MODEL
TRANSPORTASI
( Metode Batu Loncatan
/Stepping Stone )
PENJELASAN
Metode ini merupakan metode yang
digunakan untuk menguji soluasi awal yang
telah dilakukan sebelumnya baik metode
NWC, Least Cost, maupun VAM. Hal ini
dikarenakan solusi awal belum menjamin
biaya transptelah optimal, untuk itu
diperlukan pengujian lebih lanjut dengan
menggunakan solusi optimal.
Ada dua metode yang digunakan untuk
mendapat solusi optimal, yaitu :
1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone)
2. Metode MODI ( Modified Distribution
Method)
Suatu kasus pengujian dengan kedua metode
tersebut dikatakan telah optimal apabila
sudah tidak ada lagi penghematan biaya
(tanda negatif) pada prose eksekusi
menggunakan kedua metode tersebut.
1. Langah-langkah metode batu
loncatan (Stepping Stoen).
a. Mencari sel yang kosong
b. Melakukan loncatan pada sel yang terisi.
Keterangan :
1) Loncatan dapat dilakukan secara
vertikel/horizontal.
2) Dalam suatu loncatan tidak boleh dilakukan lebih
dari satu kali loncatan pada baris/kolom yang
sama tersebut.
3) Loncatan dapat dilakukan melewati sel lain
selama sel tersebut terisi.
4). Setelah loncatan pada baris, langkah selanjutnya
loncatan pada kolom dan sebaliknya.
5). Jumlah loncatan bersifat genap (dapat berjumlah
4,6,8 dst.
6). Perhatikan sela yang terisi pada loncatan
berikutnya untuk memastikan proses tersebut
tidak terhambat.
c. Lakukan perhitungan biaya pada sel yang kosong
tersebut, dimulai dari sel yang kosong.
d. Apabila semua telah bernilai positif berarti solusi awal
yang telah dikerjakan sebelumnya telah menghasilkan
biaya transportasi minimum, tetapi apabila masih
terdapat nilai negatif, maka dicari nilai negatif terbesar
(penghematan terbesar).
e. Apabila terdapat tanda negatif, alokasikan produk
dengan melihat proses d, akan tetapi yang dilihat
adalah isi dari sel tersebut. Tambahkan dan kurangkan
dengan isi sel negatif terkecil pada seluruh sel.
f. Lakukan langkah yang sama dengan mengulangi dari
langkah b sampai hasil perhitungan biaya tidak ada
yang bernilai negatif.
Sebelum dilakukan pengujian
menggunakan solusi optimum harus
dipastikan tidak terdapat degenerasi dan
redundansi. Degenerasi dan redundansi
maksudnya tidak terpenuhinya syarat
pengujian bahwa sel yang terisi harus
memenuhi syarat m + n – 1 (m=baris,
n=kolom). Pada degenerasi sel yang
terisi kurang dari persyaratan yang
ditentukan, sedangkan redundansi sel
yang terisi melebih persyaratan yang
ditentukan.
Selanjutnya dengan menggunakan solusi
awal yang telah dikerjakan sebelumnya
(NWC) dilakukan pengujian
menggunakan solusi optimal
menggunakan metode batu loncatan
untuk memastikan apakah biaya
transportasi tersebut telah minimum.
Pada kasus ini tidak terjadi degenerasi
dan redundansi, karena jumlah sel yang
terisi 5 dan memenuhi persyaratan (3 +
3 – 1 = 5).
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
6.00
30
1.000
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
X
6
400
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Alokasi Produk dari Pabrik ke daerah pemasaran menurut
metode sudut barat laut (north west corne rules) dan
biaya transportasinya sbb
Dari Ke Jumlah Biaya per
unit
Biaya (Rp)
Jakarta Cirebon 2.400 16.000 38.400.000
Bekasi Cirebon 600 30.000 18.000.000
Bekasi Bandung 1.000 20.000 20.000.000
Tangerang Bandung 400 18.000 7.200.000
Tangerang Sukabumi 1.200 20.000 24.000.000
Total Biaya 107.600.000
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
6.00
30
1.000
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
X
6
400
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE-1
Sel yang kosong adalah (J-B); (J-S);(B-S);
dan (T-C). Pergerakan batu loncatan
dimulai dari sel yang kosong (Jakarta-
Bandung) menuju ke Jakarta –Cirebon
selanjutnya ke Bekasi-Cirebon dan
terakhir ke Bekasi-Bandung sebelum
akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
6.00
30
1.000
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
X
6
400
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Jakarta- Sukabumi) menuju ke
(Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke (Bekasi-
Bandung), kemudian menuju ke (Tangerang-
Bandung) ke (Bekasi-Bandung), ke
(Tangerang-Bandung) dan terakhir
(Tangerang-Sukabumi) sebelum akhirnya
kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
6.00
30
1.000
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
X
6
400
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai
dari sel yang kosong (Bekasi-
Sukabumi) ke (Bekasi-Bandung) ke
Tangerang Bandung dan terakhir ke
(Tangerang-Sukabumi) sebelum
akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
600
30
1.000
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
X
6
400
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai
dari sel yang kosong (Tangerang-
Cirebon) ke (Tangerang-Bandung) ke
(Bekasi Bandung) dan terakhir ke
(Bekasi-Cirebon) sebelum akhirnya
kembali ke sel semula.
Sel yang Kosong,
J-B = 10-16+30-20 = 4
J-S = 12-16+30-20+18-20 = 4
B-S = 24-20+18-20 = 2
T-C = 20-30+6-18 = -22
Nilai tersebut yang terendah(nilai
negatif) adalah -22 pada sel TC
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
600-400
30
1.000+400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
400-400
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
200
30
1.400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
X
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
200
30
1.400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
X
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAN KE-2
SEL KOSONG ADALAH (J-B); (J-S); (B-S); (T-B)
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
200
30
1.400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
X
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Jakarta- Bandung) menuju
ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke
(Bekasi-Cirebon), dan terakhir ke (Bekasi-
Bandung), sebelum akhirnya kembali ke
sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
200
30
1.400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
X
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Jakarta- Sukabumi) menuju
ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke
(Tangerangi-Cirebon), dan terakhir ke
(Tangerang-Sukabumi), sebelum
akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
200
30
1.400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
X
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Bekasi - Sukabumi) menuju
ke (Tangerang–Cirebon) selanjutnya ke
(Tangerangi-Cirebon), dan terakhir ke
(Tangerang-Sukabumi), sebelum
akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
200
30
1.400
20
X
24
1.600
Bekasi
Pabrik
400
6
X
18
1.200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Tangerang-Bandung)
menuju ke (Bekasi-Bandung) selanjutnya
ke (Bekasi-Cirebon), dan terakhir ke
(Tangerang-Cirebon), sebelum akhirnya
kembali ke sel semula.
Sel yang Kosong,
J-B = 10-16+30-20 = 4
J-S = 12-16+30-24 = -18
B-S = 24-30+ 6-20 = -20
T-B = 18-20+30-6 = 22
Masih Nilai yang terendah(nilai negatif)
yaitu -20 pada sel TB
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik 200-
200
30
1.400
20
(0+200)
24
1.600
Bekasi
Pabrik 400+
200
6
X
18 1.200-
200
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
600
6
X
18
1.000
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
SEL YANG KOSONG (J-B); (J-S); (B-C); (T-B)
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
600
6
X
18
1.000
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE 3
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Jakarta- Bandung) menuju ke
(Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke
(Tangerang-Cirebon), kemudian menuju ke
(Tangerang-Sukabumi) ke (Bekasi-
Sukabumi), dan terakhir ke (Bekasi-Bandung)
sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
600
6
X
18
1.000
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE 3
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Jakarta- Sukabumi) menuju
ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke
(Tangerang-Cirebon), dan terakhir
menuju ke (Tangerang-Sukabumi)
sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
600
6
X
18
1.000
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE 3
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Bekasi-Cirebon) menuju ke
(Tangerang–Cirebon) selanjutnya ke
(Tangerang-Sukabumi), dan terakhir
menuju ke (Bekasi-Sukabumi) sebelum
akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
2.400
16
X
10
X
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
600
6
X
18
1.000
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE 3
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Tangerang-Bandung)
menuju ke (Tangerang–Sukabumi)
selanjutnya ke (Bekasi-Sukabumi), dan
terakhir menuju ke (Bekasi-Bandung)
sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
Sel yang Kosong,
J-B = 10-16+6-20+24-20 = -16
J-S = 12-16+6-20 = -18
B-C = 30-6+20-24 = 20
T-B = 18-20+24-20 = 2
Masih Nilai yang terendah(nilai negatif)
yaitu -18 pada sel TB
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik 2.400
-1000
16
X
10
X (0+1000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik 600+
1000
6
X
18 1.000-
1000
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
1.400
16
X
10
1.000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
1.600
6
X
18
X
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
1.400
16
X
10
1.000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
1.600
6
X
18
X
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE-4
SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Jakarta-Bandung) menuju
ke (Bekasi-Bandung) selanjutnya ke
(Bekasi-Sukabumi), dan terakhir menuju
ke (Jakarta-Sukabumi) sebelum
akhirnya kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
1.400
16
X
10
1.000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
1.600
6
X
18
X
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
PERCOBAAN KE-4
SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Bekasi-Cirebon) menuju ke
(Bekasi-Sukabumi) selanjutnya ke
(Jakarta-Sukabumi), dan terakhir menuju
ke (Jakarta-Cirebon) sebelum akhirnya
kembali ke sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
1.400
16
X
10
1.000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
1.600
6
X
18
X
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Tangerang-Bandung)
menuju ke (Bekasi-Bandung) selanjutnya
ke (Bekasi-Sukabumi) selanjutnya
(Jakarta-Sukabumi), ke (Jakarta-Cirebon)
dan terakhir menuju ke (Tangerang-
Cirebon) sebelum akhirnya kembali ke
sel semula.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
1.400
16
X
10
1.000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
1.600
6
X
18
X
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel
yang kosong (Tangerang- Sukabumi)
menuju ke (Jakarta-Cirebon) dan terakhir
menuju ke (Tangerang-Cirebon)
sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
Sel yang Kosong,
J-B = 10- -20+24-12 = 2
B-C = 30-24+12-16 = 2
T-B = 18-20+24-12+16-6 = 20
T-S = 20-12+16-6 = 18
Hasil perhitungan tidak ditemukan nilai
negatif (penghematan biaya), maka proses
eksekusi telah selesai.
Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi
Kapasitas
Pabrik
Pabrik
1.400
16
X
10
1.000
12
2.400
Jakarta
Pabrik
X
30
1.400
20
200
24
1.600
Bekasi
Pabrik
1.600
6
X
18
X
20
1.600
Tangerang
Kebutuhan
Pasar
3.000 1.400 1.200 5.600
Ke
Dari
Alokasi Produk dari Pabrik ke daerah pemasaran
menurut metode Batu Loncatan (Stepping Stone) dan
biaya transportasinya sbb
Dari Ke Jumlah Biaya per
unit
Biaya (Rp)
Jakarta Cirebon 1.400 16.000 22.400.000
Jakarta Sukabumi 1.000 12.000 12.000.000
Bekasi Bandung 1.400 20.000 28.000.000
Bekasi Sukabumi 200 24.000 4.800.000
Tangerang Cirebon 1.600 6.000 9.600.000
Total Biaya 76.800.000
Metode stepping stone

More Related Content

PPTX
Metode stepping stone revisi
PPTX
Metode transportasi
PPTX
Model transportasi metode least cost
PPT
Metode Transportasi.ppt transportasi transport
PPTX
Metode transportasi
PPTX
Model transportasi metode vam
PPTX
LP SIMPLEKS KASUS MINIMISASI.pptx
Metode stepping stone revisi
Metode transportasi
Model transportasi metode least cost
Metode Transportasi.ppt transportasi transport
Metode transportasi
Model transportasi metode vam
LP SIMPLEKS KASUS MINIMISASI.pptx

What's hot (20)

PPTX
Metode Transportasi (Masalah dalam Metode Transportasi)
PPTX
4. metode transportasi
PDF
Riset operasi
DOC
Contoh soal Metode Simpleks
PDF
Probabilitas 2
PPTX
Penerapan fungsi non linier
PPT
Contoh soal Teori antrian khusus Poisson
PPT
Statistika Probabilitas
PDF
Modul statistika-ii-part-2
DOC
8. manajemen-persediaan
PPTX
Matematika bisnis-kel-8
PPTX
Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti
PPTX
STATISTIKA-Regresi dan korelasi
PPTX
Matematika Ekonomi - surplus konsumen dan surplus produsen
PPTX
Pert. 2.optimisasi ekonomi
PDF
VARIABEL RANDOM & DISTRIBUSI PELUANG
PPT
Distribusi sampling
PDF
Tugas UAS Rangkuman Riset Operasi
PPTX
Statistik_ Angka Indeks
PPT
Mi+ +bab+3+metode+transportasi
Metode Transportasi (Masalah dalam Metode Transportasi)
4. metode transportasi
Riset operasi
Contoh soal Metode Simpleks
Probabilitas 2
Penerapan fungsi non linier
Contoh soal Teori antrian khusus Poisson
Statistika Probabilitas
Modul statistika-ii-part-2
8. manajemen-persediaan
Matematika bisnis-kel-8
Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti
STATISTIKA-Regresi dan korelasi
Matematika Ekonomi - surplus konsumen dan surplus produsen
Pert. 2.optimisasi ekonomi
VARIABEL RANDOM & DISTRIBUSI PELUANG
Distribusi sampling
Tugas UAS Rangkuman Riset Operasi
Statistik_ Angka Indeks
Mi+ +bab+3+metode+transportasi
Ad

Similar to Metode stepping stone (8)

PPTX
METODE STEPPING STONE (BATU LONCATANA) REVISI.pptx
PPT
Model_Transportasi indonesia baik digunakan.ppt
DOCX
Bab i stepping stone
PPTX
Pengecekan keoptimalan solusi
PPTX
Transportasi
PDF
Model transportasi (0 0)gasal1213 PERMODELAN
PPTX
ITP UNS SEMESTER 2 Ro transportasi 1
PPTX
5-Metode Transportasi.pptx
METODE STEPPING STONE (BATU LONCATANA) REVISI.pptx
Model_Transportasi indonesia baik digunakan.ppt
Bab i stepping stone
Pengecekan keoptimalan solusi
Transportasi
Model transportasi (0 0)gasal1213 PERMODELAN
ITP UNS SEMESTER 2 Ro transportasi 1
5-Metode Transportasi.pptx
Ad

More from UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU (20)

PPTX
KESEIMBANGAN 9 PASAR BARANG DAN PASAR UANG.pptx
PPTX
PENILAIAN KINERJA (SUMBER DAYA MANSUAI) NEW.pptx
PPTX
5Orientasi_dan_Penempatan_Tenaga_Kerja.pptx
PPTX
ORIENTASI-PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA.pptx
PPTX
SELEKSI SUMBER DAYA MANUSIA (KARYAWAN).pptx
PPTX
REKRUITMEN DAN SELEKSI (SDM)TERBARU.pptx
PPTX
REKRUITMEN DAN SELEKSI ( MANAJEMEN SDM )- NEW.pptx
PPTX
2. DESAIN PEKERJAAN (MANAJEMEN SDM).pptx
PPTX
PERTEMUAN II PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIS.pptx
PPTX
PERTEMUAN I PERSPEKTIF MANAJEMEN SDM.pptx
PPTX
ANALISI KESEMBANGAN PASAR UANG (KURVA LM).pptx
PPTX
ANALISI KESEMBANGAN PASAR UANG [Autosaved].pptx
PPTX
PEREKONIMIAN EMPAT SEKTOR [Autosaved].pptx
PPTX
ANALISIS SENSITIVITAS (POST OPTIMUM )SIMPLEKS-NEW.pptx
PPTX
ANALISIS SENSITIVITAS SIMPLEKS-TERBARU.pptx
PPTX
MULTIFLIER INVESTASI (EFEK PENGGANDA.pptx
PPTX
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA(PERFECT COMPETITION).pptx
PPTX
Teori_Ekonomi_Mikro_TEORI_PERILAKU_PRODU.pptx
PPTX
pertemuan-12_-penerapan-diferensial-sederhana.pptx
PPTX
TEORI MODERN PERDAGANGAN INTERNASIONAL.pptx
KESEIMBANGAN 9 PASAR BARANG DAN PASAR UANG.pptx
PENILAIAN KINERJA (SUMBER DAYA MANSUAI) NEW.pptx
5Orientasi_dan_Penempatan_Tenaga_Kerja.pptx
ORIENTASI-PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA.pptx
SELEKSI SUMBER DAYA MANUSIA (KARYAWAN).pptx
REKRUITMEN DAN SELEKSI (SDM)TERBARU.pptx
REKRUITMEN DAN SELEKSI ( MANAJEMEN SDM )- NEW.pptx
2. DESAIN PEKERJAAN (MANAJEMEN SDM).pptx
PERTEMUAN II PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIS.pptx
PERTEMUAN I PERSPEKTIF MANAJEMEN SDM.pptx
ANALISI KESEMBANGAN PASAR UANG (KURVA LM).pptx
ANALISI KESEMBANGAN PASAR UANG [Autosaved].pptx
PEREKONIMIAN EMPAT SEKTOR [Autosaved].pptx
ANALISIS SENSITIVITAS (POST OPTIMUM )SIMPLEKS-NEW.pptx
ANALISIS SENSITIVITAS SIMPLEKS-TERBARU.pptx
MULTIFLIER INVESTASI (EFEK PENGGANDA.pptx
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA(PERFECT COMPETITION).pptx
Teori_Ekonomi_Mikro_TEORI_PERILAKU_PRODU.pptx
pertemuan-12_-penerapan-diferensial-sederhana.pptx
TEORI MODERN PERDAGANGAN INTERNASIONAL.pptx

Recently uploaded (20)

PDF
Modul Ajar Deep Learning Pendidikan Pancasila Kelas 6 Kurikulum Merdeka
PDF
Materi Sosialisasi OMI Jawa Timur 2025.pdf
PDF
PPT Evaluasi Keseluruhan Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
PPT
Inkuiri Kolaboratif bagi guru di Satuan Pendidikan .ppt
DOCX
Modul Ajar Deep Learning Fisika Kelas 12 SMA Terbaru 2025
PPTX
Pola Pikir Bertumbuh Pembelajaran Mendalam.pptx
PDF
PPT OJT 1. KODING DAN KECERDASAN ARTIFISIAL INTELEGENSI
PPTX
Kokurikuler_Berbasis_Proyek_Lintas_Disiplin_ilmu.pptx
PDF
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
PDF
Laktasi dan Menyusui (MK Askeb Esensial Nifas, Neonatus, Bayi, Balita dan Ana...
PDF
Modul Ajar Deep Learning Bahasa Inggris Kelas 1 Kurikulum Merdeka
PPTX
KKA - MODUL 1 Berpikir Komputasional.pptx
PDF
2. ATP Fase F - PA. Islam (1)-halaman-1-digabungkan.pdf
PPTX
Desain ojt 1 koding dan kecerdasan artificial .pptx
PDF
RPM BAHASA INDONESIA KELAS 7 TEKS DESKRIPSI.pdf
PDF
Analisis dan Evaluasi Kemasan Produk Teknik dan Faktor Penilaian
PPTX
Merancang dan Mengelola PESAN dalam Komunikasi Pemasaran di Era Digital 4.0_W...
DOCX
Modul Ajar Deep Learning PKWU Pengelolaan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
PDF
Faktor-Faktor Pergeseran dari Pemasaran Konvensional ke Pemasaran Modern
PDF
Buku Teks KSSM Sains Sukan Tingkatan Empat
Modul Ajar Deep Learning Pendidikan Pancasila Kelas 6 Kurikulum Merdeka
Materi Sosialisasi OMI Jawa Timur 2025.pdf
PPT Evaluasi Keseluruhan Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
Inkuiri Kolaboratif bagi guru di Satuan Pendidikan .ppt
Modul Ajar Deep Learning Fisika Kelas 12 SMA Terbaru 2025
Pola Pikir Bertumbuh Pembelajaran Mendalam.pptx
PPT OJT 1. KODING DAN KECERDASAN ARTIFISIAL INTELEGENSI
Kokurikuler_Berbasis_Proyek_Lintas_Disiplin_ilmu.pptx
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
Laktasi dan Menyusui (MK Askeb Esensial Nifas, Neonatus, Bayi, Balita dan Ana...
Modul Ajar Deep Learning Bahasa Inggris Kelas 1 Kurikulum Merdeka
KKA - MODUL 1 Berpikir Komputasional.pptx
2. ATP Fase F - PA. Islam (1)-halaman-1-digabungkan.pdf
Desain ojt 1 koding dan kecerdasan artificial .pptx
RPM BAHASA INDONESIA KELAS 7 TEKS DESKRIPSI.pdf
Analisis dan Evaluasi Kemasan Produk Teknik dan Faktor Penilaian
Merancang dan Mengelola PESAN dalam Komunikasi Pemasaran di Era Digital 4.0_W...
Modul Ajar Deep Learning PKWU Pengelolaan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
Faktor-Faktor Pergeseran dari Pemasaran Konvensional ke Pemasaran Modern
Buku Teks KSSM Sains Sukan Tingkatan Empat

Metode stepping stone

  • 1. MODEL TRANSPORTASI ( Metode Batu Loncatan /Stepping Stone )
  • 2. PENJELASAN Metode ini merupakan metode yang digunakan untuk menguji soluasi awal yang telah dilakukan sebelumnya baik metode NWC, Least Cost, maupun VAM. Hal ini dikarenakan solusi awal belum menjamin biaya transptelah optimal, untuk itu diperlukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakan solusi optimal.
  • 3. Ada dua metode yang digunakan untuk mendapat solusi optimal, yaitu : 1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone) 2. Metode MODI ( Modified Distribution Method) Suatu kasus pengujian dengan kedua metode tersebut dikatakan telah optimal apabila sudah tidak ada lagi penghematan biaya (tanda negatif) pada prose eksekusi menggunakan kedua metode tersebut.
  • 4. 1. Langah-langkah metode batu loncatan (Stepping Stoen). a. Mencari sel yang kosong b. Melakukan loncatan pada sel yang terisi. Keterangan : 1) Loncatan dapat dilakukan secara vertikel/horizontal. 2) Dalam suatu loncatan tidak boleh dilakukan lebih dari satu kali loncatan pada baris/kolom yang sama tersebut. 3) Loncatan dapat dilakukan melewati sel lain selama sel tersebut terisi.
  • 5. 4). Setelah loncatan pada baris, langkah selanjutnya loncatan pada kolom dan sebaliknya. 5). Jumlah loncatan bersifat genap (dapat berjumlah 4,6,8 dst. 6). Perhatikan sela yang terisi pada loncatan berikutnya untuk memastikan proses tersebut tidak terhambat. c. Lakukan perhitungan biaya pada sel yang kosong tersebut, dimulai dari sel yang kosong.
  • 6. d. Apabila semua telah bernilai positif berarti solusi awal yang telah dikerjakan sebelumnya telah menghasilkan biaya transportasi minimum, tetapi apabila masih terdapat nilai negatif, maka dicari nilai negatif terbesar (penghematan terbesar). e. Apabila terdapat tanda negatif, alokasikan produk dengan melihat proses d, akan tetapi yang dilihat adalah isi dari sel tersebut. Tambahkan dan kurangkan dengan isi sel negatif terkecil pada seluruh sel. f. Lakukan langkah yang sama dengan mengulangi dari langkah b sampai hasil perhitungan biaya tidak ada yang bernilai negatif.
  • 7. Sebelum dilakukan pengujian menggunakan solusi optimum harus dipastikan tidak terdapat degenerasi dan redundansi. Degenerasi dan redundansi maksudnya tidak terpenuhinya syarat pengujian bahwa sel yang terisi harus memenuhi syarat m + n – 1 (m=baris, n=kolom). Pada degenerasi sel yang terisi kurang dari persyaratan yang ditentukan, sedangkan redundansi sel yang terisi melebih persyaratan yang ditentukan.
  • 8. Selanjutnya dengan menggunakan solusi awal yang telah dikerjakan sebelumnya (NWC) dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal menggunakan metode batu loncatan untuk memastikan apakah biaya transportasi tersebut telah minimum. Pada kasus ini tidak terjadi degenerasi dan redundansi, karena jumlah sel yang terisi 5 dan memenuhi persyaratan (3 + 3 – 1 = 5).
  • 9. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 6.00 30 1.000 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik X 6 400 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 10. Alokasi Produk dari Pabrik ke daerah pemasaran menurut metode sudut barat laut (north west corne rules) dan biaya transportasinya sbb Dari Ke Jumlah Biaya per unit Biaya (Rp) Jakarta Cirebon 2.400 16.000 38.400.000 Bekasi Cirebon 600 30.000 18.000.000 Bekasi Bandung 1.000 20.000 20.000.000 Tangerang Bandung 400 18.000 7.200.000 Tangerang Sukabumi 1.200 20.000 24.000.000 Total Biaya 107.600.000
  • 11. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 6.00 30 1.000 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik X 6 400 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE-1
  • 12. Sel yang kosong adalah (J-B); (J-S);(B-S); dan (T-C). Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta- Bandung) menuju ke Jakarta –Cirebon selanjutnya ke Bekasi-Cirebon dan terakhir ke Bekasi-Bandung sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 13. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 6.00 30 1.000 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik X 6 400 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 14. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta- Sukabumi) menuju ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke (Bekasi- Bandung), kemudian menuju ke (Tangerang- Bandung) ke (Bekasi-Bandung), ke (Tangerang-Bandung) dan terakhir (Tangerang-Sukabumi) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 15. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 6.00 30 1.000 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik X 6 400 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 16. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Bekasi- Sukabumi) ke (Bekasi-Bandung) ke Tangerang Bandung dan terakhir ke (Tangerang-Sukabumi) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 17. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 600 30 1.000 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik X 6 400 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 18. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Tangerang- Cirebon) ke (Tangerang-Bandung) ke (Bekasi Bandung) dan terakhir ke (Bekasi-Cirebon) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 19. Sel yang Kosong, J-B = 10-16+30-20 = 4 J-S = 12-16+30-20+18-20 = 4 B-S = 24-20+18-20 = 2 T-C = 20-30+6-18 = -22 Nilai tersebut yang terendah(nilai negatif) adalah -22 pada sel TC
  • 20. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 600-400 30 1.000+400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 400-400 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 21. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200 30 1.400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 X 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 22. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200 30 1.400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 X 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAN KE-2 SEL KOSONG ADALAH (J-B); (J-S); (B-S); (T-B)
  • 23. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200 30 1.400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 X 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 24. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta- Bandung) menuju ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke (Bekasi-Cirebon), dan terakhir ke (Bekasi- Bandung), sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 25. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200 30 1.400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 X 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 26. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta- Sukabumi) menuju ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke (Tangerangi-Cirebon), dan terakhir ke (Tangerang-Sukabumi), sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 27. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200 30 1.400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 X 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 28. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Bekasi - Sukabumi) menuju ke (Tangerang–Cirebon) selanjutnya ke (Tangerangi-Cirebon), dan terakhir ke (Tangerang-Sukabumi), sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 29. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200 30 1.400 20 X 24 1.600 Bekasi Pabrik 400 6 X 18 1.200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 30. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Tangerang-Bandung) menuju ke (Bekasi-Bandung) selanjutnya ke (Bekasi-Cirebon), dan terakhir ke (Tangerang-Cirebon), sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 31. Sel yang Kosong, J-B = 10-16+30-20 = 4 J-S = 12-16+30-24 = -18 B-S = 24-30+ 6-20 = -20 T-B = 18-20+30-6 = 22 Masih Nilai yang terendah(nilai negatif) yaitu -20 pada sel TB
  • 32. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik 200- 200 30 1.400 20 (0+200) 24 1.600 Bekasi Pabrik 400+ 200 6 X 18 1.200- 200 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 33. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 600 6 X 18 1.000 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari SEL YANG KOSONG (J-B); (J-S); (B-C); (T-B)
  • 34. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 600 6 X 18 1.000 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE 3
  • 35. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta- Bandung) menuju ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke (Tangerang-Cirebon), kemudian menuju ke (Tangerang-Sukabumi) ke (Bekasi- Sukabumi), dan terakhir ke (Bekasi-Bandung) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 36. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 600 6 X 18 1.000 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE 3
  • 37. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta- Sukabumi) menuju ke (Jakarta–Cirebon) selanjutnya ke (Tangerang-Cirebon), dan terakhir menuju ke (Tangerang-Sukabumi) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 38. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 600 6 X 18 1.000 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE 3
  • 39. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Bekasi-Cirebon) menuju ke (Tangerang–Cirebon) selanjutnya ke (Tangerang-Sukabumi), dan terakhir menuju ke (Bekasi-Sukabumi) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 40. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 16 X 10 X 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 600 6 X 18 1.000 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE 3
  • 41. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Tangerang-Bandung) menuju ke (Tangerang–Sukabumi) selanjutnya ke (Bekasi-Sukabumi), dan terakhir menuju ke (Bekasi-Bandung) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 42. Sel yang Kosong, J-B = 10-16+6-20+24-20 = -16 J-S = 12-16+6-20 = -18 B-C = 30-6+20-24 = 20 T-B = 18-20+24-20 = 2 Masih Nilai yang terendah(nilai negatif) yaitu -18 pada sel TB
  • 43. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 2.400 -1000 16 X 10 X (0+1000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 600+ 1000 6 X 18 1.000- 1000 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 44. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 1.400 16 X 10 1.000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 1.600 6 X 18 X 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 45. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 1.400 16 X 10 1.000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 1.600 6 X 18 X 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE-4 SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
  • 46. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Jakarta-Bandung) menuju ke (Bekasi-Bandung) selanjutnya ke (Bekasi-Sukabumi), dan terakhir menuju ke (Jakarta-Sukabumi) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 47. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 1.400 16 X 10 1.000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 1.600 6 X 18 X 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari PERCOBAAN KE-4 SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
  • 48. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Bekasi-Cirebon) menuju ke (Bekasi-Sukabumi) selanjutnya ke (Jakarta-Sukabumi), dan terakhir menuju ke (Jakarta-Cirebon) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 49. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 1.400 16 X 10 1.000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 1.600 6 X 18 X 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
  • 50. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Tangerang-Bandung) menuju ke (Bekasi-Bandung) selanjutnya ke (Bekasi-Sukabumi) selanjutnya (Jakarta-Sukabumi), ke (Jakarta-Cirebon) dan terakhir menuju ke (Tangerang- Cirebon) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 51. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 1.400 16 X 10 1.000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 1.600 6 X 18 X 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari SEL KOSONG (J-B); (B-C); (T-B); (T-S)
  • 52. Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (Tangerang- Sukabumi) menuju ke (Jakarta-Cirebon) dan terakhir menuju ke (Tangerang-Cirebon) sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
  • 53. Sel yang Kosong, J-B = 10- -20+24-12 = 2 B-C = 30-24+12-16 = 2 T-B = 18-20+24-12+16-6 = 20 T-S = 20-12+16-6 = 18 Hasil perhitungan tidak ditemukan nilai negatif (penghematan biaya), maka proses eksekusi telah selesai.
  • 54. Pasar Cirebon Pasar Bandung Pasar Sukabumi Kapasitas Pabrik Pabrik 1.400 16 X 10 1.000 12 2.400 Jakarta Pabrik X 30 1.400 20 200 24 1.600 Bekasi Pabrik 1.600 6 X 18 X 20 1.600 Tangerang Kebutuhan Pasar 3.000 1.400 1.200 5.600 Ke Dari
  • 55. Alokasi Produk dari Pabrik ke daerah pemasaran menurut metode Batu Loncatan (Stepping Stone) dan biaya transportasinya sbb Dari Ke Jumlah Biaya per unit Biaya (Rp) Jakarta Cirebon 1.400 16.000 22.400.000 Jakarta Sukabumi 1.000 12.000 12.000.000 Bekasi Bandung 1.400 20.000 28.000.000 Bekasi Sukabumi 200 24.000 4.800.000 Tangerang Cirebon 1.600 6.000 9.600.000 Total Biaya 76.800.000