BITRANET edisi 61 PACDR untuk Ketahanan Iklim Pedesaan
1. Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Daftar Isi
Tajuk Utama
- Membangun Adaptasi Ketahanan
iklim pedesaan melalui Pember-
dayaan Komunitas dengan PACDR 2
- PACDR: Menggali Pengetahuan
Lokal untuk Membangun Desa
Tangguh Iklim 3
- Menguatkan Ketahanan Iklim Pe-
desaan melalui Pendekatan PACDR 4
Advokasi
- Protes Warga Batalkan Konstate-
ring Lahan Pemakaman Elite di
Sibolangit 5
Pertanian
- Petani Desa Dame Belajar Hadapi
Iklim Lewat Sekolah Lapang Padi 6
Kesehatan Alternatif
- Kenali Manfaat Daun Singkong
untuk Kesehatan! 7
Profil
- Rianta br Sinaga Perempuan Tang-
guh dari Dolok Masihul 8
1
Edisi 61 / Mei - Juli 2025
Untuk Kalangan Terbatas
bitranet
newsletter
Jalan Menuju Ketahanan Iklim Pedesaan
yang Inklusif dan Berkelanjutan
HIV/AIDS Jauhi Penyakitnya,
Bukan Orangnya
Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan
kenyataan hari ini yang semakin nyata dirasakan oleh masyarakat
pedesaan. Kekeringan berkepanjangan, banjir mendadak, hingga
perubahan pola tanam yang tak menentu menjadi tantangan nyata
bagi petani, nelayan, dan komunitas lokal lainnya. Dalam menghadapi
kompleksitas ini, pendekatan partisipatif dalam penilaian risiko iklim
dan bencana menjadi kunci. Salah satunya adalah melalui Participatory
Assessment of Climate and Disaster Risks (PACDR), sebuah metode yang
tidak hanya menilai risiko, tetapi juga membangun kapasitas komunitas
untuk bertahan dan beradaptasi.
PACDR menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses
penilaian risiko. Ini sangat penting, karena masyarakat lokal adalah
pihak yang paling memahami perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Dengan pendekatan ini, komunitas tidak lagi diposisikan sebagai objek
yang “dibantu”, tetapi sebagai subjek yang berdaya, yang terlibat aktif
dalam memetakan ancaman dan potensi adaptasi yang mereka miliki.
Salah satu kekuatan utama dari PACDR adalah kemampuannya
membangun kesadaran kolektif. Melalui diskusi kelompok, pemetaan
partisipatif, dan penilaian sumber daya lokal, warga desa dapat
memahami keterkaitan antara aktivitas mereka, kerentanan yang mereka
hadapi, dan dampak perubahan iklim. Misalnya, dalam beberapa studi
lapangan, masyarakat yang mengikuti PACDR mampu mengidentifikasi
bahwa penebangan pohon di daerah hulu memperparah banjir tahunan
yang merusak sawah mereka. Kesadaran ini kemudian menjadi dasar
bagi aksi bersama untuk konservasi dan reboisasi.
Lebih dari itu, PACDR juga berfungsi sebagai alat advokasi. Hasil dari
proses partisipatif ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana
adaptasi desa, yang kemudian disinergikan dengan perencanaan
pembangunan daerah. Dengan begitu, suara komunitas yang rentan
memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi kebijakan dan alokasi
anggaran publik.
Ketahanan iklim bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga
tentang memperkuat daya lenting sosial dan kultural masyarakat. Dan
PACDR adalah salah satu cara paling menjanjikan untuk mewujudkannya.
(red)
2. Edisi 61 : Mei - Juli 2025
2
Tajuk Utama
Membangun Adaptasi Ketahanan iklim pedesaan melalui
Pemberdayaan Komunitas dengan PACDR
Perubahan iklim telah menja-
di tantangan nyata bagi masyarakat
pedesaan yang sangat bergantung
pada pertanian dan sumber daya
alam. Dampak seperti gagal panen,
kekeringan, banjir, dan pergeseran
musim tanam menjadikan mereka
kelompok yang paling rentan. Un-
tuk menjawab tantangan ini, pen-
dekatan Participatory Assessment of
Climate and Disaster Risks (PACDR)
hadir sebagai strategi adaptasi ber-
basis komunitas yang mendorong
ketahanan iklim secara partisipatif.
PACDR bertujuan memper-
kuat kapasitas masyarakat dalam
menghadapi dampak perubahan
iklim melalui pelibatan aktif dalam
proses analisis risiko, perencana-
an, dan pengambilan keputusan.
Pendekatan ini mendorong keman-
dirian masyarakat desa sekaligus
menjembatani kolaborasi antara
komunitas, pemerintah, LSM, dan
sektor swasta.
Salah satu keunggulan PACDR
adalah pemberdayaan masyarakat
lokal. Melalui pelatihan dan pen-
dampingan, masyarakat diper-
kenalkan pada praktik pertanian
berkelanjutan, pemilihan varietas
tanaman tahan iklim ekstrem, serta
pengelolaan sumber daya yang bi-
jak. Ini mendorong kesadaran dan
kemandirian masyarakat dalam
memilih solusi adaptasi yang sesuai
konteks lokal.
PACDR juga menekankan pen-
tingnya diversifikasi mata penca-
harian. Ketergantungan pada satu
sektor seperti pertanian dapat
memperbesar risiko ekonomi aki-
bat perubahan iklim. Oleh karena
itu, masyarakat didorong mengem-
bangkan alternatif usaha seperti
pengolahan hasil pertanian, pari-
wisata alam, atau usaha kecil lain-
nya.
Selain itu, pendekatan ini mem-
perkuat kemampuan masyarakat
dalam mengelola risiko bencana,
termasuk pelatihan mitigasi, sistem
peringatan dini, dan rencana tang-
gap darurat. Dengan kapasitas ini,
dampak bencana dapat ditekan dan
proses pemulihan pascabencana
menjadi lebih cepat.
Walau memiliki banyak potensi,
implementasi PACDR menghadapi
tantangan seperti keterbatasan ka-
pasitas teknis, pendanaan terbatas,
dan perlunya dukungan kebijakan
di tingkat daerah. Oleh karena itu,
keberlanjutan program sangat
bergantung pada kemitraan jang-
ka panjang, serta integrasi dalam
rencana pembangunan desa dan
daerah.
PACDR adalah pendekatan
adaptasi iklim yang menjanjikan
karena berbasis pada kekuatan lo-
kal, kolaboratif, dan berorientasi
solusi. Jika didukung oleh kebijakan
yang tepat dan pelibatan multipi-
hak secara konsisten, PACDR da-
pat menjadi fondasi penting dalam
membangun ketahanan iklim pe-
desaan yang tangguh, mandiri, dan
berkelanjutan.(hf)
Penerbit: Yayasan BITRA
Indonesia Medan
Pimpinan Umum: Rusdiana
Pimpinan Redaksi: M. Ikhsan
Dewan Redaksi: Iswan Kaputra,
Aprianta. T. Reporter: Erika
Rosmawati, Berliana, Q. Azam,
Misdi, Sudarmanto, Gregorius.
Fotografer: Budi, Icen
Manajemen Pelaksana: H. Fachri
Sirkulasi: Ade, Budi.
Redaksi: Jl. Bahagia By Pass
No. 11/35 Medan - 20218
Telepon: 061-787 6408
Email: [email protected]
3. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 3
Perubahan iklim bukan se-
kadar isu global ia nyata dan sudah
terasa hingga ke pelosok desa. Ban-
jir yang tak terduga, musim tanam
yang berubah-ubah, hingga seran-
gan hama yang meningkat adalah
beberapa dampak yang kini dialami
masyarakat pedesaan. Dalam meng-
hadapi tantangan ini, pendekatan
Penilaian Partisipatif terhadap Ri-
siko Iklim dan Bencana atau PACDR
(Participatory Assessment of Clima-
te and Disaster Risks) hadir sebagai
cara efektif untuk membangun ke-
tahanan iklim berbasis komunitas.
Alih-alih memaksakan so-
lusi dari luar, PACDR mengajak
masyarakat desa sebagai aktor uta-
ma. Pendekatan ini memadukan
pengetahuan lokal dengan informa-
si ilmiah untuk mengidentifikasi ri-
siko yang dihadapi, potensi yang di-
miliki, dan tindakan nyata yang bisa
dilakukan. Dengan kata lain, warga
tidak hanya jadi penerima bantuan,
tapi juga perencana dan pelaksana
solusi.
Dalam proses PACDR,
masyarakat diajak untuk:
• Menganalisis dampak perubahan
iklim terhadap kehidupan mere-
ka sehari-hari.
• Memetakan sumber daya yang
dimiliki desa (alam, sosial, eko-
nomi).
• Menyusun strategi adaptasi lokal
yang realistis dan berkelanjutan.
• Mengembangkan rencana aksi
kolektif, baik dalam bidang per-
tanian, air bersih, pengelola-
an bencana, hingga kesehatan
masyarakat.
Di beberapa desa dampingan
Yayasan BITRA Indonesia, proses
PACDR telah menghasilkan peta
risiko iklim dan strategi adaptasi
yang konkret. Misalnya, masyarakat
mengubah jadwal tanam berdasar-
kan pengamatan lokal dan informa-
si BMKG, mengupayakan lumbung
pangan desa sebagai cadangan saat
gagal panen, hingga melakukan
konservasi air dan reboisasi di hulu
sungai.
Semuainidilakukanmelaluidis-
kusi kelompok, transek lapangan,
dan forum desa yang inklusif, me-
libatkan petani, perempuan, tokoh
adat, dan pemuda.
PACDR bukan sekadar kegia-
tan penilaian, ia adalah gerakan
membangun desa tangguh iklim
dari bawah ke atas. Pendekatan
ini memperkuat solidaritas warga,
memperkuat tata kelola lokal, dan
membuka peluang untuk mengak-
ses program-program adaptasi pe-
merintah maupun lembaga donor.
Ketika masyarakat tahu apa
yang mereka hadapi dan punya ren-
cana bersama, maka adaptasi tidak
lagi menjadi beban, tapi menjadi
jalan menuju kemandirian dan ke-
berlanjutan.
Dengan pendekatan partisipa-
tif, PACDR juga memastikan bahwa
kelompok rentan, seperti perem-
puan, lansia, dan keluarga miskin,
terlibat dalam setiap proses. Karena
perubahan iklim berdampak tidak
merata, maka keadilan iklim harus
menjadi bagian dari solusi.
PACDR adalah bukti bahwa ke-
tahanan iklim tidak harus rumit
atau mahal. Ia bisa dimulai dari hal
kecil: mendengar, memahami, dan
bergerak bersama. Di tengah peru-
bahan iklim yang semakin nyata,
membangun desa tangguh adalah
investasi masa depan yang tak ter-
nilai.(bd)
PACDR: Menggali Pengetahuan Lokal untuk
Membangun Desa Tangguh Iklim
Tajuk Utama
4. Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Tajuk Utama
Perubahan iklim telah mengu-
bah wajah kehidupan masyarakat
pedesaan secara signifikan. Peruba-
han pola hujan, suhu ekstrem, hing-
ga meningkatnya frekuensi bencana
seperti banjir dan kekeringan, telah
mengancam keberlanjutan pertani-
an dan mata pencaharian di desa. Di
tengah tantangan ini, pendekatan
Participatory Assessment of Climate
and Disaster Risks (PACDR) hadir
sebagai solusi yang tepat dan rele-
van untuk membangun ketahanan
iklim pedesaan secara inklusif dan
berkelanjutan.
PACDR adalah metode partisi-
patif yang melibatkan masyarakat
desa secara aktif dalam menilai risi-
ko iklim dan bencana di wilayah me-
reka. Dengan menggali pengalaman
lokal, pengetahuan tradisional, ser-
ta mengidentifikasi sumber daya
yang dimiliki, PACDR memungkin-
kan masyarakat memahami secara
lebih dalam risiko yang dihadapi
serta langkah-langkah mitigasi dan
adaptasi yang dapat dilakukan.
Relevansi PACDR dengan ke-
tahanan iklim pedesaan terletak
pada pendekatannya yang berbasis
komunitas dan kontekstual. Keta-
hanan iklim tidak bisa dibangun
secara top-down semata; diperlu-
kan pemahaman dari akar rumput
tentang bagaimana perubahan ik-
lim memengaruhi kehidupan me-
reka sehari-hari. Melalui PACDR,
masyarakat tidak hanya menjadi
objek, tetapi juga aktor utama dal-
am perencanaan dan pelaksanaan
strategi adaptasi.
Salah satu kekuatan PACDR ada-
lah kemampuannya untuk mengi-
dentifikasi kelompok rentan seperti
petani kecil, perempuan, dan lansia
yang sering kali paling terdampak
namun paling sedikit menerima
bantuan. Dengan melibatkan me-
reka dalam proses penilaian dan
pengambilan keputusan, program
Menguatkan Ketahanan Iklim Pedesaan melalui
Pendekatan PACDR
ketahanan iklim menjadi lebih adil
dan tepat sasaran.
Selain itu, hasil PACDR dapat
diintegrasikan dalam rencana pem-
bangunan desa seperti RPJMDes
atau RKPDes, sehingga kebijakan
desa memiliki dasar yang kuat da-
lam menghadapi risiko iklim. Ini
memberi ruang bagi desa untuk
menyusun program perlindungan
dan adaptasi, misalnya melalui
diversifikasi mata pencaharian,
sistem pertanian ramah iklim,
atau pembangunan infrastruktur
penanggulangan bencana.
Dengan demikian, PACDR bu-
kan hanya sekadar metode teknis,
melainkan juga alat pemberdayaan
masyarakat desa untuk mengelola
risiko secara mandiri. Pendekatan
ini sangat relevan dalam mem-
bangun desa yang tangguh terha-
dap perubahan iklim, memperkuat
kemandirian lokal, dan memastikan
pembangunan yang berkelanjutan
bagi generasi mendatang.(aa)
4
5. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 5
Pengadilan Negeri (PN) Lu-
buk Pakam membatalkan proses
konstatering atas lahan seluas 75
hektare milik PT Nirvana Memorial
Nusantara di Kecamatan Sibolan-
git, Kabupaten Deli Serdang, Senin
(21/7/2025). Lahan tersebut ren-
cananya akan dijadikan kawasan
pemakaman elite. Namun, aksi
penolakan dari ratusan warga Desa
Rambung Baru dan Bingkawan
membuat proses hukum ini tak da-
pat dilanjutkan.
Konstatering adalah proses
mencocokkan objek sengketa
dengan kondisi nyata di lapangan
sebelum eksekusi putusan dilaku-
kan. Dalam kasus ini, konstatering
seharusnya menindaklanjuti putu-
san Mahkamah Agung tahun 2022
yang memenangkan PT Nirvana.
Namun, warga menolak karena
menganggap lahan yang diklaim
bukan milik perusahaan.
Juru sita PN Lubuk Pakam, Az-
hari Siregar, mengatakan konstate-
ring batal dilakukan karena adanya
penolakan dari masyarakat. Ia juga
menyebut terdapat kemungkinan
perbedaan lokasi objek gugatan
yang akan dilaporkan ke atasan.
Warga yang melakukan peno-
lakan tergabung dalam Kelompok
Tani Lepar Lau Tengah (KTLLT)
yang terdiri dari masyarakat Desa
Rambung Baru dan Bingkawan. Me-
reka menyatakan telah mengelola
lahan tersebut secara turun-temu-
run, lengkap dengan bukti makam
leluhur dan tanaman seperti duri-
an, duku, pinang, dan coklat yang
sudah berusia puluhan tahun.
Menurut Kepala Desa Rambung
Baru, Firman Tarigan, PT Nirva-
na salah mengklaim lokasi. “Tanah
yang mereka klaim masuk Desa
Rambung Baru, padahal lahan itu
ada di Desa Bingkawan. Ini kekeli-
ruan objek,” ujarnya.
Ratusan warga melakukan
aksi demonstrasi di depan lokasi
yang diklaim PT Nirvana. Mereka
membawa spanduk, menyerukan
penolakan, dan meminta agar lahan
mereka dikembalikan. Polisi yang
berjaga menghalau niat warga yang
sempat ingin menutup jalan lintas
Medan–Sibolangit.
“Hentikan eksekusi tanah kami.
Ini Rambung Baru, bukan Bingka-
wan. Kembalikan tanah kami,” teri-
ak warga.
Kepala Dusun I Desa Rambung
Baru, Jeremiah Ginting, menyebut
penolakan dilakukan karena PT
Nirvana mengklaim lahan tanpa
ganti rugi. “Kami minta keadilan.
Kalau memang gugatan salah objek,
Protes Warga Batalkan Konstatering Lahan
Pemakaman Elite di Sibolangit
kembalikan hak masyarakat,” ujar-
nya.
Warga berharap pengadilan dan
pemerintah segera meninjau ulang
lokasi sengketa agar tidak terjadi
pelanggaran atas hak masyarakat
adat dan petani pengelola lahan.
Dalam aksinya masyarakat
menyebut, tanahnya dirampas un-
tuk pendirian kawasan pemakaman
elit oleh PT Nirvana.
“Hentikan eksekusi tanah kami.
Ini Desa Rambung Baru bukan Bing-
kawan. Kembalikan tanah kami,”
kata masyarakat.
Sementara itu Jeremiah Ginting
Kepala Dusun I Desa Rambung Baru
menyebut, penolakan warga dilaku-
kan atas klaim sepihak yang dilaku-
kan PT Nirvana.
Dia menyebut, warga mera-
sa keberatan, sebab lahan mereka
yang telah dikelola puluhan tahun
diambil tanpa adanya ganti rugi.
“Ya kami harapkan keadilan,
bila ternyata gugatan yang diajukan
salah objek, tanah masyarakat ha-
rus dikembalikan,” ujarnya.
Warga pun sempat hen-
dak menutup jalan lintas Medan
menuju Sibolangit, namun petugas
kepolisian kemudian meminta agar
masyarakat tak menutup jalan.(bd)
Advokasi
6. Edisi 61 : Mei - Juli 2025
6
Pertanian
Semangat petani di Desa Dame,
Kecamatan Dolok Masihul, Kabu-
paten Serdang Bedagai, terlihat je-
las saat Sekolah Lapang Iklim (SLI)
resmi dibuka oleh Yayasan BITRA
Indonesia, (1/7). Kegiatan yang
berlangsung dari Juli hingga Sep-
tember 2025 ini dirancang khusus
untuk meningkatkan kapasitas pe-
tani dalam menghadapi dampak
perubahan iklim, khususnya pada
budidaya padi.
Program ini merupakan kola-
borasi antara Yayasan BITRA Indo-
nesia, BMKG, dan Pemerintah Desa
Dame. SLI menjadi sarana pembe-
lajaran langsung di lapangan bagi
para petani, mulai dari cara mem-
baca prakiraan musim, mengenali
gejala iklim ekstrem, hingga praktik
pertanian yang adaptif terhadap cu-
aca yang terus berubah.
Direktur Yayasan BITRA Indo-
nesia, Dra. Rusdiana, menjelaskan
pentingnya program ini sebagai
jawaban atas ketidakpastian iklim
yang semakin sering melanda sek-
tor pertanian.
“Sekolah Lapang Iklim ini kami
hadirkan sebagai upaya nyata agar
petani tidak hanya menunggu, tapi
mampu membaca kondisi cuaca
dan membuat keputusan pertanian
secara cerdas. Ini adalah langkah
membangun kemandirian dan keta-
hanan dari desa,” ujarnya.
Kepala Desa Dame, Fernando
Siahaan, SE, turut menyampaikan
rasa bangganya karena desanya
menjadi lokasi program perconto-
han.
“Ini adalah momentum yang
baik untuk meningkatkan kualitas
pertanian kita. Para petani kami
sangat antusias, dan kami siap
mendukung penuh agar ilmu yang
diperoleh benar-benar diterapkan
di lapangan,” katanya.
Sementara itu, Camat Dolok Ma-
sihul, Elmiyati, S.AP, hadir langsung
membuka kegiatan ini dan mem-
berikan dukungan penuh terhadap
inisiatif tersebut.
“Kami dari kecamatan menyam-
but positif program ini karena seca-
ra langsung membantu petani da-
lam memahami dan mengantisipasi
perubahan cuaca. Kegiatan seperti
ini sangat relevan untuk menjaga
ketahanan pangan dan ekonomi
masyarakat,” tutur Elmiyati.
Dengan pendampingan intensif
dan semangat gotong royong, Seko-
lah Lapang Iklim ini diharapkan
dapat menjadi model pembelajaran
pertanian adaptif, sekaligus mem-
perkuat daya tahan petani terhadap
krisis iklim di masa depan.
Selama tiga bulan ke depan, pe-
serta SLI akan mendapatkan mate-
ri secara bertahap dengan metode
partisipatif, mencakup pengamatan
harian cuaca, pencatatan pertum-
buhan tanaman, hingga diskusi ke-
lompok tentang solusi lokal yang
telah berhasil diterapkan. Metode
ini membuat petani tidak hanya
menjadi penerima ilmu, tetapi juga
aktor utama dalam proses adaptasi
iklim di lahannya sendiri.
Melalui program ini, BITRA In-
donesia berharap lahir generasi
petani yang tidak hanya tangguh se-
cara teknis, tetapi juga kritis terha-
dap tantangan perubahan iklim.
SLI menjadi bagian dari komitmen
jangka panjang untuk membangun
pertanian berkelanjutan, sekaligus
menjadikan Desa Dame sebagai
contoh desa tangguh iklim di Kabu-
paten Serdang Bedagai.(hf)
Petani Desa Dame Belajar Hadapi Iklim Lewat
Sekolah Lapang Padi
Edisi 61 : Mei - Juli 2025
7. Edisi 61 : Mei - Juli 2025 7
Kesehatan Alternatif
Daun singkong sangat enak
dan menggugah selera saat telah di-
masak gulai atau urap, Selain lezat,
daun singkong mengandung ber-
bagai nutrisi yang baik bagi tubuh.
Hal tersebut membuat sayuran ini
memberikan banyak manfaat kese-
hatan. Mulai dari mengobati diare,
baik untuk ibu hamil, hingga meng-
atasi radang sendi.
Daun singkong (Manihot es-
culenta) sering kali hanya dikenal
sebagai pelengkap makanan tra-
disional. Padahal, di balik rasanya
yang gurih, sayuran ini menyimpan
berbagai manfaat kesehatan berkat
kandungan nutrisinya yang kaya.
Apa Saja Kandungan Gizi Daun
Singkong yang berkontribusi besar
bagi tubuh?
Dalam 100 gram daun singkong
rebus, terdapat nutrisi penting,
seperti:
• Protein – baik untuk otot dan
energi
• Serat – bantu pencernaan lancar
• Vitamin C – tingkatkan daya
tahan tubuh
sumsi daun singkong rebus bisa
bantu lawan bakteri jahat di pen-
cernaan.
• Naikkan Energi, Protein dan
asam amino bantu tubuh lebih
bertenaga.
• Lancar Sirkulasi Darah, Antioksi-
dan mendukung aliran darah ke
seluruh tubuh.
• Tangkal Radikal Bebas, Antioksi-
dan cegah sel tubuh rusak akibat
paparan zat berbahaya.
• Melancarkan Pencernaan, Kan-
dungan serat membantu mence-
gah sembelit.
• Sembuhkan Luka Ringan, Tum-
buk daun singkong dan oleskan
pada luka kecil.
• Turunkan Kolesterol, Flavon-
oid-nya efektif menurunkan ko-
lesterol dalam darah.
Daun singkong adalah sayuran
lokal yang murah meriah tapi kaya
manfaat! Dengan pengolahan yang
benar, kita bisa menjadikannya se-
bagai bagian dari pola makan sehat
keluarga. Ayo, hidup sehat dimulai
dari dapur rumah kita sendiri! (bd)
Kenali Manfaat Daun Singkong untuk Kesehatan!
• Zat besi – cegah anemia
• Magnesium – untuk kekuatan tu-
lang dan sendi
• Antioksidan – cegah radikal be-
bas
Manfaat Daun Singkong untuk Tu-
buh
• Atasi Diare, Kandungan etanol
dalam daun singkong membantu
menghentikan diare secara ala-
mi.
• Baik untuk Ibu Hamil, Zat besi
di dalamnya mencegah anemia
selama kehamilan.
• Meningkatkan Daya Tahan Tu-
buh, Vitamin C dan folat mem-
bantu tubuh melawan infeksi.
• Kurangi Radang Sendi, Kan-
dungan magnesium mengurangi
peradangan di persendian.
• Perkuat Tulang, Magnesium
juga bantu cegah tulang keropos
(osteoporosis).
• Bantu Diet Sehat, Seratnya ting-
gi, bikin kenyang lebih lama dan
nafsu makan lebih terkontrol.
• Cegah Infeksi Bakteri Usus, Kon-
8. Edisi 61 : Mei - Juli 2025
Rianta br Sinaga Perempuan Tangguh dari Dolok Masihul
Profil
Di sebuah sudut tenang di Dusun IV
Desa Dame, Kecamatan Dolok Masihul,
Kabupaten Serdang Bedagai, hidup se-
orang perempuan petani yang menjadi
contoh keteguhan dan kemandirian.
Namanya Rianta br Sinaga, perempuan
56 tahun yang menjalani hidup seba-
gai petani sekaligus ibu tunggal bagi
lima anaknya.
Rianta bukan asli Dolok Masihul. Ia
menetap di sana sejak tahun 1989, se-
telah menikah dan ikut suaminya ting-
gal serta mengelola sawah bersama.
Selama lebih dari dua dekade, mereka
bertani bersama, hidup dari hasil panen
sawah yang sederhana namun cukup
untuk membesarkan keluarga. Namun,
2022, saat Rianta mendapat pendam-
pingan dari Yayasan BITRA Indonesia,
sebuah lembaga yang fokus pada
pemberdayaan petani kecil dan perta-
nian berkelanjutan. Dari pelatihan yang
ia ikuti, Rianta mulai mengenal konsep
pertanian organik, yang menggunakan
bahan alami tanpa pestisida dan pupuk
kimia sintetis.
Ketertarikannya bermula dari kein-
ginan untuk mengurangi biaya pro-
duksi, yang selama ini menjadi beban
terbesar dalam setiap musim tanam.
“Harga pupuk dan obat-obatan mahal
sekali. Saya pikir, kalau bisa buat sendi-
ri dari bahan alami, kenapa tidak dico-
ba?” ujarnya.
Dengan tekun, Rianta mulai belajar
membuat pupuk kompos, cairan pes-
tisida nabati, dan teknik pertanian or-
ganik lainnya. Meski sempat ragu dan
mendapatkan cibiran dari beberapa
petani lain, ia tetap berkomitmen men-
coba. Hasilnya cukup mengejutkan: ta-
nahnya tetap subur, padi tumbuh sehat,
dan biaya produksi turun drastis.
Kini, Rianta dikenal sebagai peta-
ni organik perempuan yang inspiratif
di desanya. Ia sering diminta berbagi
pengalaman oleh petani lain, terutama
perempuan, tentang bagaimana me-
mulai pertanian organik dengan sum-
ber daya terbatas. Ia pun aktif dalam
kelompok tani Mekar Sinur, kelompok
tani dampingan BITRA di desanya, dan
ia terus belajar mengembangkan per-
taniannya secara berkelanjutan.
Meski keempat anaknya telah
berkeluarga, Rianta masih hidup se-
derhana di rumahnya di tengah sawah
bersama anak bungsunya. Usianya
memang tak muda lagi, tapi seman-
gatnya tak luntur. Setiap pagi, ia tetap
turun ke sawah dengan semangat
yang sama seperti saat ia pertama kali
menggenggam cangkul belasan tahun
lalu.
Rianta br Sinaga bukan hanya peta-
ni. Ia adalah penjaga nilai hidup, keber-
lanjutan, dan ketahanan keluarga, yang
menunjukkan bahwa dengan kemauan,
pendampingan, dan sedikit keberanian,
seorang perempuan desa bisa bangkit
menjadi penggerak perubahan.(hf)
cobaan datang ketika suaminya me-
ninggal dunia pada tahun 2010. Sejak
saat itu, Rianta memikul beban sebagai
orang tua tunggal, mengasuh dan me-
nyekolahkan kelima anaknya, empat di
antaranya kini telah menikah.
“Waktu itu, saya bingung harus
mulai dari mana. Tapi saya tahu, saya
tidak boleh berhenti karena anak-anak
masih butuh saya,” ucap Rianta men-
genang masa-masa sulit itu. Ia pun
melanjutkan mengelola sawah warisan
keluarganya sendirian, meski harus
bersaing dengan keterbatasan tenaga,
modal, dan biaya produksi pertanian
yang terus meningkat.
Titik balik datang pada tahun