian meminta agar
masyarakat tak menutup jalan.(bd)
Advokasi
Edisi 61 : Mei - Juli 2025
6
Pertanian
Semangat petani di Desa Dame,
Kecamatan Dolok Masihul, Kabu-
paten Serdang Bedagai, terlihat je-
las saat Sekolah Lapang Iklim (SLI)
resmi dibuka oleh Yayasan BITRA
Indonesia, (1/7). Kegiatan yang
berlangsung dari Juli hingga Sep-
tember 2025 ini dirancang khusus
untuk meningkatkan kapasitas pe-
tani dalam menghadapi dampak
perubahan iklim, khususnya pada
budidaya padi.
Program ini merupakan kola-
borasi antara Yayasan BITRA Indo-
nesia, BMKG, dan Pemerintah Desa
Dame. SLI menjadi sarana pembe-
lajaran langsung di lapangan bagi
para petani, mulai dari cara mem-
baca prakiraan musim, mengenali
gejala iklim ekstrem, hingga praktik
pertanian yang adaptif terhadap cu-
aca yang terus berubah.
Direktur Yayasan BITRA Indo-
nesia, Dra. Rusdiana, menjelaskan
pentingnya program ini sebagai
jawaban atas ketidakpastian iklim
yang semakin sering melanda sek-
tor pertanian.
“Sekolah Lapang Iklim ini kami
hadirkan sebagai upaya nyata agar
petani tidak hanya menunggu, tapi
mampu membaca kondisi cuaca
dan membuat keputusan pertanian
secara cerdas. Ini adalah langkah
membangun kemandirian dan keta-
hanan dari desa,” ujarnya.
Kepala Desa Dame, Fernando
Siahaan, SE, turut menyampaikan
rasa bangganya karena desanya
menjadi lokasi program perconto-
han.
“Ini adalah momentum yang
baik untuk meningkatkan kualitas
pertanian kita. Para petani kami
sangat antusias, dan kami siap
mendukung penuh agar ilmu yang
diperoleh benar-benar diterapkan
di lapangan,” katanya.
Sementara itu, Camat Dolok Ma-
sihul, Elmiyati, S.AP, hadir langsung
membuka kegiatan ini dan mem-
berikan dukungan penuh terhadap
inisiatif tersebut.
“Kami dari kecamatan menyam-
but positif program ini karena seca-
ra langsung membantu petani da-
lam memahami dan mengantisipasi
perubahan cuaca. Kegiatan seperti
ini sangat relevan untuk menjaga
ketahanan pangan dan ekonomi
masyarakat,” tutur Elmiyati.
Dengan pendampingan intensif
dan semangat gotong royong, Seko-
lah Lapang Iklim ini diharapkan
dapat menjadi model pembelajaran
pertanian adaptif, sekaligus mem-
perkuat daya tahan petani terhadap
krisis iklim di masa depan.
Selama tiga bulan ke depan, pe-
serta SLI akan mendapatkan mate-
ri secara bertahap dengan metode
partisipatif, mencakup pengamatan
harian cuaca, pencatatan pertum-
buhan tanaman, hingga diskusi ke-
lompok tentang solusi lokal yang
telah berhasil diterapkan. Metode
ini membuat petani tidak hanya
menjadi penerima ilmu, tetapi juga
aktor utama dalam proses adaptasi
iklim di lahannya sendiri.
Melalui program ini, BITRA In-
donesia berharap lahir generasi
petani yang tidak hanya tangguh se-
cara teknis, tetapi juga kritis terha-
dap tantangan perubahan iklim.
SLI menjadi bagian dari komitmen
jangka panjang untuk membangun
pertanian berkelanjutan, sekaligus
menjadikan Desa Dame sebagai
contoh desa tangguh iklim di Kabu-
paten Serdang Bedagai.(hf)
Petani Desa Dame Belajar Hadapi Iklim Lewat
Sekolah Lapang Padi
Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Edisi 61 : Mei - Juli 2025 7
Kesehatan Alternatif
Daun singkong sangat enak
dan menggugah selera saat telah di-
masak gulai atau urap, Selain lezat,
daun singkong mengandung ber-
bagai nutrisi yang baik bagi tubuh.
Hal tersebut membuat sayuran ini
memberikan banyak manfaat kese-
hatan. Mulai dari mengobati diare,
baik untuk ibu hamil, hingga meng-
atasi radang sendi.
Daun singkong (Manihot es-
culenta) sering kali hanya dikenal
sebagai pelengkap makanan tra-
disional. Padahal, di balik rasanya
yang gurih, sayuran ini menyimpan
berbagai manfaat kesehatan berkat
kandungan nutrisinya yang kaya.
Apa Saja Kandungan Gizi Daun
Singkong yang berkontribusi besar
bagi tubuh?
Dalam 100 gram daun singkong
rebus, terdapat nutrisi penting,
seperti:
• Protein – baik untuk otot dan
energi
• Serat – bantu pencernaan lancar
• Vitamin C – tingkatkan daya
tahan tubuh
sumsi daun singkong rebus bisa
bantu lawan bakteri jahat di pen-
cernaan.
• Naikkan Energi, Protein dan
asam amino bantu tubuh lebih
bertenaga.
• Lancar Sirkulasi Darah, Antioksi-
dan mendukung aliran darah ke
seluruh tubuh.
• Tangkal Radikal Bebas, Antioksi-
dan cegah sel tubuh rusak akibat
paparan zat berbahaya.
• Melancarkan Pencernaan, Kan-
dungan serat membantu mence-
gah sembelit.
• Sembuhkan Luka Ringan, Tum-
buk daun singkong dan oleskan
pada luka kecil.
• Turunkan Kolesterol, Flavon-
oid-nya efektif menurunkan ko-
lesterol dalam darah.
Daun singkong adalah sayuran
lokal yang murah meriah tapi kaya
manfaat! Dengan pengolahan yang
benar, kita bisa menjadikannya se-
bagai bagian dari pola makan sehat
keluarga. Ayo, hidup sehat dimulai
dari dapur rumah kita sendiri! (bd)
Kenali Manfaat Daun Singkong untuk Kesehatan!
• Zat besi – cegah anemia
• Magnesium – untuk kekuatan tu-
lang dan sendi
• Antioksidan – cegah radikal be-
bas
Manfaat Daun Singkong untuk Tu-
buh
• Atasi Diare, Kandungan etanol
dalam daun singkong membantu
menghentikan diare secara ala-
mi.
• Baik untuk Ibu Hamil, Zat besi
di dalamnya mencegah anemia
selama kehamilan.
• Meningkatkan Daya Tahan Tu-
buh, Vitamin C dan folat mem-
bantu tubuh melawan infeksi.
• Kurangi Radang Sendi, Kan-
dungan magnesium mengurangi
peradangan di persendian.
• Perkuat Tulang, Magnesium
juga bantu cegah tulang keropos
(osteoporosis).
• Bantu Diet Sehat, Seratnya ting-
gi, bikin kenyang lebih lama dan
nafsu makan lebih terkontrol.
• Cegah Infeksi Bakteri Usus, Kon-
Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Rianta br Sinaga Perempuan Tangguh dari Dolok Masihul
Profil
Di sebuah sudut tenang di Dusun IV
Desa Dame, Kecamatan Dolok Masihul,
Kabupaten Serdang Bedagai, hidup se-
orang perempuan petani yang menjadi
contoh keteguhan dan kemandirian.
Namanya Rianta br Sinaga, perempuan
56 tahun yang menjalani hidup seba-
gai petani sekaligus ibu tunggal bagi
lima anaknya.
Rianta bukan asli Dolok Masihul. Ia
menetap di sana sejak tahun 1989, se-
telah menikah dan ikut suaminya ting-
gal serta mengelola sawah bersama.
Selama lebih dari dua dekade, mereka
bertani bersama, hidup dari hasil panen
sawah yang sederhana namun cukup
untuk membesarkan keluarga. Namun,
2022, saat Rianta mendapat pendam-
pingan dari Yayasan BITRA Indonesia,
sebuah lembaga yang fokus pada
pemberdayaan petani kecil dan perta-
nian berkelanjutan. Dari pelatihan yang
ia ikuti, Rianta mulai mengenal konsep
pertanian organik, yang menggunakan
bahan alami tanpa pestisida dan pupuk
kimia sintetis.
Ketertarikannya bermula dari kein-
ginan untuk mengurangi biaya pro-
duksi, yang selama ini menjadi beban
terbesar dalam setiap musim tanam.
“Harga pupuk dan obat-obatan mahal
sekali. Saya pikir, kalau bisa buat sendi-
ri dari bahan alami, kenapa tidak dico-
ba?” ujarnya.
Dengan tekun, Rianta mulai belajar
membuat pupuk kompos, cairan pes-
tisida nabati, dan teknik pertanian or-
ganik lainnya. Meski sempat ragu dan
mendapatkan cibiran dari beberapa
petani lain, ia tetap berkomitmen men-
coba. Hasilnya cukup mengejutkan: ta-
nahnya tetap subur, padi tumbuh sehat,
dan biaya produksi turun drastis.
Kini, Rianta dikenal sebagai peta-
ni organik perempuan yang inspiratif
di desanya. Ia sering diminta berbagi
pengalaman oleh petani lain, terutama
perempuan, tentang bagaimana me-
mulai pertanian organik dengan sum-
ber daya terbatas. Ia pun aktif dalam
kelompok tani Mekar Sinur, kelompok
tani dampingan BITRA di desanya, dan
ia terus belajar mengembangkan per-
taniannya secara berkelanjutan.
Meski keempat anaknya telah
berkeluarga, Rianta masih hidup se-
derhana di rumahnya di tengah sawah
bersama anak bungsunya. Usianya
memang tak muda lagi, tapi seman-
gatnya tak luntur. Setiap pagi, ia tetap
turun ke sawah dengan semangat
yang sama seperti saat ia pertama kali
menggenggam cangkul belasan tahun
lalu.
Rianta br Sinaga bukan hanya peta-
ni. Ia adalah penjaga nilai hidup, keber-
lanjutan, dan ketahanan keluarga, yang
menunjukkan bahwa dengan kemauan,
pendampingan, dan sedikit keberanian,
seorang perempuan desa bisa bangkit
menjadi penggerak perubahan.(hf)
cobaan datang ketika suaminya me-
ninggal dunia pada tahun 2010. Sejak
saat itu, Rianta memikul beban sebagai
orang tua tunggal, mengasuh dan me-
nyekolahkan kelima anaknya, empat di
antaranya kini telah menikah.
“Waktu itu, saya bingung harus
mulai dari mana. Tapi saya tahu, saya
tidak boleh berhenti karena anak-anak
masih butuh saya,” ucap Rianta men-
genang masa-masa sulit itu. Ia pun
melanjutkan mengelola sawah warisan
keluarganya sendirian, meski harus
bersaing dengan keterbatasan tenaga,
modal, dan biaya produksi pertanian
yang terus meningkat.
Titik balik datang pada tahun

More Related Content

PDF
BITRANET edisi 60 dengan Tema Desa Ramah Iklim
PDF
BITRANET edisi 59 - Permakultur untuk Adaptasi Perubahan Iklim
PDF
Brosur Desa Ramah Iklim dalam Bahasa Indonesia
PDF
BITRANET edisi 58, Bahaya Dampak Perubahan Iklim
PDF
BITRANET edisi 57, Sekolah Lapang Iklim
PDF
BITRANET edisi 56. Pemanfaatan Sampah bagi Masyarakat Desa
PDF
BITRANET edisi 55. Adaptasi Pertanian Organik dengan Perubahan Iklim
PDF
BITRANET edisi 54, Tema, Permakultur untuk Ketahan Pangan Keluarga
BITRANET edisi 60 dengan Tema Desa Ramah Iklim
BITRANET edisi 59 - Permakultur untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Brosur Desa Ramah Iklim dalam Bahasa Indonesia
BITRANET edisi 58, Bahaya Dampak Perubahan Iklim
BITRANET edisi 57, Sekolah Lapang Iklim
BITRANET edisi 56. Pemanfaatan Sampah bagi Masyarakat Desa
BITRANET edisi 55. Adaptasi Pertanian Organik dengan Perubahan Iklim
BITRANET edisi 54, Tema, Permakultur untuk Ketahan Pangan Keluarga

More from BitraIndonesia (19)

PDF
BITRANET edisi 53. Tema, Desa Ramah Iklim
PDF
BITRANET edisi 52 dengan Tema "sehat dengan pengobatan tradisional"
PDF
BITRANET edisi 51 mengangkat Tema Adaptasi Pertanian dari Perubahan Iklim
PDF
BITRANET edisi 50 mengangkat Tema Peraturan Desa Partisipatif
PDF
BITRANET edisi 4, Tema Digitalisasi Pemasaran Produk Pertanian
PDF
Profil Bitra 2023.pdf
PDF
BITRANET edisi 50.pdf
PDF
BITRANET edisi 49
PDF
BITRANET edisi 48.pdf
PDF
BITRANET edisi 48
PDF
Bitranet edisi 47
PDF
Bitranet edisi 46
PDF
Bitranet edisi 46
PDF
Poster organik-2021
PDF
Poster permakultur
PDF
Permakultur
PDF
Bitranet edisi 45
PDF
Bitranet edisi 44
PDF
Bitranet edisi 43
BITRANET edisi 53. Tema, Desa Ramah Iklim
BITRANET edisi 52 dengan Tema "sehat dengan pengobatan tradisional"
BITRANET edisi 51 mengangkat Tema Adaptasi Pertanian dari Perubahan Iklim
BITRANET edisi 50 mengangkat Tema Peraturan Desa Partisipatif
BITRANET edisi 4, Tema Digitalisasi Pemasaran Produk Pertanian
Profil Bitra 2023.pdf
BITRANET edisi 50.pdf
BITRANET edisi 49
BITRANET edisi 48.pdf
BITRANET edisi 48
Bitranet edisi 47
Bitranet edisi 46
Bitranet edisi 46
Poster organik-2021
Poster permakultur
Permakultur
Bitranet edisi 45
Bitranet edisi 44
Bitranet edisi 43
Ad

Recently uploaded (20)

PPTX
Agile Birokrasi - Prof Erwan UGM.pptx
PDF
fix_IDSRF_rakor 30 Juli 25 Holiday Inn Bdg.pdf
PPTX
Presentasi Indikasi Geografis kekayaan intelektual
PDF
Bahan Paparan Dir ANTB_Rakor KMP Makassar_HR_final (1).pdf
PPTX
Bahan Paparan Implementasi Inovasi Daerah Kota Tarakan
PPTX
MBD_JIWA KOTA AMBMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMON - Copy.pptx
PPTX
Profile Koperasi Desa Merah Putih Cikole
PDF
Habituasi Latsar CPNS BerAKHLAK bahan .pdf
PPTX
pembentukan kepribadian menurut aliran psikologi 1 (2).pptx
PPTX
Modul-Pelatihan-Pengawasan-Pembangunan-Desa-dan-Keuangan-Desa1.pptx
PDF
PEMBAHASAN LANJUTAN RANCANGAN RPJMN & RENSTRA K/L TAHUN 2025- 2029 BIDANG POL...
PPTX
TEKNIK DAN PROSES PERENCANAANhjhfioejklfjsklj
PPTX
20240719 - RINCIAN PPDD isu prioritas 2025.pptx
PPTX
renstra opd berdasrkan permndagri 86.pptx
PDF
Penerapan management ASN pada pengelolaan sampah konstruksi
PPTX
LPJ KOPERASI SUMBER NUSANTARA JAYA IBU KOTA NUSANTARA
PPTX
Pengelolaan Bantuan Keuangan Partai Politik.pptx
PDF
Disiplin PNS Materi di Indonesia_BKN Share
PPTX
001. Materi Rapat Koordinasi Kepala Daerah
PPTX
ELEMEN DASAR ENTITAS PEMERINTAHAN DAERAH Pertemuan ke-4.pptx
Agile Birokrasi - Prof Erwan UGM.pptx
fix_IDSRF_rakor 30 Juli 25 Holiday Inn Bdg.pdf
Presentasi Indikasi Geografis kekayaan intelektual
Bahan Paparan Dir ANTB_Rakor KMP Makassar_HR_final (1).pdf
Bahan Paparan Implementasi Inovasi Daerah Kota Tarakan
MBD_JIWA KOTA AMBMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMON - Copy.pptx
Profile Koperasi Desa Merah Putih Cikole
Habituasi Latsar CPNS BerAKHLAK bahan .pdf
pembentukan kepribadian menurut aliran psikologi 1 (2).pptx
Modul-Pelatihan-Pengawasan-Pembangunan-Desa-dan-Keuangan-Desa1.pptx
PEMBAHASAN LANJUTAN RANCANGAN RPJMN & RENSTRA K/L TAHUN 2025- 2029 BIDANG POL...
TEKNIK DAN PROSES PERENCANAANhjhfioejklfjsklj
20240719 - RINCIAN PPDD isu prioritas 2025.pptx
renstra opd berdasrkan permndagri 86.pptx
Penerapan management ASN pada pengelolaan sampah konstruksi
LPJ KOPERASI SUMBER NUSANTARA JAYA IBU KOTA NUSANTARA
Pengelolaan Bantuan Keuangan Partai Politik.pptx
Disiplin PNS Materi di Indonesia_BKN Share
001. Materi Rapat Koordinasi Kepala Daerah
ELEMEN DASAR ENTITAS PEMERINTAHAN DAERAH Pertemuan ke-4.pptx
Ad

BITRANET edisi 61 PACDR untuk Ketahanan Iklim Pedesaan

  • 1. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 Daftar Isi Tajuk Utama - Membangun Adaptasi Ketahanan iklim pedesaan melalui Pember- dayaan Komunitas dengan PACDR 2 - PACDR: Menggali Pengetahuan Lokal untuk Membangun Desa Tangguh Iklim 3 - Menguatkan Ketahanan Iklim Pe- desaan melalui Pendekatan PACDR 4 Advokasi - Protes Warga Batalkan Konstate- ring Lahan Pemakaman Elite di Sibolangit 5 Pertanian - Petani Desa Dame Belajar Hadapi Iklim Lewat Sekolah Lapang Padi 6 Kesehatan Alternatif - Kenali Manfaat Daun Singkong untuk Kesehatan! 7 Profil - Rianta br Sinaga Perempuan Tang- guh dari Dolok Masihul 8 1 Edisi 61 / Mei - Juli 2025 Untuk Kalangan Terbatas bitranet newsletter Jalan Menuju Ketahanan Iklim Pedesaan yang Inklusif dan Berkelanjutan HIV/AIDS Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini yang semakin nyata dirasakan oleh masyarakat pedesaan. Kekeringan berkepanjangan, banjir mendadak, hingga perubahan pola tanam yang tak menentu menjadi tantangan nyata bagi petani, nelayan, dan komunitas lokal lainnya. Dalam menghadapi kompleksitas ini, pendekatan partisipatif dalam penilaian risiko iklim dan bencana menjadi kunci. Salah satunya adalah melalui Participatory Assessment of Climate and Disaster Risks (PACDR), sebuah metode yang tidak hanya menilai risiko, tetapi juga membangun kapasitas komunitas untuk bertahan dan beradaptasi. PACDR menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses penilaian risiko. Ini sangat penting, karena masyarakat lokal adalah pihak yang paling memahami perubahan yang terjadi di lingkungannya. Dengan pendekatan ini, komunitas tidak lagi diposisikan sebagai objek yang “dibantu”, tetapi sebagai subjek yang berdaya, yang terlibat aktif dalam memetakan ancaman dan potensi adaptasi yang mereka miliki. Salah satu kekuatan utama dari PACDR adalah kemampuannya membangun kesadaran kolektif. Melalui diskusi kelompok, pemetaan partisipatif, dan penilaian sumber daya lokal, warga desa dapat memahami keterkaitan antara aktivitas mereka, kerentanan yang mereka hadapi, dan dampak perubahan iklim. Misalnya, dalam beberapa studi lapangan, masyarakat yang mengikuti PACDR mampu mengidentifikasi bahwa penebangan pohon di daerah hulu memperparah banjir tahunan yang merusak sawah mereka. Kesadaran ini kemudian menjadi dasar bagi aksi bersama untuk konservasi dan reboisasi. Lebih dari itu, PACDR juga berfungsi sebagai alat advokasi. Hasil dari proses partisipatif ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana adaptasi desa, yang kemudian disinergikan dengan perencanaan pembangunan daerah. Dengan begitu, suara komunitas yang rentan memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi kebijakan dan alokasi anggaran publik. Ketahanan iklim bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga tentang memperkuat daya lenting sosial dan kultural masyarakat. Dan PACDR adalah salah satu cara paling menjanjikan untuk mewujudkannya. (red)
  • 2. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 2 Tajuk Utama Membangun Adaptasi Ketahanan iklim pedesaan melalui Pemberdayaan Komunitas dengan PACDR Perubahan iklim telah menja- di tantangan nyata bagi masyarakat pedesaan yang sangat bergantung pada pertanian dan sumber daya alam. Dampak seperti gagal panen, kekeringan, banjir, dan pergeseran musim tanam menjadikan mereka kelompok yang paling rentan. Un- tuk menjawab tantangan ini, pen- dekatan Participatory Assessment of Climate and Disaster Risks (PACDR) hadir sebagai strategi adaptasi ber- basis komunitas yang mendorong ketahanan iklim secara partisipatif. PACDR bertujuan memper- kuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui pelibatan aktif dalam proses analisis risiko, perencana- an, dan pengambilan keputusan. Pendekatan ini mendorong keman- dirian masyarakat desa sekaligus menjembatani kolaborasi antara komunitas, pemerintah, LSM, dan sektor swasta. Salah satu keunggulan PACDR adalah pemberdayaan masyarakat lokal. Melalui pelatihan dan pen- dampingan, masyarakat diper- kenalkan pada praktik pertanian berkelanjutan, pemilihan varietas tanaman tahan iklim ekstrem, serta pengelolaan sumber daya yang bi- jak. Ini mendorong kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam memilih solusi adaptasi yang sesuai konteks lokal. PACDR juga menekankan pen- tingnya diversifikasi mata penca- harian. Ketergantungan pada satu sektor seperti pertanian dapat memperbesar risiko ekonomi aki- bat perubahan iklim. Oleh karena itu, masyarakat didorong mengem- bangkan alternatif usaha seperti pengolahan hasil pertanian, pari- wisata alam, atau usaha kecil lain- nya. Selain itu, pendekatan ini mem- perkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola risiko bencana, termasuk pelatihan mitigasi, sistem peringatan dini, dan rencana tang- gap darurat. Dengan kapasitas ini, dampak bencana dapat ditekan dan proses pemulihan pascabencana menjadi lebih cepat. Walau memiliki banyak potensi, implementasi PACDR menghadapi tantangan seperti keterbatasan ka- pasitas teknis, pendanaan terbatas, dan perlunya dukungan kebijakan di tingkat daerah. Oleh karena itu, keberlanjutan program sangat bergantung pada kemitraan jang- ka panjang, serta integrasi dalam rencana pembangunan desa dan daerah. PACDR adalah pendekatan adaptasi iklim yang menjanjikan karena berbasis pada kekuatan lo- kal, kolaboratif, dan berorientasi solusi. Jika didukung oleh kebijakan yang tepat dan pelibatan multipi- hak secara konsisten, PACDR da- pat menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan iklim pe- desaan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.(hf) Penerbit: Yayasan BITRA Indonesia Medan Pimpinan Umum: Rusdiana Pimpinan Redaksi: M. Ikhsan Dewan Redaksi: Iswan Kaputra, Aprianta. T. Reporter: Erika Rosmawati, Berliana, Q. Azam, Misdi, Sudarmanto, Gregorius. Fotografer: Budi, Icen Manajemen Pelaksana: H. Fachri Sirkulasi: Ade, Budi. Redaksi: Jl. Bahagia By Pass No. 11/35 Medan - 20218 Telepon: 061-787 6408 Email: [email protected]
  • 3. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 3 Perubahan iklim bukan se- kadar isu global ia nyata dan sudah terasa hingga ke pelosok desa. Ban- jir yang tak terduga, musim tanam yang berubah-ubah, hingga seran- gan hama yang meningkat adalah beberapa dampak yang kini dialami masyarakat pedesaan. Dalam meng- hadapi tantangan ini, pendekatan Penilaian Partisipatif terhadap Ri- siko Iklim dan Bencana atau PACDR (Participatory Assessment of Clima- te and Disaster Risks) hadir sebagai cara efektif untuk membangun ke- tahanan iklim berbasis komunitas. Alih-alih memaksakan so- lusi dari luar, PACDR mengajak masyarakat desa sebagai aktor uta- ma. Pendekatan ini memadukan pengetahuan lokal dengan informa- si ilmiah untuk mengidentifikasi ri- siko yang dihadapi, potensi yang di- miliki, dan tindakan nyata yang bisa dilakukan. Dengan kata lain, warga tidak hanya jadi penerima bantuan, tapi juga perencana dan pelaksana solusi. Dalam proses PACDR, masyarakat diajak untuk: • Menganalisis dampak perubahan iklim terhadap kehidupan mere- ka sehari-hari. • Memetakan sumber daya yang dimiliki desa (alam, sosial, eko- nomi). • Menyusun strategi adaptasi lokal yang realistis dan berkelanjutan. • Mengembangkan rencana aksi kolektif, baik dalam bidang per- tanian, air bersih, pengelola- an bencana, hingga kesehatan masyarakat. Di beberapa desa dampingan Yayasan BITRA Indonesia, proses PACDR telah menghasilkan peta risiko iklim dan strategi adaptasi yang konkret. Misalnya, masyarakat mengubah jadwal tanam berdasar- kan pengamatan lokal dan informa- si BMKG, mengupayakan lumbung pangan desa sebagai cadangan saat gagal panen, hingga melakukan konservasi air dan reboisasi di hulu sungai. Semuainidilakukanmelaluidis- kusi kelompok, transek lapangan, dan forum desa yang inklusif, me- libatkan petani, perempuan, tokoh adat, dan pemuda. PACDR bukan sekadar kegia- tan penilaian, ia adalah gerakan membangun desa tangguh iklim dari bawah ke atas. Pendekatan ini memperkuat solidaritas warga, memperkuat tata kelola lokal, dan membuka peluang untuk mengak- ses program-program adaptasi pe- merintah maupun lembaga donor. Ketika masyarakat tahu apa yang mereka hadapi dan punya ren- cana bersama, maka adaptasi tidak lagi menjadi beban, tapi menjadi jalan menuju kemandirian dan ke- berlanjutan. Dengan pendekatan partisipa- tif, PACDR juga memastikan bahwa kelompok rentan, seperti perem- puan, lansia, dan keluarga miskin, terlibat dalam setiap proses. Karena perubahan iklim berdampak tidak merata, maka keadilan iklim harus menjadi bagian dari solusi. PACDR adalah bukti bahwa ke- tahanan iklim tidak harus rumit atau mahal. Ia bisa dimulai dari hal kecil: mendengar, memahami, dan bergerak bersama. Di tengah peru- bahan iklim yang semakin nyata, membangun desa tangguh adalah investasi masa depan yang tak ter- nilai.(bd) PACDR: Menggali Pengetahuan Lokal untuk Membangun Desa Tangguh Iklim Tajuk Utama
  • 4. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 Tajuk Utama Perubahan iklim telah mengu- bah wajah kehidupan masyarakat pedesaan secara signifikan. Peruba- han pola hujan, suhu ekstrem, hing- ga meningkatnya frekuensi bencana seperti banjir dan kekeringan, telah mengancam keberlanjutan pertani- an dan mata pencaharian di desa. Di tengah tantangan ini, pendekatan Participatory Assessment of Climate and Disaster Risks (PACDR) hadir sebagai solusi yang tepat dan rele- van untuk membangun ketahanan iklim pedesaan secara inklusif dan berkelanjutan. PACDR adalah metode partisi- patif yang melibatkan masyarakat desa secara aktif dalam menilai risi- ko iklim dan bencana di wilayah me- reka. Dengan menggali pengalaman lokal, pengetahuan tradisional, ser- ta mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki, PACDR memungkin- kan masyarakat memahami secara lebih dalam risiko yang dihadapi serta langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang dapat dilakukan. Relevansi PACDR dengan ke- tahanan iklim pedesaan terletak pada pendekatannya yang berbasis komunitas dan kontekstual. Keta- hanan iklim tidak bisa dibangun secara top-down semata; diperlu- kan pemahaman dari akar rumput tentang bagaimana perubahan ik- lim memengaruhi kehidupan me- reka sehari-hari. Melalui PACDR, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga aktor utama dal- am perencanaan dan pelaksanaan strategi adaptasi. Salah satu kekuatan PACDR ada- lah kemampuannya untuk mengi- dentifikasi kelompok rentan seperti petani kecil, perempuan, dan lansia yang sering kali paling terdampak namun paling sedikit menerima bantuan. Dengan melibatkan me- reka dalam proses penilaian dan pengambilan keputusan, program Menguatkan Ketahanan Iklim Pedesaan melalui Pendekatan PACDR ketahanan iklim menjadi lebih adil dan tepat sasaran. Selain itu, hasil PACDR dapat diintegrasikan dalam rencana pem- bangunan desa seperti RPJMDes atau RKPDes, sehingga kebijakan desa memiliki dasar yang kuat da- lam menghadapi risiko iklim. Ini memberi ruang bagi desa untuk menyusun program perlindungan dan adaptasi, misalnya melalui diversifikasi mata pencaharian, sistem pertanian ramah iklim, atau pembangunan infrastruktur penanggulangan bencana. Dengan demikian, PACDR bu- kan hanya sekadar metode teknis, melainkan juga alat pemberdayaan masyarakat desa untuk mengelola risiko secara mandiri. Pendekatan ini sangat relevan dalam mem- bangun desa yang tangguh terha- dap perubahan iklim, memperkuat kemandirian lokal, dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.(aa) 4
  • 5. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 5 Pengadilan Negeri (PN) Lu- buk Pakam membatalkan proses konstatering atas lahan seluas 75 hektare milik PT Nirvana Memorial Nusantara di Kecamatan Sibolan- git, Kabupaten Deli Serdang, Senin (21/7/2025). Lahan tersebut ren- cananya akan dijadikan kawasan pemakaman elite. Namun, aksi penolakan dari ratusan warga Desa Rambung Baru dan Bingkawan membuat proses hukum ini tak da- pat dilanjutkan. Konstatering adalah proses mencocokkan objek sengketa dengan kondisi nyata di lapangan sebelum eksekusi putusan dilaku- kan. Dalam kasus ini, konstatering seharusnya menindaklanjuti putu- san Mahkamah Agung tahun 2022 yang memenangkan PT Nirvana. Namun, warga menolak karena menganggap lahan yang diklaim bukan milik perusahaan. Juru sita PN Lubuk Pakam, Az- hari Siregar, mengatakan konstate- ring batal dilakukan karena adanya penolakan dari masyarakat. Ia juga menyebut terdapat kemungkinan perbedaan lokasi objek gugatan yang akan dilaporkan ke atasan. Warga yang melakukan peno- lakan tergabung dalam Kelompok Tani Lepar Lau Tengah (KTLLT) yang terdiri dari masyarakat Desa Rambung Baru dan Bingkawan. Me- reka menyatakan telah mengelola lahan tersebut secara turun-temu- run, lengkap dengan bukti makam leluhur dan tanaman seperti duri- an, duku, pinang, dan coklat yang sudah berusia puluhan tahun. Menurut Kepala Desa Rambung Baru, Firman Tarigan, PT Nirva- na salah mengklaim lokasi. “Tanah yang mereka klaim masuk Desa Rambung Baru, padahal lahan itu ada di Desa Bingkawan. Ini kekeli- ruan objek,” ujarnya. Ratusan warga melakukan aksi demonstrasi di depan lokasi yang diklaim PT Nirvana. Mereka membawa spanduk, menyerukan penolakan, dan meminta agar lahan mereka dikembalikan. Polisi yang berjaga menghalau niat warga yang sempat ingin menutup jalan lintas Medan–Sibolangit. “Hentikan eksekusi tanah kami. Ini Rambung Baru, bukan Bingka- wan. Kembalikan tanah kami,” teri- ak warga. Kepala Dusun I Desa Rambung Baru, Jeremiah Ginting, menyebut penolakan dilakukan karena PT Nirvana mengklaim lahan tanpa ganti rugi. “Kami minta keadilan. Kalau memang gugatan salah objek, Protes Warga Batalkan Konstatering Lahan Pemakaman Elite di Sibolangit kembalikan hak masyarakat,” ujar- nya. Warga berharap pengadilan dan pemerintah segera meninjau ulang lokasi sengketa agar tidak terjadi pelanggaran atas hak masyarakat adat dan petani pengelola lahan. Dalam aksinya masyarakat menyebut, tanahnya dirampas un- tuk pendirian kawasan pemakaman elit oleh PT Nirvana. “Hentikan eksekusi tanah kami. Ini Desa Rambung Baru bukan Bing- kawan. Kembalikan tanah kami,” kata masyarakat. Sementara itu Jeremiah Ginting Kepala Dusun I Desa Rambung Baru menyebut, penolakan warga dilaku- kan atas klaim sepihak yang dilaku- kan PT Nirvana. Dia menyebut, warga mera- sa keberatan, sebab lahan mereka yang telah dikelola puluhan tahun diambil tanpa adanya ganti rugi. “Ya kami harapkan keadilan, bila ternyata gugatan yang diajukan salah objek, tanah masyarakat ha- rus dikembalikan,” ujarnya. Warga pun sempat hen- dak menutup jalan lintas Medan menuju Sibolangit, namun petugas kepolisian kemudian meminta agar masyarakat tak menutup jalan.(bd) Advokasi
  • 6. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 6 Pertanian Semangat petani di Desa Dame, Kecamatan Dolok Masihul, Kabu- paten Serdang Bedagai, terlihat je- las saat Sekolah Lapang Iklim (SLI) resmi dibuka oleh Yayasan BITRA Indonesia, (1/7). Kegiatan yang berlangsung dari Juli hingga Sep- tember 2025 ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas pe- tani dalam menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya pada budidaya padi. Program ini merupakan kola- borasi antara Yayasan BITRA Indo- nesia, BMKG, dan Pemerintah Desa Dame. SLI menjadi sarana pembe- lajaran langsung di lapangan bagi para petani, mulai dari cara mem- baca prakiraan musim, mengenali gejala iklim ekstrem, hingga praktik pertanian yang adaptif terhadap cu- aca yang terus berubah. Direktur Yayasan BITRA Indo- nesia, Dra. Rusdiana, menjelaskan pentingnya program ini sebagai jawaban atas ketidakpastian iklim yang semakin sering melanda sek- tor pertanian. “Sekolah Lapang Iklim ini kami hadirkan sebagai upaya nyata agar petani tidak hanya menunggu, tapi mampu membaca kondisi cuaca dan membuat keputusan pertanian secara cerdas. Ini adalah langkah membangun kemandirian dan keta- hanan dari desa,” ujarnya. Kepala Desa Dame, Fernando Siahaan, SE, turut menyampaikan rasa bangganya karena desanya menjadi lokasi program perconto- han. “Ini adalah momentum yang baik untuk meningkatkan kualitas pertanian kita. Para petani kami sangat antusias, dan kami siap mendukung penuh agar ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di lapangan,” katanya. Sementara itu, Camat Dolok Ma- sihul, Elmiyati, S.AP, hadir langsung membuka kegiatan ini dan mem- berikan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut. “Kami dari kecamatan menyam- but positif program ini karena seca- ra langsung membantu petani da- lam memahami dan mengantisipasi perubahan cuaca. Kegiatan seperti ini sangat relevan untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat,” tutur Elmiyati. Dengan pendampingan intensif dan semangat gotong royong, Seko- lah Lapang Iklim ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran pertanian adaptif, sekaligus mem- perkuat daya tahan petani terhadap krisis iklim di masa depan. Selama tiga bulan ke depan, pe- serta SLI akan mendapatkan mate- ri secara bertahap dengan metode partisipatif, mencakup pengamatan harian cuaca, pencatatan pertum- buhan tanaman, hingga diskusi ke- lompok tentang solusi lokal yang telah berhasil diterapkan. Metode ini membuat petani tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga aktor utama dalam proses adaptasi iklim di lahannya sendiri. Melalui program ini, BITRA In- donesia berharap lahir generasi petani yang tidak hanya tangguh se- cara teknis, tetapi juga kritis terha- dap tantangan perubahan iklim. SLI menjadi bagian dari komitmen jangka panjang untuk membangun pertanian berkelanjutan, sekaligus menjadikan Desa Dame sebagai contoh desa tangguh iklim di Kabu- paten Serdang Bedagai.(hf) Petani Desa Dame Belajar Hadapi Iklim Lewat Sekolah Lapang Padi Edisi 61 : Mei - Juli 2025
  • 7. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 7 Kesehatan Alternatif Daun singkong sangat enak dan menggugah selera saat telah di- masak gulai atau urap, Selain lezat, daun singkong mengandung ber- bagai nutrisi yang baik bagi tubuh. Hal tersebut membuat sayuran ini memberikan banyak manfaat kese- hatan. Mulai dari mengobati diare, baik untuk ibu hamil, hingga meng- atasi radang sendi. Daun singkong (Manihot es- culenta) sering kali hanya dikenal sebagai pelengkap makanan tra- disional. Padahal, di balik rasanya yang gurih, sayuran ini menyimpan berbagai manfaat kesehatan berkat kandungan nutrisinya yang kaya. Apa Saja Kandungan Gizi Daun Singkong yang berkontribusi besar bagi tubuh? Dalam 100 gram daun singkong rebus, terdapat nutrisi penting, seperti: • Protein – baik untuk otot dan energi • Serat – bantu pencernaan lancar • Vitamin C – tingkatkan daya tahan tubuh sumsi daun singkong rebus bisa bantu lawan bakteri jahat di pen- cernaan. • Naikkan Energi, Protein dan asam amino bantu tubuh lebih bertenaga. • Lancar Sirkulasi Darah, Antioksi- dan mendukung aliran darah ke seluruh tubuh. • Tangkal Radikal Bebas, Antioksi- dan cegah sel tubuh rusak akibat paparan zat berbahaya. • Melancarkan Pencernaan, Kan- dungan serat membantu mence- gah sembelit. • Sembuhkan Luka Ringan, Tum- buk daun singkong dan oleskan pada luka kecil. • Turunkan Kolesterol, Flavon- oid-nya efektif menurunkan ko- lesterol dalam darah. Daun singkong adalah sayuran lokal yang murah meriah tapi kaya manfaat! Dengan pengolahan yang benar, kita bisa menjadikannya se- bagai bagian dari pola makan sehat keluarga. Ayo, hidup sehat dimulai dari dapur rumah kita sendiri! (bd) Kenali Manfaat Daun Singkong untuk Kesehatan! • Zat besi – cegah anemia • Magnesium – untuk kekuatan tu- lang dan sendi • Antioksidan – cegah radikal be- bas Manfaat Daun Singkong untuk Tu- buh • Atasi Diare, Kandungan etanol dalam daun singkong membantu menghentikan diare secara ala- mi. • Baik untuk Ibu Hamil, Zat besi di dalamnya mencegah anemia selama kehamilan. • Meningkatkan Daya Tahan Tu- buh, Vitamin C dan folat mem- bantu tubuh melawan infeksi. • Kurangi Radang Sendi, Kan- dungan magnesium mengurangi peradangan di persendian. • Perkuat Tulang, Magnesium juga bantu cegah tulang keropos (osteoporosis). • Bantu Diet Sehat, Seratnya ting- gi, bikin kenyang lebih lama dan nafsu makan lebih terkontrol. • Cegah Infeksi Bakteri Usus, Kon-
  • 8. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 Rianta br Sinaga Perempuan Tangguh dari Dolok Masihul Profil Di sebuah sudut tenang di Dusun IV Desa Dame, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, hidup se- orang perempuan petani yang menjadi contoh keteguhan dan kemandirian. Namanya Rianta br Sinaga, perempuan 56 tahun yang menjalani hidup seba- gai petani sekaligus ibu tunggal bagi lima anaknya. Rianta bukan asli Dolok Masihul. Ia menetap di sana sejak tahun 1989, se- telah menikah dan ikut suaminya ting- gal serta mengelola sawah bersama. Selama lebih dari dua dekade, mereka bertani bersama, hidup dari hasil panen sawah yang sederhana namun cukup untuk membesarkan keluarga. Namun, 2022, saat Rianta mendapat pendam- pingan dari Yayasan BITRA Indonesia, sebuah lembaga yang fokus pada pemberdayaan petani kecil dan perta- nian berkelanjutan. Dari pelatihan yang ia ikuti, Rianta mulai mengenal konsep pertanian organik, yang menggunakan bahan alami tanpa pestisida dan pupuk kimia sintetis. Ketertarikannya bermula dari kein- ginan untuk mengurangi biaya pro- duksi, yang selama ini menjadi beban terbesar dalam setiap musim tanam. “Harga pupuk dan obat-obatan mahal sekali. Saya pikir, kalau bisa buat sendi- ri dari bahan alami, kenapa tidak dico- ba?” ujarnya. Dengan tekun, Rianta mulai belajar membuat pupuk kompos, cairan pes- tisida nabati, dan teknik pertanian or- ganik lainnya. Meski sempat ragu dan mendapatkan cibiran dari beberapa petani lain, ia tetap berkomitmen men- coba. Hasilnya cukup mengejutkan: ta- nahnya tetap subur, padi tumbuh sehat, dan biaya produksi turun drastis. Kini, Rianta dikenal sebagai peta- ni organik perempuan yang inspiratif di desanya. Ia sering diminta berbagi pengalaman oleh petani lain, terutama perempuan, tentang bagaimana me- mulai pertanian organik dengan sum- ber daya terbatas. Ia pun aktif dalam kelompok tani Mekar Sinur, kelompok tani dampingan BITRA di desanya, dan ia terus belajar mengembangkan per- taniannya secara berkelanjutan. Meski keempat anaknya telah berkeluarga, Rianta masih hidup se- derhana di rumahnya di tengah sawah bersama anak bungsunya. Usianya memang tak muda lagi, tapi seman- gatnya tak luntur. Setiap pagi, ia tetap turun ke sawah dengan semangat yang sama seperti saat ia pertama kali menggenggam cangkul belasan tahun lalu. Rianta br Sinaga bukan hanya peta- ni. Ia adalah penjaga nilai hidup, keber- lanjutan, dan ketahanan keluarga, yang menunjukkan bahwa dengan kemauan, pendampingan, dan sedikit keberanian, seorang perempuan desa bisa bangkit menjadi penggerak perubahan.(hf) cobaan datang ketika suaminya me- ninggal dunia pada tahun 2010. Sejak saat itu, Rianta memikul beban sebagai orang tua tunggal, mengasuh dan me- nyekolahkan kelima anaknya, empat di antaranya kini telah menikah. “Waktu itu, saya bingung harus mulai dari mana. Tapi saya tahu, saya tidak boleh berhenti karena anak-anak masih butuh saya,” ucap Rianta men- genang masa-masa sulit itu. Ia pun melanjutkan mengelola sawah warisan keluarganya sendirian, meski harus bersaing dengan keterbatasan tenaga, modal, dan biaya produksi pertanian yang terus meningkat. Titik balik datang pada tahun