SISTEM KLASIFIKASI
BIOFARMASETIKA / BCS
Teori dasar
 Kelarutan zat aktif
 Pelepasan zat aktif dari sediaan (formulasi) dlm btk terlarut
(Disolusi)
kelarutan Permeabilitas
Kelas I tinggi* tinggi
Kelas II** rendah tinggi
Kelas III tinggi* rendah
Kelas IV rendah rendah
* kelarutan zat aktif tinggi dan terlarut dgn cepat (formulasi)
** jika Do rendah ~ kemungkinan besar ada korelasi In vitro / in
vivo
DEFINISI
 model eksperimental yang mengukur
permeabilitas dan kelarutan suatu zat dalam
kondisi tertentu
 Sistem ini dibuat untuk pemberian obat secara
oral.
 Untuk melewati studi bioekivalen secara in
vivo, suatu obat harus memenuhi persyaratan
kelarutan dan permeabilitas yang tinggi
TUJUAN BCS
 Meningkatkan efisiensi pengembangan obat dan
proses peninjauan dengan merekomendasikan
strategi untuk mengidentifikasi uji bioekivalensi.
 Merekomendasikan kelas pelepasan cepat dari
bentuk sediaan padat oral yang secara bioekivalensi
dapat dinilai berdasarkan uji disolusi in vitro.
 Merekomendasikan suatu metode untuk klasifikasi
yang sesuai dengan disolusi bentuk sediaan dengan
karakteristik kelarutan dan permeabilitas produk
obat.
Biopharmaceutics Classification System
• BCS is a scientific framework for classifying drug
substances based on their aqueous solubility and
intestinal permeability. When combined with the
dissolution of the drug product, BCS takes into
account three major factors that govern the rate and
extent of absorption from IR solid oral dosage forms:
dissolution, solubility and intestinal permeability.
BCS Guidance:
For IR drug products, non-NTI drug products
Biopharmaceutics Classification System
Drug Substance
Solubility
Permeability
High
High
Drug Product Dissolution
Very Rapid
Low
Low
Rapid
Slow
MATERI 3. Sistem Klasifikasi Biofarmasetika (BCS).ppt
• menunjukkan penyerapan
yang tinggi dan disolusi yang
tinggi.
• Senyawa ini umumnya sangat
baik diserap.
• diformulasikan sebagai produk
dengan pelepasan segera, laju
disolusi umumnya melebihi
pengosongan lambung
Kelas I :
Metoprolol,
Diltiazem,
Verapamil,
Propranolol.
hampir 100% penyerapan (setidaknya 85% dari produk larut dalam 30
menit dalam pengujian disolusi in vitro dalam berbagai nilai pH),
oleh karena itu data bioekivalensi in vivo tidak diperlukan untuk
menjamin perbandingan produk
• memiliki daya serap yang tinggi
tetapi laju disolusi rendah.
• Dalam disolusi obat secara in vivo
maka tingkat penyerapan terbatas
kecuali dalam jumlah dosis yang
sangat tinggi.
Kelas II :
Fenitoin,
Danazol,
Ketokonazol,
asam
mefenamat,
Nifedipine.
• Penyerapan obat untuk kelas II biasanya lebih lambat daripada
kelas I dan terjadi selama jangka waktu yang lama
• Korelasi in vitro-in vivo (IVIVC) biasanya diterima untuk obat kelas
II.
• Permeabilitas obat berpengaruh
pada tingkat penyerapan obat,
namun obat ini mempunyai laju
disolusi sangat cepat
• Obat ini menunjukkan variasi yang
tinggi dalam tingkat penyerapan
obat.
Kelas III:
Simetidin,
Acyclovir,
Neomycin B,
Captopril
• Karena pelarutan yang cepat, variasi ini disebabkan perubahan
permeabilitas membran fisiologi dan bukan faktor bentuk
sediaan tersebut.
• Jika formulasi tidak mengubah permeabilitas atau waktu durasi
pencernaan, maka kriteria kelas I dapat diterapkan
• Senyawa ini memiliki
bioavailabilitas yang buruk.
Biasanya mereka tidak diserap
dengan baik dalam mukosa usus.
• Senyawa ini tidak hanya sulit
untuk terdisolusi tetapi sekali
didisolusi, sering menunjukkan
permeabilitas yang terbatas di
mukosa GI.
Kelas IV : taxol,
hydroclorthiazia
de, furosemid.
Cenderung sangat sulit diformulasikan
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BCS
•Laju disolusi
•Kelarutan
•Permeabilitas
Disolusi
• USP : suatu produk obat dikatakan cepat melarut jika tidak
kurang dari 85% dari jumlah berlabel bahan obat larut dalam
waktu 30 menit
Kelarutan
• menentukan kesetimbangan kelarutan suatu obat dalam kondisi
pH fisiologis
• Profil kelarutan obat pada 37 ± 1oC dalam media air dengan
rentang pH 1-7,5
Permeabilitas :
• didasarkan langsung pada tingkat penyerapan usus suatu obat
pada manusia atau tidak langsung pada pengukuran laju
perpindahan massa melintasi membran usus manusia
• sangat permeabel ketika tingkat penyerapan pada manusia
adalah 90% atau lebih dari dosis yang diberikan, berdasarkan
pada keseimbangan massa atau dibandingkan dengan dosis
pembanding intravena
 Permeabilitas zat aktif tinggi
 Bioavailabilitas Absolut ≳ 90%
 Nilai kesetimbangan kembali (Mass Balance
Recovery) ≳ 90%
 metode in vitro
 Permeabilitas (apparent) tergantung pada:
 Transpot perlintasan dinding sal.cerna
 Tempat absorbsi (Site of Absorption)
 Obat hrs berupa larutan pd tempat abs.
 Obat berada (kontak) didaerah abs.selama waktu
tertentu
BCS dari zat aktif
 kelas 1 : kelarutan dalam air tinggi, permeabilitas dalam usus tinggi
 kelas 2 : kelarutan dalam air rendah, permeabilitas dalam usus tinggi
 kelas 3: kelarutan dalam air tinggi, permeabilitas dalam usus rendah
 kelas 4 : kelarutan dalam air rendah, permeabilitas dalam usus rendah
Kelarutan dalam air tinggi (dari zat aktif)
Jika dosis tertinggi yang direkomendasi WHO (jika terdapat dalam
daftar obat esensial WHO) atau kekuatan dosis tertinggi (yang ada
dipasar) dari obat larut dalam ≤250 ml media air pada kisaran pH 1,2
s/d 6,8 pada suhu 37±1°C. Penentuan kelarutan pada setiap pH harus
dilakukan minimal triplo.
Permeabilitas dalam usus tinggi(dari zat aktif)
Jika absorpsi pada manusia ≥85% dibandingkan dosis intravena dari
pembandingnya.
15
BCS dijelaskan melalui 3 bilangan/angka :
 An ~ bil. Abs. (absorption number)
 Do ~ bil. Dosis (dose number)
 Dn ~ bil.Disolusi (dissolution number)
Bilangan Absorbsi
Fungsi permeabilitas sal.cerna dgn senyawa obat
 
ABS
GI
GI
eff
T
T
T
R
P
An 







 
ABS
GI
GI
eff
T
T
T
R
P
An 







Effective permeability
Radius of GI
Residence time in GI
Time required for
complete absorption
 An < 1.15
 F < 0.90
 Permeability ~ Low
F(solution) vs An
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22
An
F
A n
e
F 2
1 


BA in the absence of formulation factors
 An ≳ 1.15
 F ≳ 0.90
 Permeability ~ High
F(solution) vs An
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22
An
F
A n
e
F 2
1 


BA in the absence of formulation factors
Bilangan Dosis
fungsi kelarutan senyawa obat











S
W ater
C
V
D
Do
D / Vwater >> CS ~ High Do  kelarutan tinggi
D / Vwater << CS ~ Low Do  kelarutan rendah
Solubility
Issues
Highest Dose Unit
250 mL
Solubility
Solubility
mg/mL
  



















DISS
GI
GI
S
T
T
T
C
r
D
Dn

2
3
Diffusivity
5x10-6 cm2/s
Density
1.2 mg/cm3
Particle Radius
25 mm
Residence time in GI
180 min
Time required for
complete dissolution
Dissolution Number
A function of drug release from formulation
 Larutan (Oral) ~ F = f(perm) ⇨ An
First pass metabolism (variability)
Low g.i. permeability (variability)
 Solid (Oral)
 F dpt lbh kecil dari hasil prediksi nilai An
Kelarutan zat aktif
Pelepasan zat aktif ~ Disolusi
formulasi
diabaikan
Zat sukar larut / pelepasan lambat
A & B
A B
Dn ~ 0.69 ~ 0.36
Dose (mg) 400 2.5
Vwater (L) 0.250 0.250
CS (mg/L) 32 17
Poorly Soluble Drugs / Slowly Releasing Products
A & B
In 250mL water – Initial gastric volume
A B
Dn ~ 0.69 ~ 0.36
Dose (mg) 400 2.5
Vwater (L) 0.250 0.250
CS (mg/L) 32 17
Do 50 0.59
Max dissolved (mg) 8.0 mg (D =400mg) 4.25 mg (D = 2.5mg)
Poorly Soluble Drugs / Slowly Releasing Products
A & B
Mechanism Equilibrium Kinetic
(Solubility-Limited) (Dissolution Rate-Limited)
A B
Dn ~ 0.69 ~ 0.36
Dose (mg) 400 2.5
Vwater (L) 0.250 0.250
CS (mg/L) 32 17
Poorly Soluble Drugs / Slowly Releasing Products
A & B
A B
Dn ~ 0.69 ~ 0.36
Dose (mg) 400 2.5
Vwater (L) 0.250 0.250
CS (mg/L) 32 17
Papp > 14 < 6
Class II Class IV
Do Dn An
Kelas I Low * High * * High
Kelas II*** Low * Low High
Kelas II High Low High
Kelas III Low * High * * Low
Kelas IV Low * Low Low
Kelas IV High Low Low
* Highly-soluble substance * * Rapidly-releasing formulation
*** In vitro / in vivo correlation (IVIVC) highly probable
Aplikasi – BE & korelasi in vivo-in vitro
Do Dn An
Class I Low * High * * High
Class III Low * High * * Low
* Highly-soluble substance * * Rapidly-releasing formulation
*** In vitro / in vivo correlation (IVIVC) highly probable
Class I – No 1st Pass ~ Bioequivalent
Class III & Class I + 1st Pass ~ Bioequivalent if Powered Properly
Do Dn An
Class II*** Low * Low High
Class II High Low High
Class IV Low * Low Low
Class IV High Low Low
* Highly-soluble substance * * Rapidly-releasing formulation
*** In vitro / in vivo correlation (IVIVC) highly probable
Class II ~ Bioequivalent if dissolution data match
at pH 1, pH 4.5, Ph 6.8 (If 1st pass ~ Power Properly)
Highest probably of IVIVC ~ Especially of Do is low
Low Dn (slow release) can result from Equilibrium (solubility),
Kinetic (dissolution rate),or Formulation Limitations
Do Dn An
Class II Low Low High
Class II High Low High
Class IV Low Low Low
Class IV High Low Low
Slow release (low Dn) due to:
Slow Releasing Formulation ~ Might be a Freely Soluble Substance
(Low Do)
Any Formulation ~ Kinetic (Dissolution Rated Limited) Substance
Any Formulation ~ Equilibrium (Solubility Limited) Substance (High Do)
KESIMPULAN
 Optimalisasi faktor-2 yg dpt mempengaruhi
BA, BE, atau korelasi IVIV; pemilihan zat
aktif, pertimbangan formulasi, proses
 Penentuan klasifikasi biofarmasetika (BCS)
 kelarutan ~ Dose Number [Do]
 pelepasan ~ Dissolution Number [Dn]
 permeabilitas ~ Absorption Number [An]
High Dn
Class I
High Do Low Do
IVIVC >
Low Dn
Class II
High An
Class I or II
High Dn
Class III
Low Dn
Class IV
Low An
Class III or IV
Test Drug
High Permeability Low Permeability
BE
Dissolution predicts PK
BE if Dissolution =
BE
Variability
Hipotesa berdasarkan hasil penelitian
 Class I drug products are bioequivalent
 First Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues
 Class II drug products are usually bioequivalent
if dissolution profiles match (pH 1, pH 4.5, pH
6.8)
 If first Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues
 Certain excipients might alter g.i. permeability (???)
 Class III drug products are bioequivalent if study
is powered account for variability
 Lower permeability = higher variability ~Design Issues
 If first Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues
 Certain excipients alter g.i. permeability
 Class IV drug products are often unpredictable
 Class I drug products are bioequivalent
 First Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues
 Certain excipients might alter g.i. permeability (???)
 Guidance permits BE waiver
 Class II drug products are usually bioequivalent
if dissolution profiles match (pH 1, pH 4.5, pH
6.8)
 If first Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues
 Certain excipients might alter g.i. permeability (???)
 Class II drugs that employ surfactant ?

More Related Content

PDF
BCS kelas 1
PPT
Biofarmasetika i
PPTX
Konstanta dielektrik
PPTX
sediaan kapsul
PPT
Pertemuan 1 cpob (tek.solid)
PPT
FARMAKOKINETIK NON LINIER
PPTX
farmasetika dasar
BCS kelas 1
Biofarmasetika i
Konstanta dielektrik
sediaan kapsul
Pertemuan 1 cpob (tek.solid)
FARMAKOKINETIK NON LINIER
farmasetika dasar

What's hot (20)

PPT
FARMAKOKINETIKA_INFUS_INTRAVENA 10-11.ppt
PDF
Sistem penghantaran obat tubuh
DOC
79188922 cara-perhitungan-waktu-daluarsa
PPTX
Biofarmasi Sediaan yang Diberikan Melalui Rektum
PPTX
Sediaan obat Kapsul
PPTX
9. perhitungan isotonis.pptx
PPTX
Metode pembuatan emulsi
DOCX
Bab iii laporan granul paracetamol
PPTX
Parameter Nonspesifik Ekstrak (Fitokimia)
PPT
Pengadaan obat.ppt
PPTX
Rangkuman dan Pembahasan Contoh Soal Farmasetika Dasar
PDF
PENGATURAN DOSIS PADA PEDIATRIK, GERIATRIK DAN OBESITAS
PDF
BIOFARMASI SEDIAAN YANG DIBERIKAN MELALUI PARU : AEROSOL
PPTX
Kuliah 2 farmakope
PPT
7.KAPSUL.ppt
PPTX
Alkaloid
PPTX
Farmakokinetika pengaturan dosis
PPTX
mikromiretik
PPTX
Pengendalian mutu-simplisia-dan-ekstrak
PDF
Farmakokinetik Teofilin
FARMAKOKINETIKA_INFUS_INTRAVENA 10-11.ppt
Sistem penghantaran obat tubuh
79188922 cara-perhitungan-waktu-daluarsa
Biofarmasi Sediaan yang Diberikan Melalui Rektum
Sediaan obat Kapsul
9. perhitungan isotonis.pptx
Metode pembuatan emulsi
Bab iii laporan granul paracetamol
Parameter Nonspesifik Ekstrak (Fitokimia)
Pengadaan obat.ppt
Rangkuman dan Pembahasan Contoh Soal Farmasetika Dasar
PENGATURAN DOSIS PADA PEDIATRIK, GERIATRIK DAN OBESITAS
BIOFARMASI SEDIAAN YANG DIBERIKAN MELALUI PARU : AEROSOL
Kuliah 2 farmakope
7.KAPSUL.ppt
Alkaloid
Farmakokinetika pengaturan dosis
mikromiretik
Pengendalian mutu-simplisia-dan-ekstrak
Farmakokinetik Teofilin
Ad

Similar to MATERI 3. Sistem Klasifikasi Biofarmasetika (BCS).ppt (8)

PPTX
Biopharmaceutical Clasification System.pptx
PPTX
pengantar biofarmasetikaMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM
PPT
ASPEK BIOFARMASI - RANCANG BANGUN OBAT.ppt
PPTX
Biofarmasetika (Pendahuluan)
PPTX
KONSEP DASAR BIOFARMASETIKA (BIOAVAILABILITAS DAN BIOEKIVALENSI).pptx
PPTX
MATERI BIOAVAILABILITAS DAN BIOEKIVALENSI.pptx
PPTX
KULIAH KAPSEL 1, KULIAH KAPSEL 1, KULIAH KAPSEL 1
Biopharmaceutical Clasification System.pptx
pengantar biofarmasetikaMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM
ASPEK BIOFARMASI - RANCANG BANGUN OBAT.ppt
Biofarmasetika (Pendahuluan)
KONSEP DASAR BIOFARMASETIKA (BIOAVAILABILITAS DAN BIOEKIVALENSI).pptx
MATERI BIOAVAILABILITAS DAN BIOEKIVALENSI.pptx
KULIAH KAPSEL 1, KULIAH KAPSEL 1, KULIAH KAPSEL 1
Ad

Recently uploaded (20)

PDF
MRT Tangguh, Indonesia Maju: Mewujudkan Transportasi Publik yang Aman, Nyaman...
PDF
BukuKeterampilanMengajar-MNCPublishing2019.pdf
PDF
PPT Evaluasi Keseluruhan Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
PPTX
KKA - MODUL 1 Berpikir Komputasional.pptx
PPTX
Desain ojt 1 koding dan kecerdasan artificial .pptx
PPTX
893548301-Panduan-Kokurikuler-Tahun_2025.pptx
DOCX
Modul Ajar Deep Learning PKWU Pengelolaan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
PDF
Aminullah Assagaf_Ch3&4_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
PPTX
Kokurikuler_Berbasis_Proyek_Lintas_Disiplin_ilmu.pptx
PDF
Asal-usul Postmodernitas & materi singkat.pdf
PDF
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
PPTX
Pembelajaran Mendalam sekolah kepala sekolah
PDF
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
PDF
Modul Ajar Deep Learning Bahasa Inggris Kelas 1 Kurikulum Merdeka
DOCX
Modul Ajar Deep Learning Fisika Kelas 12 SMA Terbaru 2025
PPTX
Digital Marketing Dasar Untuk Pemula.pptx
PDF
Analisis dan Evaluasi Kemasan Produk Teknik dan Faktor Penilaian
PPTX
Merancang dan Mengelola PESAN dalam Komunikasi Pemasaran di Era Digital 4.0_W...
PDF
PPT Materi Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
PDF
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika.pdf
MRT Tangguh, Indonesia Maju: Mewujudkan Transportasi Publik yang Aman, Nyaman...
BukuKeterampilanMengajar-MNCPublishing2019.pdf
PPT Evaluasi Keseluruhan Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
KKA - MODUL 1 Berpikir Komputasional.pptx
Desain ojt 1 koding dan kecerdasan artificial .pptx
893548301-Panduan-Kokurikuler-Tahun_2025.pptx
Modul Ajar Deep Learning PKWU Pengelolaan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
Aminullah Assagaf_Ch3&4_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
Kokurikuler_Berbasis_Proyek_Lintas_Disiplin_ilmu.pptx
Asal-usul Postmodernitas & materi singkat.pdf
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
Pembelajaran Mendalam sekolah kepala sekolah
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Deep Learning Bahasa Inggris Kelas 1 Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Deep Learning Fisika Kelas 12 SMA Terbaru 2025
Digital Marketing Dasar Untuk Pemula.pptx
Analisis dan Evaluasi Kemasan Produk Teknik dan Faktor Penilaian
Merancang dan Mengelola PESAN dalam Komunikasi Pemasaran di Era Digital 4.0_W...
PPT Materi Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika.pdf

MATERI 3. Sistem Klasifikasi Biofarmasetika (BCS).ppt

  • 2. Teori dasar  Kelarutan zat aktif  Pelepasan zat aktif dari sediaan (formulasi) dlm btk terlarut (Disolusi) kelarutan Permeabilitas Kelas I tinggi* tinggi Kelas II** rendah tinggi Kelas III tinggi* rendah Kelas IV rendah rendah * kelarutan zat aktif tinggi dan terlarut dgn cepat (formulasi) ** jika Do rendah ~ kemungkinan besar ada korelasi In vitro / in vivo
  • 3. DEFINISI  model eksperimental yang mengukur permeabilitas dan kelarutan suatu zat dalam kondisi tertentu  Sistem ini dibuat untuk pemberian obat secara oral.  Untuk melewati studi bioekivalen secara in vivo, suatu obat harus memenuhi persyaratan kelarutan dan permeabilitas yang tinggi
  • 4. TUJUAN BCS  Meningkatkan efisiensi pengembangan obat dan proses peninjauan dengan merekomendasikan strategi untuk mengidentifikasi uji bioekivalensi.  Merekomendasikan kelas pelepasan cepat dari bentuk sediaan padat oral yang secara bioekivalensi dapat dinilai berdasarkan uji disolusi in vitro.  Merekomendasikan suatu metode untuk klasifikasi yang sesuai dengan disolusi bentuk sediaan dengan karakteristik kelarutan dan permeabilitas produk obat.
  • 5. Biopharmaceutics Classification System • BCS is a scientific framework for classifying drug substances based on their aqueous solubility and intestinal permeability. When combined with the dissolution of the drug product, BCS takes into account three major factors that govern the rate and extent of absorption from IR solid oral dosage forms: dissolution, solubility and intestinal permeability. BCS Guidance: For IR drug products, non-NTI drug products
  • 6. Biopharmaceutics Classification System Drug Substance Solubility Permeability High High Drug Product Dissolution Very Rapid Low Low Rapid Slow
  • 8. • menunjukkan penyerapan yang tinggi dan disolusi yang tinggi. • Senyawa ini umumnya sangat baik diserap. • diformulasikan sebagai produk dengan pelepasan segera, laju disolusi umumnya melebihi pengosongan lambung Kelas I : Metoprolol, Diltiazem, Verapamil, Propranolol. hampir 100% penyerapan (setidaknya 85% dari produk larut dalam 30 menit dalam pengujian disolusi in vitro dalam berbagai nilai pH), oleh karena itu data bioekivalensi in vivo tidak diperlukan untuk menjamin perbandingan produk
  • 9. • memiliki daya serap yang tinggi tetapi laju disolusi rendah. • Dalam disolusi obat secara in vivo maka tingkat penyerapan terbatas kecuali dalam jumlah dosis yang sangat tinggi. Kelas II : Fenitoin, Danazol, Ketokonazol, asam mefenamat, Nifedipine. • Penyerapan obat untuk kelas II biasanya lebih lambat daripada kelas I dan terjadi selama jangka waktu yang lama • Korelasi in vitro-in vivo (IVIVC) biasanya diterima untuk obat kelas II.
  • 10. • Permeabilitas obat berpengaruh pada tingkat penyerapan obat, namun obat ini mempunyai laju disolusi sangat cepat • Obat ini menunjukkan variasi yang tinggi dalam tingkat penyerapan obat. Kelas III: Simetidin, Acyclovir, Neomycin B, Captopril • Karena pelarutan yang cepat, variasi ini disebabkan perubahan permeabilitas membran fisiologi dan bukan faktor bentuk sediaan tersebut. • Jika formulasi tidak mengubah permeabilitas atau waktu durasi pencernaan, maka kriteria kelas I dapat diterapkan
  • 11. • Senyawa ini memiliki bioavailabilitas yang buruk. Biasanya mereka tidak diserap dengan baik dalam mukosa usus. • Senyawa ini tidak hanya sulit untuk terdisolusi tetapi sekali didisolusi, sering menunjukkan permeabilitas yang terbatas di mukosa GI. Kelas IV : taxol, hydroclorthiazia de, furosemid. Cenderung sangat sulit diformulasikan
  • 12. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BCS •Laju disolusi •Kelarutan •Permeabilitas
  • 13. Disolusi • USP : suatu produk obat dikatakan cepat melarut jika tidak kurang dari 85% dari jumlah berlabel bahan obat larut dalam waktu 30 menit Kelarutan • menentukan kesetimbangan kelarutan suatu obat dalam kondisi pH fisiologis • Profil kelarutan obat pada 37 ± 1oC dalam media air dengan rentang pH 1-7,5 Permeabilitas : • didasarkan langsung pada tingkat penyerapan usus suatu obat pada manusia atau tidak langsung pada pengukuran laju perpindahan massa melintasi membran usus manusia • sangat permeabel ketika tingkat penyerapan pada manusia adalah 90% atau lebih dari dosis yang diberikan, berdasarkan pada keseimbangan massa atau dibandingkan dengan dosis pembanding intravena
  • 14.  Permeabilitas zat aktif tinggi  Bioavailabilitas Absolut ≳ 90%  Nilai kesetimbangan kembali (Mass Balance Recovery) ≳ 90%  metode in vitro  Permeabilitas (apparent) tergantung pada:  Transpot perlintasan dinding sal.cerna  Tempat absorbsi (Site of Absorption)  Obat hrs berupa larutan pd tempat abs.  Obat berada (kontak) didaerah abs.selama waktu tertentu
  • 15. BCS dari zat aktif  kelas 1 : kelarutan dalam air tinggi, permeabilitas dalam usus tinggi  kelas 2 : kelarutan dalam air rendah, permeabilitas dalam usus tinggi  kelas 3: kelarutan dalam air tinggi, permeabilitas dalam usus rendah  kelas 4 : kelarutan dalam air rendah, permeabilitas dalam usus rendah Kelarutan dalam air tinggi (dari zat aktif) Jika dosis tertinggi yang direkomendasi WHO (jika terdapat dalam daftar obat esensial WHO) atau kekuatan dosis tertinggi (yang ada dipasar) dari obat larut dalam ≤250 ml media air pada kisaran pH 1,2 s/d 6,8 pada suhu 37±1°C. Penentuan kelarutan pada setiap pH harus dilakukan minimal triplo. Permeabilitas dalam usus tinggi(dari zat aktif) Jika absorpsi pada manusia ≥85% dibandingkan dosis intravena dari pembandingnya. 15
  • 16. BCS dijelaskan melalui 3 bilangan/angka :  An ~ bil. Abs. (absorption number)  Do ~ bil. Dosis (dose number)  Dn ~ bil.Disolusi (dissolution number)
  • 17. Bilangan Absorbsi Fungsi permeabilitas sal.cerna dgn senyawa obat   ABS GI GI eff T T T R P An        
  • 18.   ABS GI GI eff T T T R P An         Effective permeability Radius of GI Residence time in GI Time required for complete absorption
  • 19.  An < 1.15  F < 0.90  Permeability ~ Low F(solution) vs An 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 An F A n e F 2 1    BA in the absence of formulation factors
  • 20.  An ≳ 1.15  F ≳ 0.90  Permeability ~ High F(solution) vs An 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 An F A n e F 2 1    BA in the absence of formulation factors
  • 21. Bilangan Dosis fungsi kelarutan senyawa obat            S W ater C V D Do D / Vwater >> CS ~ High Do  kelarutan tinggi D / Vwater << CS ~ Low Do  kelarutan rendah Solubility Issues Highest Dose Unit 250 mL Solubility
  • 22. Solubility mg/mL                       DISS GI GI S T T T C r D Dn  2 3 Diffusivity 5x10-6 cm2/s Density 1.2 mg/cm3 Particle Radius 25 mm Residence time in GI 180 min Time required for complete dissolution Dissolution Number A function of drug release from formulation
  • 23.  Larutan (Oral) ~ F = f(perm) ⇨ An First pass metabolism (variability) Low g.i. permeability (variability)  Solid (Oral)  F dpt lbh kecil dari hasil prediksi nilai An Kelarutan zat aktif Pelepasan zat aktif ~ Disolusi formulasi diabaikan
  • 24. Zat sukar larut / pelepasan lambat A & B A B Dn ~ 0.69 ~ 0.36 Dose (mg) 400 2.5 Vwater (L) 0.250 0.250 CS (mg/L) 32 17
  • 25. Poorly Soluble Drugs / Slowly Releasing Products A & B In 250mL water – Initial gastric volume A B Dn ~ 0.69 ~ 0.36 Dose (mg) 400 2.5 Vwater (L) 0.250 0.250 CS (mg/L) 32 17 Do 50 0.59 Max dissolved (mg) 8.0 mg (D =400mg) 4.25 mg (D = 2.5mg)
  • 26. Poorly Soluble Drugs / Slowly Releasing Products A & B Mechanism Equilibrium Kinetic (Solubility-Limited) (Dissolution Rate-Limited) A B Dn ~ 0.69 ~ 0.36 Dose (mg) 400 2.5 Vwater (L) 0.250 0.250 CS (mg/L) 32 17
  • 27. Poorly Soluble Drugs / Slowly Releasing Products A & B A B Dn ~ 0.69 ~ 0.36 Dose (mg) 400 2.5 Vwater (L) 0.250 0.250 CS (mg/L) 32 17 Papp > 14 < 6 Class II Class IV
  • 28. Do Dn An Kelas I Low * High * * High Kelas II*** Low * Low High Kelas II High Low High Kelas III Low * High * * Low Kelas IV Low * Low Low Kelas IV High Low Low * Highly-soluble substance * * Rapidly-releasing formulation *** In vitro / in vivo correlation (IVIVC) highly probable Aplikasi – BE & korelasi in vivo-in vitro
  • 29. Do Dn An Class I Low * High * * High Class III Low * High * * Low * Highly-soluble substance * * Rapidly-releasing formulation *** In vitro / in vivo correlation (IVIVC) highly probable Class I – No 1st Pass ~ Bioequivalent Class III & Class I + 1st Pass ~ Bioequivalent if Powered Properly
  • 30. Do Dn An Class II*** Low * Low High Class II High Low High Class IV Low * Low Low Class IV High Low Low * Highly-soluble substance * * Rapidly-releasing formulation *** In vitro / in vivo correlation (IVIVC) highly probable Class II ~ Bioequivalent if dissolution data match at pH 1, pH 4.5, Ph 6.8 (If 1st pass ~ Power Properly) Highest probably of IVIVC ~ Especially of Do is low Low Dn (slow release) can result from Equilibrium (solubility), Kinetic (dissolution rate),or Formulation Limitations
  • 31. Do Dn An Class II Low Low High Class II High Low High Class IV Low Low Low Class IV High Low Low Slow release (low Dn) due to: Slow Releasing Formulation ~ Might be a Freely Soluble Substance (Low Do) Any Formulation ~ Kinetic (Dissolution Rated Limited) Substance Any Formulation ~ Equilibrium (Solubility Limited) Substance (High Do)
  • 32. KESIMPULAN  Optimalisasi faktor-2 yg dpt mempengaruhi BA, BE, atau korelasi IVIV; pemilihan zat aktif, pertimbangan formulasi, proses  Penentuan klasifikasi biofarmasetika (BCS)  kelarutan ~ Dose Number [Do]  pelepasan ~ Dissolution Number [Dn]  permeabilitas ~ Absorption Number [An]
  • 33. High Dn Class I High Do Low Do IVIVC > Low Dn Class II High An Class I or II High Dn Class III Low Dn Class IV Low An Class III or IV Test Drug High Permeability Low Permeability BE Dissolution predicts PK BE if Dissolution = BE Variability
  • 34. Hipotesa berdasarkan hasil penelitian  Class I drug products are bioequivalent  First Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues  Class II drug products are usually bioequivalent if dissolution profiles match (pH 1, pH 4.5, pH 6.8)  If first Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues  Certain excipients might alter g.i. permeability (???)
  • 35.  Class III drug products are bioequivalent if study is powered account for variability  Lower permeability = higher variability ~Design Issues  If first Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues  Certain excipients alter g.i. permeability  Class IV drug products are often unpredictable
  • 36.  Class I drug products are bioequivalent  First Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues  Certain excipients might alter g.i. permeability (???)  Guidance permits BE waiver  Class II drug products are usually bioequivalent if dissolution profiles match (pH 1, pH 4.5, pH 6.8)  If first Pass Metabolism ~ Variability ~ Design Issues  Certain excipients might alter g.i. permeability (???)  Class II drugs that employ surfactant ?

Editor's Notes