BAB I<br />PENDAHULUAN<br />I.1 Latar Belakang<br />Rancangan dari suatu bentuk sediaan yang tepat memerlukan pertimbangan karakteristik fisika, kimia dan biologis dari semua bahan-bahan obat dan bahan-bahan farmasetik yang akan digunakan dalam membuat produk tersebut. Obat dan bahan-bahan farmasetik yang digunakan harus tercampurkan satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan satu produk obat yang stabil, manjur, menarik, mudah dibuat dan aman. Produk harus dibuat dibawah kontrol kualitas yang tepat dan dikemas dalam wadah yang membantu stabilitas produk.
Apabila pemakaian obat harus secara oral dalam bentuk kering, maka bentuk kapsul dan tablet yang paling sering digunakan keduanya efektif, memberikan kenyamanan dan kemantapan dalam penanganan, pengenalan dan pemakaian oleh pasien. Dari sudut pandang farmasetika bentuk sedian padat pada umumnya lebih stabil dari pada bentuk cair, sehingga bentuk sediaan padat ini lebih cocok untuk obat-obat yang kurang stabil.
Banyaknya keuntungan yang didapatkan dari sediaan padat dalam bentuk tablet, walaupun proses pembuatannya yang cukup sulit namun kebanyakan sediaan tablet ini digunakan disenangi oleh pasien. Apalagi ditambah dengan mekanisme kerja dari tablet yang lebih cepat diabsorbsi sehingga cepat menimbulkan efek terapi.I.2 Rumusan Masalah<br />Apa yang dimaksud dengan tablet?
Apa keuntungan dan kerugian tablet?
Apa komposisi dari tablet?
Bagaimana cara membuat tablet?I.3 Maksud dan Tujuan<br />Maksud dan tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut :<br />Untuk mengetahui definisi, keuntungan, kerugian dari sediaan tablet.
Untuk mengetahui pengolahan tablet sampai pada tangan pasien meliputi cara pembuatan, pencetakan, pengemasan, serta penyimpanan dalam bentuk tablet.
Untuk menyelesaikan tugas laporan akhir sebagai syarat ketuntasan mengikuti praktikum farmasetika II.
Memberi sumbangan ilmu pengetahuan khususnya tentang “TABLET” kepada praktikan-praktikan selanjutnya.
Sebagai referensi bagi para peneliti lanjutan mengenai objek dan permasalahan yang sama.I.4 Manfaat<br />Laporan ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan kita tentang tablet, meliputi definisi, keuntungan dan kerugian, komposisi dan proses pembuatan tablet.<br />BAB II<br />TINJAUAN PUSTAKA<br />II.1 Teori Umum
II.1.1 Pengertian Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan cara pembuatannya dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (Farmakope Indonesia edisi IV, 1995).
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambhan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. (Ansel versi terjemahan, 2005)
Tablet yang berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih/gepeng, bundar, segitiga, lonjong, dan sebagainya. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari, mencegah atau mempersulit pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. Warna tablet umumnya putih. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya memang berwarna. Tetapi ada juga tablet yang sengaja diberi warna agar tampak lebih menarik, mencegah pemalsuan, dan untuk membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain.
Pemberian etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet atau zat aktif yang dikandung, dan jumlah zat aktif (zat berkhasiat) tiap tablet.
II.1.2 Keuntungan Tablet (Lachman, Hal 644)
Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah
Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak
Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling mudah dan murah untuk dikemas serta dikirim
Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul
Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi
Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti penglepasan diusus atau produk lepas lambat
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik
II.1.3 Kerugian Tablet (Lachman, Hal 645)
Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada keadaan amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis
Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukup tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat diatas, akan sukar atau tidak mungkin diformulasi dalam bentuk tablet yang masih menghasilkan bioavailabilitas yang cukup
Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembapan udara perlu pengapsulan atau penyelubungan dulu sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan dulu( Lachman jilid 2 edisi 3, 2008)<br />II.1.4 Penggolongan berdasarkan Metode Pembuatan<br />Berdasarkan metode pembuatannya, dikenal beberapa jenis tablet, yaitu:<br />Tablet Cetak<br />Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi yang umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. Massa serbuk dibasahi dengan etanol persentase tinggi. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut, serta derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. Tablet cetak agak rapuh sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. Kepadatan tablet bergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak bergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan.<br />Tablet Kempa  <br />Dibuat dengan memberikan tekanan tingggi pada serbuk atau granul menggunakan cewtakan baja. Umumnya tablet kempa mengandung zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan, tetapi dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak (pewarna yang diabsorbsikan pada aluminium hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis. <br />Tablet Triturat <br />Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya silindris, digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. <br />Tablet Hipodermik<br />Adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air, harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik.<br />Tablet Sublingual <br />Digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut, dinerikan secara oral atau jika diperlupakan ketersediaan obat yang cepat seperti tablet nitrogliserin.<br />Tablet Bukal<br />Digunakan dengan cara meletakkan tablet di antara pipi dan gusi, sehingga zat aktif diserap sacara langsung melalui mukosa mulut.<br />Tablet Efervesen<br />Dibuat dengan cara dikempa. Selain zat aktif, tablet mengadung campuran asam (asam sitrat, asam tartrat) dan natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida. Tablet disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab, dan pada etiket tertera informasi bahwa tablet ini tidak untuk ditelan.<br />Tablet Kunyah<br />Dimaksudkan untuk dikunyah, meninggal residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. Diformulasikan untuk anak-anak, terutama formulasi multivitamin, antasida, dan antibiotik tertentu. Dibuat dengan cara dikempa, pada umumnya menggunkan manitol, sorbitiol, atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan pengisi, serta mengadung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa.    <br />II.1.5 Tujuan Penyalutan Tablet
Melindungi zat aktif yang bersifat higroskopis atau tidak tahan terhadap pemgaruh udara, kelembapan atau cahaya.
Menutupi rasa dan bau yang tidak enak
Membuat penampilan lebih baik dan menarik
Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Misalnya tablet enterik yang pecah di usus.

More Related Content

PPTX
Slide Presentasi Tablet
PPTX
tablet ( compressi)
PPTX
PPTX
Bentuk dan cara pemberian obat
PDF
Laporan Praktikum Pembuatan Tablet Vitamin-C
PPTX
Presentasi kempa langsung
Slide Presentasi Tablet
tablet ( compressi)
Bentuk dan cara pemberian obat
Laporan Praktikum Pembuatan Tablet Vitamin-C
Presentasi kempa langsung

What's hot (20)

PPT
GRANULASI BASAH
PPTX
Kk 12.tablet zr
PPTX
TABLET DAN METODE PEMBUATAN TABLET
PPTX
Kk 12.tablet zr
PPTX
Sediaan obat Kapsul
PPTX
Bentuk Sediaan Obat
PPTX
Bentuk sediaan obat
PPTX
Kk 12.tablet zr
DOCX
keuntungan kerugian sediaan farmasi
DOCX
Laporan formulasi tablet pembuatan tablet salut gula
PPT
PENGANTAR SEDIAAN FARMASI
DOC
Metode pembuatan tablet.
DOCX
Laporan Teknologi Farmasi
PPT
Pengantar sediaan farmasi
PPTX
tablet coating
DOCX
Suspensi
PPTX
Kuliah 2 farmakope
PPTX
Sediaan Suspensi
DOC
Suppositoria.docx
DOCX
Bab i
GRANULASI BASAH
Kk 12.tablet zr
TABLET DAN METODE PEMBUATAN TABLET
Kk 12.tablet zr
Sediaan obat Kapsul
Bentuk Sediaan Obat
Bentuk sediaan obat
Kk 12.tablet zr
keuntungan kerugian sediaan farmasi
Laporan formulasi tablet pembuatan tablet salut gula
PENGANTAR SEDIAAN FARMASI
Metode pembuatan tablet.
Laporan Teknologi Farmasi
Pengantar sediaan farmasi
tablet coating
Suspensi
Kuliah 2 farmakope
Sediaan Suspensi
Suppositoria.docx
Bab i
Ad

Viewers also liked (7)

PDF
Isofractal open house 9 20-11
PDF
Ignite amsterdam from 0 to C
PPTX
6 oct esport i valors
PPTX
6 oct esport i valors
PDF
Preparazione anno 1980
PDF
Summer 2008 Friend to Friend Newsletter, Friends of the Foothills
PDF
Allenamento tecnico atletico anno 1978
Isofractal open house 9 20-11
Ignite amsterdam from 0 to C
6 oct esport i valors
6 oct esport i valors
Preparazione anno 1980
Summer 2008 Friend to Friend Newsletter, Friends of the Foothills
Allenamento tecnico atletico anno 1978
Ad

Similar to Laporan+tablet (20)

PPTX
solida materi 1.pptx
PPTX
Farmasetika dasara.pptx
DOC
91198304 praktikum-3
PPTX
TABLET 1 kelas xi farmasi power point tablet
DOC
Tugas pendahuluan
PPTX
FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN PADAT.pptx
PPT
Kuliah Pendahuluan Sediaan Tablet untuk Siswa SMK Farmasi.ppt
PPTX
PIL.pptx
PPTX
Sediaan tablet indah
PPTX
MATERI TABLET (bagian 1) : definisi, bentuk, komponen dan jenis tablet
DOCX
Laporan teknologi farmasi
PPTX
formulasi teknologi sediaan solid semester 4 fakultas farmasi
PPTX
ILMU RESEP FARMASI KELAS DUA BELAS SMK FARMASI
PPT
materi tentang pulvis-pulveres-tablet-ok.ppt
PPTX
BENTUK_SEDIAAN_OBAT.pptx
PPT
fdokumen.com_2-formulasi-sediaan-tablet.ppt
DOC
PPTX
zat aktif dan eksipian dalam pembuaan tablet
PPTX
Kelompok 2 PDT.pptx
PDF
2C_Kelompok 5 Tekfor Sediaan Padat Pak Arif.pdf
solida materi 1.pptx
Farmasetika dasara.pptx
91198304 praktikum-3
TABLET 1 kelas xi farmasi power point tablet
Tugas pendahuluan
FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN PADAT.pptx
Kuliah Pendahuluan Sediaan Tablet untuk Siswa SMK Farmasi.ppt
PIL.pptx
Sediaan tablet indah
MATERI TABLET (bagian 1) : definisi, bentuk, komponen dan jenis tablet
Laporan teknologi farmasi
formulasi teknologi sediaan solid semester 4 fakultas farmasi
ILMU RESEP FARMASI KELAS DUA BELAS SMK FARMASI
materi tentang pulvis-pulveres-tablet-ok.ppt
BENTUK_SEDIAAN_OBAT.pptx
fdokumen.com_2-formulasi-sediaan-tablet.ppt
zat aktif dan eksipian dalam pembuaan tablet
Kelompok 2 PDT.pptx
2C_Kelompok 5 Tekfor Sediaan Padat Pak Arif.pdf

Laporan+tablet

  • 1. BAB I<br />PENDAHULUAN<br />I.1 Latar Belakang<br />Rancangan dari suatu bentuk sediaan yang tepat memerlukan pertimbangan karakteristik fisika, kimia dan biologis dari semua bahan-bahan obat dan bahan-bahan farmasetik yang akan digunakan dalam membuat produk tersebut. Obat dan bahan-bahan farmasetik yang digunakan harus tercampurkan satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan satu produk obat yang stabil, manjur, menarik, mudah dibuat dan aman. Produk harus dibuat dibawah kontrol kualitas yang tepat dan dikemas dalam wadah yang membantu stabilitas produk.
  • 2. Apabila pemakaian obat harus secara oral dalam bentuk kering, maka bentuk kapsul dan tablet yang paling sering digunakan keduanya efektif, memberikan kenyamanan dan kemantapan dalam penanganan, pengenalan dan pemakaian oleh pasien. Dari sudut pandang farmasetika bentuk sedian padat pada umumnya lebih stabil dari pada bentuk cair, sehingga bentuk sediaan padat ini lebih cocok untuk obat-obat yang kurang stabil.
  • 3. Banyaknya keuntungan yang didapatkan dari sediaan padat dalam bentuk tablet, walaupun proses pembuatannya yang cukup sulit namun kebanyakan sediaan tablet ini digunakan disenangi oleh pasien. Apalagi ditambah dengan mekanisme kerja dari tablet yang lebih cepat diabsorbsi sehingga cepat menimbulkan efek terapi.I.2 Rumusan Masalah<br />Apa yang dimaksud dengan tablet?
  • 4. Apa keuntungan dan kerugian tablet?
  • 6. Bagaimana cara membuat tablet?I.3 Maksud dan Tujuan<br />Maksud dan tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut :<br />Untuk mengetahui definisi, keuntungan, kerugian dari sediaan tablet.
  • 7. Untuk mengetahui pengolahan tablet sampai pada tangan pasien meliputi cara pembuatan, pencetakan, pengemasan, serta penyimpanan dalam bentuk tablet.
  • 8. Untuk menyelesaikan tugas laporan akhir sebagai syarat ketuntasan mengikuti praktikum farmasetika II.
  • 9. Memberi sumbangan ilmu pengetahuan khususnya tentang “TABLET” kepada praktikan-praktikan selanjutnya.
  • 10. Sebagai referensi bagi para peneliti lanjutan mengenai objek dan permasalahan yang sama.I.4 Manfaat<br />Laporan ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan kita tentang tablet, meliputi definisi, keuntungan dan kerugian, komposisi dan proses pembuatan tablet.<br />BAB II<br />TINJAUAN PUSTAKA<br />II.1 Teori Umum
  • 12. Tablet adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan cara pembuatannya dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (Farmakope Indonesia edisi IV, 1995).
  • 13. Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambhan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. (Ansel versi terjemahan, 2005)
  • 14. Tablet yang berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih/gepeng, bundar, segitiga, lonjong, dan sebagainya. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari, mencegah atau mempersulit pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. Warna tablet umumnya putih. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya memang berwarna. Tetapi ada juga tablet yang sengaja diberi warna agar tampak lebih menarik, mencegah pemalsuan, dan untuk membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain.
  • 15. Pemberian etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet atau zat aktif yang dikandung, dan jumlah zat aktif (zat berkhasiat) tiap tablet.
  • 16. II.1.2 Keuntungan Tablet (Lachman, Hal 644)
  • 17. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah
  • 18. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah
  • 19. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak
  • 20. Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling mudah dan murah untuk dikemas serta dikirim
  • 21. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul
  • 22. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi
  • 23. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti penglepasan diusus atau produk lepas lambat
  • 24. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran
  • 25. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik
  • 26. II.1.3 Kerugian Tablet (Lachman, Hal 645)
  • 27. Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada keadaan amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis
  • 28. Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukup tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat diatas, akan sukar atau tidak mungkin diformulasi dalam bentuk tablet yang masih menghasilkan bioavailabilitas yang cukup
  • 29. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembapan udara perlu pengapsulan atau penyelubungan dulu sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan dulu( Lachman jilid 2 edisi 3, 2008)<br />II.1.4 Penggolongan berdasarkan Metode Pembuatan<br />Berdasarkan metode pembuatannya, dikenal beberapa jenis tablet, yaitu:<br />Tablet Cetak<br />Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi yang umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. Massa serbuk dibasahi dengan etanol persentase tinggi. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut, serta derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. Tablet cetak agak rapuh sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. Kepadatan tablet bergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak bergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan.<br />Tablet Kempa <br />Dibuat dengan memberikan tekanan tingggi pada serbuk atau granul menggunakan cewtakan baja. Umumnya tablet kempa mengandung zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan, tetapi dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak (pewarna yang diabsorbsikan pada aluminium hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis. <br />Tablet Triturat <br />Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya silindris, digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. <br />Tablet Hipodermik<br />Adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air, harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik.<br />Tablet Sublingual <br />Digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut, dinerikan secara oral atau jika diperlupakan ketersediaan obat yang cepat seperti tablet nitrogliserin.<br />Tablet Bukal<br />Digunakan dengan cara meletakkan tablet di antara pipi dan gusi, sehingga zat aktif diserap sacara langsung melalui mukosa mulut.<br />Tablet Efervesen<br />Dibuat dengan cara dikempa. Selain zat aktif, tablet mengadung campuran asam (asam sitrat, asam tartrat) dan natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida. Tablet disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab, dan pada etiket tertera informasi bahwa tablet ini tidak untuk ditelan.<br />Tablet Kunyah<br />Dimaksudkan untuk dikunyah, meninggal residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. Diformulasikan untuk anak-anak, terutama formulasi multivitamin, antasida, dan antibiotik tertentu. Dibuat dengan cara dikempa, pada umumnya menggunkan manitol, sorbitiol, atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan pengisi, serta mengadung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. <br />II.1.5 Tujuan Penyalutan Tablet
  • 30. Melindungi zat aktif yang bersifat higroskopis atau tidak tahan terhadap pemgaruh udara, kelembapan atau cahaya.
  • 31. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak
  • 32. Membuat penampilan lebih baik dan menarik
  • 33. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Misalnya tablet enterik yang pecah di usus.
  • 37. Zat Pengisi (diluent)Contoh : Lactosa, Amylum, sucrose.<br />Zat Pengikat (binder)Contoh : Akasia, Tragakan, Gelatin, derivat-derivat selulosa (metilselulosa, hidroksipropil metilselulosa, dan hidroksipropil selulosa), da n Polivinilpirolidon (PVP).<br />Zat Penghancur (disintegran)Contoh : Natrium Karboksimetilselulosa (Na CMC)<br />Lubricant dan/atau GlidanContoh : Talk, Mg stearat, Asam stearat, Amilum<br />II.1.7 Metode Pembuatan Tablet
  • 38. Granulasi Basah (wet granulation)
  • 39. Yaitu memproses campuran zat aktif dan excipient menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah tepat sehingga didapat massa yang lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasa digunakan jika zat aktif tahan terhadap lembab dan panas.
  • 41. Yaitu metode yang memproses partikel zat aktif dan excipient dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat, selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsipnya adalah membuat granul secara mekanis tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut.
  • 43. Yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan excipient kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode paling mudah, praktis dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya dan zat aktif yang tidak tahan terhadap panas dan lembab.II.1.8 Syarat-syarat Tablet Menurut FI III dan FI IV <br />Keseragaman ukuran (FI III)<br />Diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari satu sepertiga kali tebal tablet.<br />Kegunaan bobot dan keseragaman kandungan (FI IV)<br />Keseragaman bobot ditetapkan sebagai berikut (FI III) :<br />Timbang 20 tablet dan dihitung bobot rata-ratanya<br />Jika ditimbang satu per satu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh ada satu tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom B.<br />Jika perlu dapat diulang dengan 10 tablet dan tidak boleh ada satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A maupun kolom B.<br />Bobot rata-rata tabletPenyimpangan bobot rata-rata dalam %AB<25 mg153026-150 mg1020151-3007,515>300 mg510<br /> <br />Waktu Hancur (FI III)<br />Waktu hancur penting dilakukan jika tablet diberikan per oral, kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan dan beberapa jenis tablet lepas-lambat dan lepas tunda. Untuk obat yang kelarutannya dalam air terbatas, uji disolusi akan lebih berarti daripada uji waktu hancur.<br />Kekerasan Tablet (FI III)<br />Pengukuran kekerasan tablet digunakan untuk mengetahui kekerasannya, agar tablet tidak terlalu rapuh atau terlalu keras. Kekerasan tablet erat hubungannya dengan ketebalan tablet, bobot tablet, dan waktu hancur tablet. Alat yang digunakan untuk pengukuran kekerasan tablet adalah hardness tester.<br />Keregasan Tablet (friability)<br />Friability adalah persen bobot yang hilang setelah tablet diguncang. Penentuan keregasan atau kerapuhan tablet dilakukan terutama pada waktu tablet akan dilapis (coating). Alat yang digunakan disebut friability tester.<br />Caranya:<br />Bersihkan 20 tablet dari debu, kemudian ditimbang (W1 gram)<br />Masukkan tablet ke dalam alat friability tester untuk diuji<br />Putar alat tersebut selama 4 menit<br />Keluarkan tablet, bersihkan dari debu dan ditimbang kembali (W2 gram) <br />Kerapuhan tablet yang didapat = W1 – W2 x 100%<br /> W1<br />Batas kerapuhan yang diperbolehkan maksimum 0,8%<br />BAB III<br />METODE KERJA<br />III.1 Alat <br />1255395356235Lumpang dan alu
  • 48. Sudip
  • 50. Pipet
  • 52. Oven
  • 62. Na CMC fase dalam (30 mg)
  • 64. Na CMC fase luar (20 mg)
  • 69. 98869527306III.3 Cara Kerja<br />Disiapkan alat dan bahan
  • 72. 4737101183005Amilum dibuat muchilago, dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit air panas ke dalam 25 mg amilum, dicampur samapai terbentuk muchilago.
  • 73. Digerus aminophylin dalam lumpang hingga halus,
  • 75. Ditambahkan Na CMC dan laktosa, digerus hingga halus dan homogen.
  • 77. 474345698500Ditambahkan muchilago amilum sedikit demi sedikit, digerus hingga homogen.
  • 78. 474345697865Dilakukan pengayakan basah terhadap massa basah dengan menggunakan pengayak basah.
  • 79. Dilakukan pengeringan terhadap granul basah yang dihasilkan dengan menggunakan oven bersuhu 50 - 60° C selama 1 sampai 2 jam.
  • 81. Dilakukan pengayakan kembali dengan menggunakan pengayak kering.
  • 82. Dibuat bahan fase luar dengan menggerus talk dengan Na CMC hingga halus dan homogen.
  • 83. Ditambahkan fase luar tersebut ke dalam granul hasil pengayakan kering, kemudian tambahkan Mg stearat, dicampur hingga homogen.
  • 85. 474345728980Dievaluasi (dilakukan dengan pemampatan pada granul sebanyak 20 kalidi dalam tabung reaksi).BAB IV<br />PEMBAHASAN<br />Dr.Abdussalam S.I.K : 304/VI/Menkes/GTOAlamat : Jl. Jend. Soedirman no.86 Limboto, Telp. (0435) 88170030 desember 2009 R/ Aminofilin250 mg CMC 6% Amilum 5% Laktosa q.s Mg 2% Talk 2% CMC 3% m.f. granul d.t.d No. X∫ t.d.d.IPro : GledisUmur : 17 tahunIV.1 Resep asli<br />Indikasi zat aktif<br />Bronchodilator yaitu obat yang merelaksasi dan mendilatasi (melebarkan) saluran menuju paru-paru. Bronchodilatasi dapat dicapai dengan cara merangsang sistem adrenergik dengan adrenergika atau melalui penghambatan sistem kolinergik dengan antikolinergika. (Obat-obat Penting : 606)
  • 86. Antipasmodik yaitu zat-zat yang melepaskan kejang-kejangDiuretik yaitu Zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih (diuresis). Melalui kerja langsung terhadap ginjal. Aminofilin menstimulasi diresis dengan mempengaruhi ginjal secara tak langsung. (Obat-obat Penting : 488)<br />Efek farmakologi : Aminofilin berupa garam bersifat basa dan sangat merangsang selaput lendir, sehingga secara oral sering mengakibatkan gangguan lambung (mual, muntah). Reabsorbsinya diusus buruk dan tak teratur. Ekskresinya berlangsung sebagai asam metil urat lewat kemih dan hanya 10% dalam keadaan utuh. (Obat-obat Penting : 613)<br />Alasan penambahan jumlah excipent<br />Amilum digunakan dalam pembuatan tablet sebagai pengikat karena dapat ,meningkatkan kobehifitas antar partikelserbuk sehingga memberikan kekompakkan dan daya tahan tablet. (konsetrasi amilum : 5-25 %). (teknologi sediaan farmasi).
  • 87. Na CMC digunakan sebagai penghancur karena memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet dalam media air, sehingga pecah menjadi granul. Selanjutnya menjadi partikel-partikel penyusun sehingga akan meningkatkan kecepatan disolusi/kelarutan tablet. (konsentrasi Na CMC : 3 – 6%).
  • 88. Laktosa dapat menambah berat tablet agar sesuai dengan berat yang dikehendaki dan dapat dicetak dengan baik. Laktosa juga dapat memperbaiki pengikat dan pengaliran dari formulasi yang ada. Secara umum bahan pengisi berfungsi menambah bobot sehingga memiliki bobot yang sesuai untuk dikempa. Serta memperbaiki kompresibilitas daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung.
  • 89. Talk pada pembuatan tablet digunakan sebagai glidan yaitu dengan mengurai friksi antara permukaan dinding/tepi tablet dengan die selama kompresi dan ejeksi. (konsentrasi talk : 1-10%).
  • 90. Mg stearat tetap digunakan sebagai lubrikan pada tablet karena mempunyai konsentrasi antara 0,25 – 5,0 %. Mg stearat stabil dan tahan jika berada ditempat yang dingin dan kering. (konsentrasi : 0,25 – 5,0 %).Incompatibility<br />Na CMC dapat bercampur (tidak income) dala larutan asam pekat dan garam serta beberapa logam lainnya. Jadi Na CMC dapat bercampur (tidak income) dengan zat aktif yaitu aminophilyn karena aminophilyn masuk dalam golongan asam dan garam.
  • 91. Laktosa income (tidak bercampur) dengan aminophylin, asam amino, dan amfetamin.
  • 92. Mg stearat tidak income (dapat bercampur) dengan aminophylin, karena Mg Stearat tidak dapat mengoksidasi asam. Sedangkan aminophylin adalah golongan asam.
  • 93. Talk tidak income dengan aminophylin, karena talk hanya dapat income dengan senyawa golongan ammonium kuartener yang bermuatan positif, sedangkan aminophylin termasuk golongan asam.IV.2 Uraian Bahan<br />Aminofilin (Farmakope Indonesia III : 82)<br />Nama lain:Aminophyllinum <br />Sinonim:Aminofilina ,theofilina etillendiamina <br />Rumus molekul :C16H24N10O4<br />Pemerian:butir atau serbuk; putih atau agak kekuningan; bau lemah mirip amoniak <br />Kelarutan :larut dalam lebih kurang 5 bagian air, jika dibiarkan mungkin menjadi keruh; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P, dan dalam eter P.<br />Khasiat :bronkhodilator, antispasmodik, diuretikum <br />DM:Sekali 500 mg, Sehari 1,5 g<br />Penyimpanan:Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya<br /> <br />CMC ( Farmakope Indonesia IV : 175)<br />Nama latin:Carboxymetyl cellulosum natricum <br />Sinonim:Karboksimetil selulosa natricum, garam selulosa karboksimetil eter natrium <br />Pemerian :Serbuk atau granul; putih sampai krem; higroskopik <br />Kelarutan:Mudah terdispersi dalam air, membentuk larutan klorida, tidak larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organik lain<br />Khasiat:zat tambahan (penghancur)<br />Penyimpanan:Dalam wadah tertutup rapat<br />Laktosa ( Farmakope Indonesia IV : 488)<br />Nama Latin:Lactosum <br />Sinonim:Saccarum lactis, gula susu, melkzuiker <br />Rumus molekul: C12H22O11( anhidrat) <br />Pemerian:serbuk atau massa hablur; keras, putih krem; tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau <br />Kelarutan:Mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah larut air mendidih; sangat sukar larut dalam etanol; dan tidak larut dalam eter <br />Khasiat:Zat tambahan (zat pengisi)<br />Penyimpanan:Dalam wadah tertutup baik<br />Amylum (Farmakope Indonesia III : 93)<br />Nama latin:Amylum manihot <br />Sinonim: Pati singkong <br />Pemerian:Serbuk hablur, kadang-kadang berupa gumpalan kecil; putih; tidak berbau; tidak berasa <br />Kelarutan:Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol (95%) P <br />Khasiat:Zat tambahan (pengikat)<br />Penyimpanan:Dalam wadah tertutup baik<br />Mg (Farmakope Indonesia III : 354)<br />Nama latin:Magnesium stearat <br />Sinonim:Magnesium stearat <br />Pemerian:Serbuk halus; putih; licin dan mudah melekat pada kulit; bau lemah khas.<br />Kelarutan:Praktis tidak larut dalam air; dalam etanol (95 %) P dan dalam eter P<br />Khasiat:Antasidum; Zat tambahan (lubrikan)<br />Penyimpanan:Dalam wadah tertutup baik<br />Talk ( Farmakope Indonesia III : 591)<br />Nama latin:Talcum<br />Sinonim:Talk<br />Pemerian:Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit bebas dari butiran, warna putih atau putih kelabu <br />Kelarutan:Tidak larut dalam hampir semua pelarut <br />Khasiat:Zat tambahan (glidan)<br />Penyimpanan:Dalam wadah tertutup baik<br />IV.3 Perhitungan dosis<br />DM Aminofilin =500 mg/1500 mg
  • 94. Untuk 35 tahun=35/24 x 500 mg=729,2 mg
  • 95. Sehari=35/24 x 1500 mg=2187,5 mg
  • 96. 1 x P=1 x 250 mg=250 mg
  • 98. 3 x P=3 x 250 mg=750 mg
  • 99. %=750/2187,5 x 100%= 34,29%IV.4 Perhitungan bahan<br />Bobot 1 Tablet =500 mg<br />aminofilin =250 mg<br />Fase Dalam 92%=92/100 x 500 mg=460 mg<br />Aminofilin=250 mg<br />Na CMC 6% =6/100 x 500 mg =30 mg<br />Amilum 5%=5/100 x 500 mg=25 mg<br />Laktosa=460 – (250+30+ 25)=155 mg<br />Total fase dalam =250 mg + 30 mg+ 25 mg +155 Mg = 460 mg<br />Fase luar <br />Mg stearat 2%=1/92 x 460 mg=10 mg<br />Talk 2%=2/92 X 460 mg=10 mg<br />Na cmc 4% =5/92 x 460 mg = 20 mg +<br />40 mg<br /> Jadi, total fase dalam dan fase luar = 460 mg + 40 mg = 500 mg<br />Untuk 5 tablet
  • 101. Aminofilin=250 mg x 5=1250 mgNa cmc=30 mg x 5=150 mg<br />Amylum=25 mg x 5 =125 mg<br />Lactosa=155 mg x 5 =775 mg<br />Fase Luar<br />Mg stearat=10 mg x 5=50 mg<br />Talk=10 mg x 5=50 mg<br />Na CMC=20 mg x 5=200 mg<br />IV.5 Pembahasan<br />Tablet merupakan bentuk sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, dengan atau tanpa bahan pengisi. Pembuatan sediaan tablet dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung.<br />Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pembuatan tablet dalam skala lab. Resep yang dibuat sediaan tablet hanya resep 2 yaitu tablet aminophilyn, dimana bahan excipientya terdiri atas fase dalam yaitu Na CMC, laktosa, dan amilum. Sedangkan untuk fase dalamnya yaitu Na CMC, talk, dan Mg stearat. Pertama kali dilakukan dengan menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, kemudian menimbang bahan-bahan tersebut dan langsung membuat sediaan tablet. <br />Pada resep ini kita membuat dengan granulasi basah karena titik lebur dari zat aktifnya yaitu aminophilyn di atas dari 60° C. Amilum pada resep ini digunakan sebagai pengikat karena amilum memiliki kemampuan untuk dapat mengikatkan zat aktif dengan excipient dan excopient dengan excipient. Amilum dibuat muchilago terlebih dahulu karena titik lebur amilum di atas dari 60° C yaitu 105° C. Penentuan konsentrasi dari bahan excipient pada resep ini tidak tepat, karena jumlah penghancur pada fase dalam dan fase luar itu harus sama, namun pada penentua resep ini konsentrasi penghancur dalam dan penghancur luar tidak sama.<br />Pada saat pengayakan basah hanya dilakukan dengan ayakan biasa, karena keterbatasannya alat yang ada di laboratorium sehingga membuat jalannya praktikum tidak berjalan dengan sempurna. Setelah proses pengayakan selesai saatnya massa basah tadi dikeringkan dalam oven pada suhu 50° C sampai 60° C. pemansan dalam oven dilakukan selama 1 sampai 2 jam, namun pada percobaan kali ini dilakukan hanya ± 45 menit saja, karena pada saat memasukkan massa basah ke dalam oven pada saat suhu 60° C.Jika akan menunggu 1 sampai 2 jam pemansan dalam oven akan membuat sediaan hangus dan percobaan menjadi gagal.<br />Pengayakan kering dilakukan setelah pemanasan selesai, kemudian ditimbang hasilnya sebagai tahap evaluasi pertama. Setelah itu dimasukkan fase luarnya yaitu Na CMC sebagai penghancur luar dan talk sebagai pelicin partikel serta Mg stearat sebagai pelicin alat. Penggerusan yang dilakukan hingga sampai homogen. Hasil akhir adalah evaluasi kembali dengan cara pemampatan granul. Pada saat pemampatan granul dilakukan dengan cara memasukkan granul ke dalam tabung rekasi dan dilihat volume granul itu kemudian tabung reaksi tersebut di terpa diatas bidang rata selam 20 kali. Kemudian dilihat lagi volume granul. Hasil yang didapatkan yaitu :<br />%T = (V0-V1)V0 x 100%<br />= (5,1 ml – 4 ml) / 5 ml x 100%<br />= 1,1 / 5,1 x 100%<br />= 21,56%<br />Hasil yang kami dapatkan ternyata tidak memiliki aliran yang baik. Sedangkan graul yang memiliki aliran yang baik hasil akhirnya harus dibawah dari 20%. Banyaknya faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mungkin salah satu faktornya adalah penentuan konsentrasi penghancur dalam dan panghancur luar yang tidak sama. Pada percobaan ini dilakukan hanya sampai granul karena keterbatasan alat pada laboratorium.<br />BAB V<br />PENUTUP<br />V.1 Kesimpulan<br />1. Memformulasi tablet perlu diperhatikan bahan aktif yang akan digunakan, sebab sifat zat aktif yang akan digunakan dapat menentukan metode yang akan digunakan dalam membuat tablet.<br />2. Memformulasi tablet harus diperhatikan penentuan konsentrasi dari excipient karena dapat mempengaruhi pada sediaan.<br />V.2 Saran<br />Untuk laboratorium diharapkan agar melengkapi peralatan yang akan digunakan untuk praktikum, sehingga dapat membuat jalannya praktikum dengan sempurna.<br />DAFTAR PUSTAKA<br />Anthur, H.Kibbe. 2000. “Handbook Of Pharmaceutical Excipient Third Edition”. America Pharmaceutical Association: London
  • 102. Anief, Moh. 2008. “Ilmu Meracik Obat”. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
  • 103. DEPKES RI. 1979. “Farmakope Indonesia Edisi III”. Dirjen POM Depkes RI: Jakarta
  • 104. DEPKES RI. 1995. “Farmakope Indonesia Edisi IV”. Dirjen POM Depkes RI: Jakarta
  • 105. Howard, Ansel. 2005. “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi” Universitas Indonesia Press: Jakarta
  • 106. Lachman, Leon dkk. 2008. “Teori dan Praktek Farmasi Industri”. Universitas Indonesia Press: Jakarta
  • 107. Syamsuni. 2007. “Ilmu Resep”. Buku Kedokteran: JakartaLAMPIRAN<br />Copy resepApotek : “APOTEK PERMATA”Alamat : Jl. Aloe SaboeTelp : 8321110Apoteker : Robert Tungadi, S.Si., M.Si., AptGorontalo, 30 Desember 2009APOGRAPHResep Untuk : GladisResep dari Dokter : AbdussalamTanggal Resep : 30-12-2009Nomor Resep : 12Tanggal Copy Resep: 30-12-2009R/ Fase dalamAminofilin 250 mgCMC Na 6%Amilum 5%Laktosa q.sFase Luar Mg 2%Talk 2%CMC Na 4%m.f granulae No.XXS tdd Idet Cap Apotek PccParaf Apoteker<br />APOTIK PERMATAApoteker : ROBERT TUNGGADI S.Si,M.Si,AptAlamat : Jl.Aloe SaboeTanggal : 30 des 09 No : 02Nama : Gledis ( 17 thn) 3 X 1 granul Etiket